Stabilitas Ekonomi Indonesia Terjaga di Tengah Gejolak Global, Kata Deputi BI
Sumber Foto: periskop.id
Internasional

Stabilitas Ekonomi Indonesia Terjaga di Tengah Gejolak Global, Kata Deputi BI

Aspek News - Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, sebut Bank Indonesia jaga stabilitas ekonomi dan dorong pertumbuhan melalui kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran.

Reporter :

Editor : Pipit Ramadhani

Tayang pada :

Waktu Baca : ±2 menit

Jadi, Intinya Apa Sih?

Bank Indonesia menjaga stabilitas ekonomi dengan kebijakan moneter dan makroprudensial.

Koordinasi antar-pemangku kepentingan memastikan pertumbuhan ekonomi tetap stabil.

Kebijakan likuiditas makroprudensial berikan insentif Rp427,5 triliun untuk ekspansi kredit.

Ringkasan ini dihasilkan oleh AI dan telah diverifikasi oleh redaksi

Ukuran Font: 16px

periskop.id - Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti menegaskan bahwa di tengah ketidakpastian global yang terus bergelora mulai dari dinamika ekonomi internasional hingga gejolak geopolitik Indonesia tetap bergerak mantap.

"Bank Indonesia memegang peran strategis dalam menjaga stabilitas ekonomi sekaligus mendorong pertumbuhan nasional. Tidak hanya melalui kebijakan moneter, tetapi juga sistem pembayaran dan kebijakan makroprudensial yang saling mendukung,” ujarnya dalam agenda peluncuran buku Kajian Stabilitas Keuangan (KSK) secara online Jakarta, Jumat (27/2).

Menurut Destry, koordinasi dan sinergi antar-pemangku kepentingan menjadi kunci. Dengan arahan kebijakan yang jelas, seluruh institusi keuangan, regulator, dan pelaku bisnis bergerak seirama, memastikan arah pertumbuhan tetap pada jalurnya meski menghadapi guncangan global maupun domestik.

"Ini seperti satu kapal besar yang kita dayung bersama-sama semuanya fokus ke tujuan yang sama dengan satu kepemimpinan yang kokoh,” tambahnya.

BACA JUGA

BI Rate Naik, Properti hingga UMKM Diprediksi Mulai Tertekan dalam 3-6 Bulan ke Depan

15 Jun 2026

Ia menyebut salah satu instrumen utama yang dijalankan BI adalah kebijakan likuiditas makroprudensial (KLM). Dalam dua tahun terakhir, kebijakan ini telah memberikan total insentif hingga Rp427,5 triliun kepada bank yang menyalurkan kredit ke sektor prioritas, termasuk sektor inklusi dan produktif.

Dari sisi kesehatan sistem keuangan, Indonesia menunjukkan performa solid. Rasio alat likuiditas bank berada di 27,6%, sementara capital adequacy ratio mencapai 25,9% jauh di atas batas minimum yang ditetapkan 8%.

"Meskipun likuiditas bank tinggi, pertumbuhan kredit masih di bawah potensi, sehingga kebijakan BI terus mendorong ekspansi kredit yang produktif dan inklusif," terang dia.

BACA JUGA

BI-Rate Naik, Modal Asing Rp19,02 Triliun Masuk ke SRBI dan SBN

12 Jun 2026

Lebih lanjut, Destry menekankan kombinasi kebijakan moneter, sistem pembayaran, dan makroprudensial, dipadukan dengan kebijakan pendukung seperti keuangan hijau dan inklusi, membentuk fondasi yang kokoh bagi ekonomi Indonesia.

"Langkah strategis ini, kita tidak hanya menjaga stabilitas ekonomi dan sistem keuangan, tetapi juga mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan, meski menghadapi ketidakpastian global,” tuturnya.

Ia mengklaim, dengan komitmen yang kuat dan koordinasi seluruh pemangku kepentingan, Indonesia siap melaju ke masa depan yang lebih stabil, inklusif, dan produktif.

Maria Jessica Elvira Marus

Maria Jessica Elvira Marus adalah bagian dari tim redaksi Periskop.id.

Add as a preferred

source on Google

Ikuti Kami:

WhatsApp Google News

Bank Indonesia (BI) Ekonomi Indonesia gejolak global

Bagikan:

Sebelumnya

Kasus Hasutan Instagram, Jaksa Tuntut Delpedro Marhaen Dkk 2 Tahun Penjara

Selanjutnya

BI Dorong Kredit Produktif, Suku Bunga Pinjaman Makin Susut

Berita Terkait

BI Rate Naik, Properti hingga UMKM Diprediksi Mulai Tertekan dalam 3-6 Bulan ke Depan

BI-Rate Naik, Modal Asing Rp19,02 Triliun Masuk ke SRBI dan SBN

Usai Naikan BI Rate, BI Laporkan Nilai Tukar Rupiah Menguat Dilevel Rp17.875 Per Dolar AS

Bank Dunia: Inflasi RI Terjaga Meski Risiko Meningkat

Tinggalkan Komentar

Kirim Komentar

Komentar