UMMI dan Aisyiyah Bersama Wujudkan Kemandirian Pangan Melalui Lumbung Hidup
Aspek News - Kabupaten Sukabumi merupakan kabupaten terluas di Jawa dan Bali. Ia memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah, mulai dari pertanian, kehutanan, perikanan, perternakan hingga pertambangan.
Sektor pertanian menjadi mata pencaharian utama masyarakat dengan komoditas pangan, hortikultura, dan perkebunan yang tidak hanya memasok kebutuhan lokal, tetapi juga menjangkau Jakarta, Bandung, bahkan ekspor untuk beberapa komoditas buah dan florikultura.
Namun demikian, tantangan ketahanan pangan masyarakat masih menjadi persoalan serius. Prevalensi stunting di Kabupaten Sukabumi berdasarkan penelitian terkini masih berada pada kisaran 37 persen.
Penelitian tersebut juga memetakan kerentanan pangan masyarakat serta merumuskan strategi melalui analisis SWOT dan indeks kerentanan pangan.
Penelitian ini merekomendasikan strategi diversifikasi melalui optimalisasi ketersediaan pangan dan ternak, penyediaan lapangan kerja di sektor pertanian, serta pembatasan konversi lahan pertanian.
Dalam konteks tersebut, Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (PDA) Kabupaten Sukabumi bersama tim dosen Universitas Muhammadiyah Sukabumi (UMMI) melaksanakan program Pengabdian kepada Masyarakat.
Program tersebut mendapatkan pembiayaan melalui Hibah Riset Muhammadiyah (RisetMu) Batch IX Tahun 2025 dengan skema Pengabdian Berbasis Masyarakat.
Program ini mengusung judul Pendampingan Inkubasi Sosial Model Bisnis Kolaborasi Lumbung Hidup ‘Aisyiyah untuk Mewujudkan Kemandirian Pangan Keluarga dan Bisnis Komunitas.
Gerakan Lumbung Hidup ‘Aisyiyah (GLHA)
Gerakan Lumbung Hidup ‘Aisyiyah (GLHA) merupakan bagian dari program besar Majelis Kesejahteraan Sosial (MKS) dan Majelis Ekonomi dan Ketenagakerjaan (MEK) ‘Aisyiyah.
Lumbung Hidup merujuk pada kebun pangan hidup berupa sayur, buah, dan tanaman obat keluarga, budidaya hewan kecil seperti ayam dan ikan lele, serta pemanfaatan pekarangan atau lahan kosong secara produktif untuk dikonsumsi, dibagikan, maupun dijual.
Tujuan GLHA meliputi peningkatan ketahanan pangan keluarga dan komunitas, pemberdayaan perempuan dalam produksi pangan mandiri, hingga pengurangan angka stunting melalui penyediaan pangan bergizi. Selain itu juga ada program pengembangan ekonomi keluarga dari hasil panen berlebih, serta penumbuhan solidaritas sosial melalui berbagi hasil kepada yatim, dhuafa, dan lansia.
GLHA di PDA Kabupaten Sukabumi telah berjalan selama satu tahun di lima Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah (PCA). Lima PCA itu antara lain: PCA Jampang Tengah, PCA Geger Bitung, PCA Cipetir Girang, PCA Kadudampit, dan PCA Cisaat.
Aktivitas yang telah dilaksanakan meliputi pembangunan sarana dan prasarana serta produksi tahap awal. Dalam diversifikasi produk, PDA Kabupaten Sukabumi bahkan telah meraih Juara Harapan I tingkat Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah melalui inovasi MPASI dan Stun Cookies untuk pencegahan stunting.
Permasalahan dan Pendekatan Solusi
Meski memiliki potensi besar, pelaksanaan GLHA masih menghadapi beberapa tantangan. Permasalahan prioritas terletak pada manajemen sumber daya manusia dan optimalisasi produksi. Mulai dari aspek hulu (input produksi), on farm (budidaya), hingga hilir (pengolahan dan pemasaran). Manajemen kelompok wanita tani ‘Aisyiyah masih perlu ditingkatkan, termasuk dalam diversifikasi produk dan pemasaran.
Untuk menjawab tantangan tersebut, program pengabdian menghadirkan pendekatan bisnis model kolaborasi. Model ini menekankan penciptaan nilai bersama (value co-creation), kolaborasi konsumen, proses usaha yang terintegrasi, kemitraan pemasok, serta dampak ekonomi dan lingkungan. Pendekatan ini selaras dengan prinsip ekonomi hijau yang menjadi fokus tematik program.
Tiga solusi utama yang ditawarkan dalam program ini meliputi:
Pelatihan dan diklat penyusunan serta pemahaman bisnis model kolaborasi.
Pelatihan, praktik, dan pendampingan produksi dari hulu hingga hilir sesuai jenis tanaman dan potensi masing-masing PCA.
Pelatihan dan praktik pengolahan serta pemasaran hasil GLHA, baik secara langsung maupun digital.
Target capaian program meliputi peningkatan pengetahuan bisnis model hingga 80 persen, peningkatan praktik produksi menjadi 75 persen, peningkatan pengetahuan jenis tanaman hingga 80 persen, serta peningkatan pengolahan dan diversifikasi pangan hingga 75 persen.
Peran Akademisi dan Mahasiswa
Program ini melibatkan tiga dosen dengan kompetensi agribisnis dan pemasaran, manajemen bisnis dan keuangan, serta pendidikan biologi. Kompetensi tersebut mendukung penguatan aspek bisnis model, manajemen usaha, serta produksi dan budidaya tanaman. Selain itu, dua mahasiswa agribisnis turut terlibat sebagai fasilitator dan pendamping inkubasi GLHA.
Keterlibatan dosen dan mahasiswa menjadi bagian dari implementasi Indikator Kinerja Utama (IKU) perguruan tinggi dan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Mahasiswa memperoleh pengalaman lapangan dalam pemberdayaan masyarakat, manajemen produksi, serta pengelolaan usaha komunitas.
Roadmap Penguatan GLHA
Roadmap pengabdian dirancang selama tiga tahun. Tahun 2024 fokuskan pada pembentukan GLHA dan produksi tahap awal. Kemudian Tahun 2025–2026 memasuki tahap inkubasi dan peningkatan kapasitas manajemen, produksi, diversifikasi produk, serta pengelolaan. Sementara di Tahun 2027 ditargetkan penguatan GLHA sebagai amal usaha berkelanjutan yang mampu mewujudkan ketahanan pangan keluarga dan peningkatan ekonomi masyarakat.
Melalui sinergi antara akademisi dan Persyarikatan, pengabdian kepada masyarakat ini diharapkan mampu memperkuat GLHA menjadi gerakan yang ajeg, tangguh, serta memberikan manfaat luas bagi keluarga dan komunitas.
Program ini sekaligus mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) nomor 2 tentang Zero Hunger, Asta Cita nomor 8 terkait ketahanan pangan, serta agenda diversifikasi pangan dan penguatan sektor hilir menuju Indonesia Emas.
Gerakan Lumbung Hidup adalah langkah nyata membangun kemandirian dari hal yang paling dekat dengan kita: tanah dan tangan kita sendiri. Ia bukan sekadar upaya menanam dan memanen, tetapi gerakan menumbuhkan harapan, memperkuat ekonomi keluarga, serta menghadirkan ketahanan pangan yang berkelanjutan. Dari pekarangan yang dikelola dengan tekun, lahir bukan hanya hasil panen, tetapi juga rasa percaya diri bahwa keluarga mampu berdiri di atas kakinya sendiri.
Ketika gerakan ini dilakukan bersama, dampaknya meluas melampaui rumah tangga. Lumbung Hidup menjadi ruang gotong royong yang menguatkan komunitas, membuka peluang usaha kelompok, menggerakkan roda ekonomi masyarakat, serta menumbuhkan solidaritas sosial.
Di saat yang sama, kepedulian terhadap lingkungan menjadikan setiap langkah sebagai investasi bagi bumi dan generasi mendatang. Dengan menanam hari ini, kita sedang menjaga kehidupan esok hari—mewujudkan kesejahteraan yang tidak hanya dirasakan sekarang, tetapi terus berkelanjutan.




