Trump Serukan Rakyat Iran Ambil Alih Pemerintahan di Tengah Serangan AS-Israel
Aspek News - PIKIRAN RAKYAT - Amerika Serikat dan Israel serang Iran pada Sabtu, 28 Februari 2026, memicu eskalasi besar di Timur Tengah. Presiden AS, Donald Trump menyatakan operasi tempur skala besar sedang berjalan dan menyerukan warga Iran untuk “mengambil alih” pemerintahan mereka.
Ia menilai ini sebagai momen penting bagi publik Iran untuk menentukan arah negara, sekaligus menekan kepemimpinan Republik Islam yang berkuasa sejak Revolusi 1979.
Laporan media Iran menyebut serangan terjadi di berbagai wilayah. Sejumlah ledakan awal disebut menghantam area sekitar kantor Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei di Teheran.
Asap terlihat membumbung dari ibu kota, namun belum jelas apakah Khamenei berada di lokasi saat serangan berlangsung. Otoritas juga dilaporkan menutup akses jalan menuju kompleksnya di pusat kota, sementara ledakan lain terdengar di sejumlah titik.
Trump, lewat video pernyataan, menegaskan bahwa setelah operasi selesai, rakyat Iran harus “mengambil alih pemerintahan” karena kesempatan seperti ini “mungkin hanya datang sekali dalam beberapa generasi.” Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga menyampaikan tujuan serupa: operasi gabungan disebut ditujukan untuk menciptakan kondisi agar rakyat Iran dapat menentukan nasibnya sendiri.
Serangan ini menandai babak baru intervensi AS terhadap Iran, dan disebut sebagai kedua kalinya dalam delapan bulan pemerintahan Trump menggunakan kekuatan militer terhadap Republik Islam. Ketegangan sebelumnya meningkat ketika kapal-kapal perang AS bergerak ke kawasan, di tengah upaya diplomatik yang berlangsung melalui perundingan dan mediasi untuk membatasi program nuklir Iran.
Iran Diserang, Teheran Balas dengan Rudal dan Serang Pangkalan AS
Tak lama setelah Iran diserang, Teheran merespons sesuai ancaman berbulan-bulan: meluncurkan gelombang rudal dan drone ke arah Israel. Iran kemudian dilaporkan menargetkan fasilitas militer AS di Bahrain, Kuwait, dan Qatar. Sejumlah negara—termasuk Uni Emirat Arab dan Irak—menutup wilayah udaranya, sementara peringatan dan sirene terdengar di beberapa titik di kawasan.




