Surabaya Ditetapkan Sebagai Pusat Industri Perkapalan Nasional
RADAR SURABAYA BISNIS - PT PAL Indonesia menyebut konsolidasi BUMN galangan kapal akan mendorong Kota Surabaya menjadi poros utama perputaran ekonomi industri perkapalan di Indonesia.
“Kota Surabaya diproyeksikan akan menikmati multiplier effect yang signifikan seiring penunjukan PT PAL Indonesia sebagai lead konsolidasi galangan kapal nasional,” kata Direktur Utama PT PAL Indonesia Kaharuddin Djenod dikutip, Jumat (20/2/2026).
Kaharuddin mengatakan hal itu lantaran PT PAL yang ditunjuk sebagai lead konsolidasi berada di Kota Surabaya, sehingga akan menjadi titik sentral pergerakan industri maritim nasional. Mulai dari manufaktur, rantai pasok, hingga penyerapan tenaga kerja.
“Konsolidasi galangan juga akan mampu membentuk ekosistem industri yang saling terhubung mulai dari produsen baja, manufaktur komponen, sistem kelistrikan, hingga penyedia jasa desain dan rekayasa,” sambungnya.
Pemerintah melalui Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara memberikan mandat kepada PT PAL Indonesia untuk memimpin konsolidasi galangan kapal nasional guna memenuhi kebutuhan armada kapal dalam negeri.
Langkah itu menjadi bagian dari strategi besar pemerintah untuk mengurangi ketergantungan impor kapal yang selama ini masih dominan sekaligus membangun kemandirian dan daya saing industri maritim Indonesia.
Kaharuddin melanjutkan, konsolidasi difokuskan pada penguatan struktur industri, perbaikan kinerja keuangan, serta peningkatan daya saing galangan kapal nasional agar mampu memenuhi kebutuhan kapal dalam negeri yang terus meningkat.
“Yang sedang kami siapkan adalah pembentukan tim yang kuat dan berkapasitas untuk membangun industri maritim nasional. Konsolidasi bukan sekadar menggabungkan entitas, tetapi menyatukan kompetensi dan memperkuat organisasi,” ujar Kaharuddin.
Ia menegaskan penataan sumber daya manusia yang tengah dibahas dilakukan melalui mekanisme asesmen menyeluruh berbasis kompetensi dan kebutuhan industri.
Langkah tersebut bertujuan memastikan setiap insan galangan dapat ditempatkan sesuai kapasitasnya serta memperoleh ruang pengembangan yang lebih baik dalam struktur industri yang terintegrasi.
“Konsolidasi ini justru diharapkan membuka ruang produktivitas yang lebih luas, memperjelas pembagian peran antar-galangan, serta menciptakan kesinambungan pekerjaan dalam jangka panjang,” tambahnya.
Lebih jauh Kaharuddin menyampaikan, ketika galangan dalam negeri bergerak, rantai pasok ikut hidup, industri baja tumbuh, komponen diproduksi di dalam negeri, dan lapangan kerja tercipta.
“Inilah multiplier effect yang akan mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus memperkuat kemandirian bangsa,” tegasnya.
Konsolidasi galangan nasional diproyeksikan membentuk ekosistem industri yang saling terhubung mulai dari produsen baja, manufaktur komponen, sistem kelistrikan, hingga penyedia jasa desain dan rekayasa.
“Ketika produksi kapal meningkat, baik untuk kebutuhan BUMN, logistik energi, maupun pembangunan kapal ikan nasional, maka kebutuhan tenaga kerja akan meningkat secara berjenjang. Tidak hanya di galangan, tetapi juga di industri hulu dan hilir, termasuk sektor industri pendukung,” urainya.




