SOHO Global Health Ekspansi Bisnis ke Obat Tradisional dan Digital
Sumber Foto: Mureks
Ekonomi

SOHO Global Health Ekspansi Bisnis ke Obat Tradisional dan Digital

PT SOHO Global Health Tbk (SOHO) tengah bersiap untuk memperluas cakupan kegiatan usahanya, baik di tingkat induk perusahaan maupun melalui dua entitas anaknya, PT Soho Industri Pharmasi (SIP) dan PT Parit Padang Global (PPG). Rencana strategis ini akan dimintakan persetujuan kepada para pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang dijadwalkan pada 23 Februari 2026. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat operasional, memenuhi regulasi terbaru, dan membuka potensi pendapatan baru bagi perseroan.

Ekspansi bisnis ini mencakup penambahan lima Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) baru untuk SOHO sendiri, termasuk perdagangan eceran obat tradisional untuk manusia (KBLI 47723) serta berbagai jenis perdagangan eceran melalui media (KBLI 47911, 47914, 47919) dan berbasis kontrak (KBLI 47920). Penambahan ini bertujuan untuk memperkuat strategi penjualan langsung kepada konsumen akhir atau direct-to-consumer, yang sebelumnya dilakukan melalui pihak ketiga.

Artikel informatif lainnya dapat dibaca melalui Mureks. mureks.co.id

Sementara itu, anak usaha PT Soho Industri Pharmasi (SIP) akan menambahkan KBLI Pergudangan dan Penyimpanan (KBLI 52101) ke dalam Anggaran Dasar perusahaan. Selain itu, SIP juga akan mulai menjalankan kegiatan usaha Industri Bahan Baku Obat Tradisional untuk Manusia (KBLI 21021) secara operasional, yang sebelumnya sudah tercantum dalam Anggaran Dasar namun belum dimuat dalam perizinan Nomor Induk Berusaha (NIB). Dengan penambahan ini, SIP akan memiliki total 18 kegiatan usaha.

Di sisi lain, PT Parit Padang Global (PPG), anak usaha SOHO yang bergerak di bidang distribusi, akan menambahkan dua KBLI baru yang berfokus pada sektor teknologi. KBLI tersebut meliputi Aktivitas Pengembangan Aplikasi Perdagangan Melalui Internet (62012) dan Portal Web/Platform Digital dengan Tujuan Komersial (63122). Penambahan ini menjadi krusial untuk melegalkan operasional digital PPG, khususnya terkait aplikasi PPGOS yang telah mereka kelola, serta memenuhi regulasi Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) terkait izin Cara Distribusi Obat yang Baik bagi Penyelenggara Sistem Elektronik (PSE).

Direktur dan Sekretaris Perusahaan SOHO, Yuliana, menjelaskan bahwa kedua bisnis baru ini memiliki potensi pasar yang menjanjikan. Studi kelayakan yang dilakukan oleh Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP) Wawat Jatmika & Rekan menyatakan bahwa rencana transaksi ini “Layak” untuk dilaksanakan. Proyeksi menunjukkan pendapatan SIP pada tahun 2025 diperkirakan mencapai Rp1,63 triliun dan berpotensi meningkat menjadi Rp2,45 triliun pada tahun 2030. Laba bersih SIP juga diproyeksikan naik dari Rp247,52 miliar pada 2025 menjadi Rp478,29 miliar pada akhir 2030.

Manajemen SOHO menegaskan bahwa penambahan kegiatan usaha ini merupakan tindak lanjut atas surat dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) serta untuk memenuhi ketentuan Peraturan OJK Nomor 17/POJK.04/2020 tentang Transaksi Material dan Perubahan Kegiatan Usaha. Penambahan ini juga bersifat administratif untuk menyelaraskan legalitas Anggaran Dasar dengan kegiatan operasional digital yang sebenarnya sudah berjalan. Untuk mendukung operasionalnya, SIP akan dikelola oleh tim internal sekitar 10 orang dengan potensi penambahan tenaga kerja, sementara PPG telah menyiapkan tujuh tenaga ahli internal untuk pengelolaan platform digital.

Di pasar saham, harga saham SOHO telah menunjukkan pergerakan signifikan. Saham SOHO sempat melonjak lebih dari 400 persen dalam enam bulan terakhir dan 416 persen dalam setahun terakhir per Januari 2026. Bahkan, harga sahamnya pernah menyentuh level tertinggi Rp3.380 pada 15 Januari 2026. Bursa Efek Indonesia (BEI) sempat melakukan suspensi saham SOHO selama 12 hari perdagangan pada Oktober-November 2025 karena kenaikan harga yang signifikan, sebelum kemudian digeser ke Papan Full Call Auction (FCA) mulai 14 November 2025. Pada perdagangan 20 Februari 2026, saham SOHO terpantau turun 2,85% ke level Rp2.730, meskipun dalam tiga bulan terakhir telah mencatat kenaikan 94,31%.