SOHO Global Health Ekspansi Bisnis dengan Fokus Digital dan Obat Tradisional
Sumber Foto: Mureks
Ekonomi

SOHO Global Health Ekspansi Bisnis dengan Fokus Digital dan Obat Tradisional

PT SOHO Global Health Tbk (SOHO), emiten yang bergerak di sektor farmasi dan kesehatan, tengah bersiap untuk memperluas cakupan kegiatan usahanya. Langkah strategis ini tidak hanya akan dilakukan di tingkat induk perusahaan, tetapi juga melibatkan dua entitas anak perusahaan utamanya, yakni PT Soho Industri Pharmasi (SIP) dan PT Parit Padang Global (PPG).

Rencana ekspansi ini mencakup penambahan dan perubahan kegiatan usaha yang bertujuan untuk mengembangkan ruang lingkup bisnis secara terukur dan berkelanjutan, menciptakan sumber pendapatan baru, serta memperkuat posisi perseroan di pasar. Direksi SOHO Global Health menyatakan bahwa penambahan Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) ini juga dimaksudkan untuk memberikan dasar hukum bagi perseroan dalam melaksanakan kegiatan penjualan langsung kepada konsumen akhir di masa mendatang.

Baca liputan informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id

Fokus Ekspansi Induk Perusahaan dan Anak Usaha

Di tingkat induk, SOHO berencana merambah lima bidang usaha baru yang berfokus pada perdagangan eceran melalui media internet atau e-commerce. Produk yang akan diperdagangkan sangat beragam, mulai dari obat tradisional, makanan, minuman, kosmetik, hingga barang campuran. Langkah ini merupakan strategi untuk beralih dari penjualan melalui pihak ketiga menjadi penjualan langsung kepada konsumen (direct-to-consumer).

Sementara itu, PT Soho Industri Pharmasi (SIP), anak usaha yang 99,64% sahamnya dimiliki langsung oleh SOHO, akan menambahkan KBLI untuk bidang Pergudangan dan Penyimpanan ke dalam Anggaran Dasar perusahaan. Selain itu, SIP juga akan mulai menjalankan kegiatan usaha Industri Bahan Baku Obat Tradisional Untuk Manusia secara operasional, yang sebelumnya sudah tercantum dalam Anggaran Dasar namun belum dimuat dalam perizinan operasional (Nomor Induk Berusaha/NIB). Penambahan ini juga bertujuan untuk menyesuaikan izin dengan kegiatan operasional yang sudah berjalan dan memperoleh Tanda Daftar Gudang (TDG) agar fasilitas gudangnya dapat disewakan secara legal. Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Miftahul Khaer, menilai diversifikasi ini sebagai langkah strategis jangka menengah untuk memperkuat struktur bisnis dan membuka sumber pertumbuhan baru di luar produk jadi.

PT Parit Padang Global (PPG) juga tidak ketinggalan dalam adaptasi digital. PPG akan menambahkan dua kegiatan usaha baru di bidang teknologi, yaitu pengembangan aplikasi perdagangan melalui internet (KBLI 62012) dan pengoperasian portal web komersial (KBLI 63122). Penyesuaian ini sangat krusial untuk legalitas digital PPG, terutama dalam mengelola aplikasi SOHO bernama PPGOS, seiring dengan kewajiban dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) terkait izin Cara Distribusi Obat yang Baik bagi Penyelenggara Sistem Elektronik (PSE).

Proses Persetujuan dan Studi Kelayakan

Untuk merealisasikan rencana ini, SOHO Global Health akan meminta restu dari para pemegang saham melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang dijadwalkan berlangsung pada 23 Februari 2026. Keterbukaan informasi terkait rencana ini telah diterbitkan sejak 15 Januari 2026, dengan penambahan dan klarifikasi substansi pada 19 Februari 2026, sebagai pemenuhan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Republik Indonesia Nomor 17/POJK.04/2020 tentang Transaksi Material dan Perubahan Kegiatan Usaha.

Manajemen memastikan bahwa rentetan ekspansi ini telah melalui uji kelayakan. Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP) Wawat Jatmika & Rekan telah melakukan studi kelayakan bisnis per 14 Januari 2026, dan hasilnya menyatakan seluruh rencana penambahan bisnis induk dan anak usaha dinyatakan “LAYAK” (Feasible) dari berbagai aspek. Perusahaan juga tidak perlu merogoh kocek dalam-dalam, karena SOHO dan anak usahanya akan memaksimalkan sumber daya manusia dan infrastruktur internal yang sudah ada, sehingga kinerja keuangan perusahaan diproyeksikan tetap stabil tanpa beban biaya yang membengkak.

Miftahul Khaer menambahkan, “Diversifikasi ini sejalan dengan tren peningkatan konsumsi produk herbal nasional dan dorongan substitusi impor bahan baku farmasi.” Ia juga melihat adanya peluang pertumbuhan yang lebih baik ke depan yang secara teori dapat mendorong ekspektasi kenaikan harga saham. Sebagai informasi, SOHO mencatatkan kenaikan laba bersih sebesar 28,89% menjadi Rp 440,09 miliar per September 2025.