Sekolah di Taiwan Terapkan Program Bilingual Berbasis Kehidupan Mulai 2025
Sejalan dengan terus didorongnya Kebijakan Bilingual 2030, Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah di bawah Kementerian Pendidikan Taiwan sejak tahun ajaran 2025 mengintegrasikan berbagai langkah kebijakan untuk melaksanakan Program Sekolah Negeri Bilingual Berbasis Kehidupan. Program ini memberikan dukungan pendanaan sebesar NT$4,08 miliar kepada 22 pemerintah daerah, mendorong sekolah mengintegrasikan penggunaan dua bahasa secara alami ke dalam situasi di lingkungan sekolah, mulai dari pengelolaan administrasi hingga kegiatan siswa, sehingga bahasa tidak lagi terbatas pada ruang kelas, melainkan menjadi alat belajar yang digunakan setiap hari.
Saat ini, sebanyak 1.049 SD dan SMP di seluruh Taiwan telah berpartisipasi dalam program ini. Pembelajaran bilingual tidak lagi terbatas di ruang kelas, melainkan hadir secara alami ke seluruh sudut sekolah, mulai dari komunikasi administratif, kegiatan siswa hingga interaksi sehari-hari, membentuk suasana belajar bersama antara guru dan siswa serta menunjukkan hasil nyata dari pendalaman Kebijakan Bilingual 2030.
Untuk mendukung penerapan yang stabil, Direktorat Jenderal terus menghimpun pengalaman dari lapangan pendidikan melalui pendampingan profesional, dukungan sumber daya, dan mekanisme pertukaran pengalaman antarsekolah. SD Eksperimental Ximen di Kota Tainan, misalnya, mengintegrasikan pembelajaran bilingual ke dalam siaran pagi, aba-aba upacara, dan presentasi hasil belajar siswa. Sekolah juga mendorong siswa terjun ke komunitas sekitar sebagai pemandu multibahasa, sehingga ruang belajar meluas hingga ke luar sekolah.
Setiap sekolah mengembangkan jalur bilingual berbasis kehidupan yang berbeda sesuai dengan kondisi dan karakteristik siswanya. SMP Fushan di Kota Kaohsiung menargetkan terciptanya kehidupan sekolah yang bilingual dengan memadukan penataan lingkungan sekolah, kegiatan pembelajaran, dan sumber daya digital. Melalui buku audio bilingual, produksi konten audiovisual, serta aktivitas berbasis tantangan, sekolah menciptakan situasi pembelajaran imersif yang kemudian diperluas ke lingkungan keluarga dan masyarakat. Dengan interaksi nyata tersebut, siswa secara bertahap membangun rasa percaya diri dalam menggunakan bahasa.
Direktorat Jenderal menegaskan bahwa Program Sekolah Negeri Bilingual Berbasis Kehidupan dirancang secara menyeluruh dan berkesinambungan. Ke depan, program ini akan terus didukung melalui lokakarya peningkatan kapasitas, berbagi hasil praktik baik, serta evaluasi berkala, untuk mendampingi sekolah melangkah mantap dan menjadikan pembelajaran bilingual sebagai kekuatan sehari-hari bagi anak-anak dalam menjelajahi dunia.




