Penurunan Harga BBM dan Kenaikan UMK Dorong Pertumbuhan Ekonomi Bali
DENPASAR – Bank Indonesia (BI) Provinsi Bali menilai penurunan harga BBM nonsubsidi yang dibarengi kenaikan upah minimum kabupaten (UMK) menjadi kombinasi positif bagi iklim usaha di Pulau Dewata.
Turunnya biaya energi membantu menekan ongkos operasional pelaku usaha, sementara kenaikan UMK berpotensi meningkatkan daya beli masyarakat dan mendorong konsumsi domestik.
Dua faktor ini menciptakan efek ganda terhadap optimisme bisnis: dari sisi biaya produksi yang lebih efisien dan dari sisi permintaan yang lebih kuat.
Ket. Ilustrasi - Petugas mengisi tangki pendam untuk stok BBM di salah satu SPBU di Denpasar, Bali, Jumat (20/2/2026).
Jika tren ini konsisten, maka aktivitas perdagangan, pariwisata, dan sektor jasa di Bali berpeluang tumbuh lebih solid dalam jangka menengah.
“Indeks penjualan riil sebesar 124,2 yang tumbuh secara tahunan sebesar 6,5 persen dan masih berada di level optimis,” kata Kepala Perwakilan BI Bali Erwin Soeriadimadja di Denpasar, Jumat (20/2).
Sedangkan secara bulanan, kinerja penjualan eceran per Januari 2026 berdasarkan hasil Survei Penjualan Eceran (SPE) Bali juga tumbuh 0,9 persen diiringi optimisme pelaku usaha seiring penurunan harga BBM jenis Pertamax per 1 Januari 2026 dari Rp12.750 per liter menjadi Rp12.350 per liter.
Menurut survei bank sentral, pelaku usaha meyakini adanya dorongan berbelanja sejalan dengan kenaikan UMK sebesar tujuh persen di seluruh wilayah Bali.
Survei bulanan dilakukan BI terhadap 100 penjual eceran/pengecer di Kota Denpasar dan sekitarnya yang bertujuan untuk memperoleh informasi dini mengenai arah pergerakan pertumbuhan ekonomi dari sisi konsumsi.
Lebih lanjut Erwin menjelaskan, penjualan obat-obatan dan vitamin mengalami kenaikan permintaan yang disebabkan oleh peralihan cuaca, sehingga harga obat-obatan dan vitamin turut meningkat.
Pelaku usaha peralatan sekolah juga menunjukkan optimisme penjualan, karena adanya momentum peralihan tahun ajaran baru.
Bank sentral itu menambahkan terdapat enam sub sektor pembentuk Indeks Penjualan Riil (IPR) dengan pertumbuhan bulanan tertinggi pada kategori Barang Lainnya yaitu farmasi, kosmetik, elpiji untuk rumah tangga, dan barang kimia untuk rumah tangga dengan peningkatan sebesar 3,2 persen.
Kemudian Bahan Bakar Kendaraan Bermotor naik sebesar 3,2 persen, Sandang dengan peningkatan sebesar 2,6 persen, Peralatan Informasi dan Komunikasi naik sebesar 2,3 persen.
Selain itu, Barang Budaya dan Rekreasi mencakup alat tulis dan alat olahraga melonjak sebesar 2,3 persen serta Makanan, Minuman dan Tembakau yang terkerek sebesar 1,4 persen.
Adapun kinerja IPR di Bali yang bertumbuh, menurut dia, menunjukkan tingkat konsumsi masyarakat di Bali masih dalam tren positif.




