Pedagang Takjil Layani Semua Pembeli Tanpa Diskriminasi di Bulan Ramadan
Sumber Foto: Radar Jogja
Ragam Pandang

Pedagang Takjil Layani Semua Pembeli Tanpa Diskriminasi di Bulan Ramadan

Dalam suasana Ramadan yang penuh berkah, para pedagang takjil di Yogyakarta menunjukkan sikap inklusif dengan melayani semua pembeli, baik dari kalangan muslim maupun non-muslim. Salah satu contohnya adalah Nur Ariani, yang menjajakan makanan di kawasan Sorosutan, Umbulharjo. Lapak yang ia dirikan sering menjadi tujuan para pemburu takjil, termasuk di antaranya adalah warga non-muslim.

Nur mengungkapkan bahwa dia merasa senang ketika melihat warga non-muslim turut meramaikan tradisi berbuka puasa. "Saya cukup senang juga karena saudara-saudara non-muslim mungkin merasa bahwa ini perayaan bersama, mungkin karena setahun sekali," ujarnya. Menurutnya, Ramadan adalah saat yang tepat untuk mempererat tali persaudaraan dan toleransi antar umat beragama.

Di tempat lain, Aji Atmaja, pedagang gorengan yang juga berjualan takjil, menyatakan bahwa dia tetap melayani semua pelanggan tanpa memandang latar belakang agama. "Mau beli satu gorengan, juga saya layani, yang penting laku," tuturnya. Aji yang baru berjualan takjil untuk tahun kedua ini menjelaskan bahwa dia tidak pernah menanyakan agama pembeli, karena bagi dia, semua orang yang membeli adalah calon konsumen yang harus dilayani.

Dia juga menambahkan bahwa pelanggan yang datang bervariasi, mulai dari warga sekitar hingga mahasiswa. "Banyak gerombolan anak muda, terus foto-foto, mungkin dia berburu takjil," ungkapnya. Aji menjual berbagai jenis gorengan, seperti bakwan jagung, tahu isi, dan tempe goreng, dengan harga Rp 1.500 per buah. Setiap harinya, dagangannya selalu ludes terjual, bahkan ia mengaku bisa meraup hingga Rp 500 ribu dalam sehari.

Dengan semangat kebersamaan dan toleransi yang ditunjukkan oleh para pedagang, Ramadan tahun ini menjadi lebih berwarna dan penuh makna bagi semua kalangan masyarakat.