Pandangan Pandu Riono dalam Rapat Online Satgas COVID-19
Sumber Foto: Kumparan
Ragam Pandang

Pandangan Pandu Riono dalam Rapat Online Satgas COVID-19

Wakil Ketua Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) Luhut B Pandjaitan mengadakan rapat koordinasi dengan sejumlah epidemiolog pada Kamis, 4 Februari 2021. Rapat tersebut dilakukan sebagai tindak lanjut dari arahan Presiden Joko Widodo untuk membahas langkah konkret dalam menanggulangi penularan COVID-19, mengingat penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) dinilai belum maksimal.

Salah satu pakar epidemiologi yang turut serta dalam rapat adalah Pandu Riono dari Universitas Indonesia. Dalam kesempatan itu, Pandu menyatakan kegembiraannya dapat memberikan masukan kepada Luhut mengenai pentingnya tes dan pelacakan yang lebih baik. "Tadi rapat jam 10.00 WIB, kalau saya sih pertama kali. Ada dari IDI, Kemenkes, Satgas COVID-19, ada epidemiolog dari berbagai kampus, termasuk UI. Masing-masing presentasi 10 menit pandangannya kepada Luhut," ujarnya.

Pandu menekankan bahwa penanganan pandemi harus melibatkan kolaborasi yang lebih luas. Ia menegaskan pentingnya kesadaran masyarakat sebagai garda terdepan dalam menghadapi pandemi. "Masyarakat akar rumput harus disadarkan bahwa mereka adalah garda terdepan untuk menghentikan pandemi," jelasnya.

Dalam rapat tersebut, Luhut menyampaikan kondisi terkini penanganan pandemi, mengakui bahwa dalam 10 bulan terakhir, Indonesia belum mencapai hasil yang diharapkan. Pandu merespons dengan mengingatkan bahwa negara besar seperti India mampu menurunkan kurva pandemi melalui strategi testing yang cepat dan akurat.

Pandu juga memberikan masukan untuk memperpanjang penerapan PPKM yang akan berakhir pada 8 Februari 2021. Ia berpendapat bahwa PPKM tidak hanya perlu diperpanjang, tetapi juga harus diperketat. Menurutnya, proses mobilitas masyarakat harus dikontrol untuk menekan penularan virus. "Bukan hanya pengetatan, kalau pengetatannya saja enggak ada gunanya," tegas Pandu.

Ia juga membandingkan efektivitas PPKM dengan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang diterapkan di DKI Jakarta, yang dianggap lebih berhasil menekan penularan saat kebijakan ketat terakhir kali diterapkan pada September-Oktober lalu. "(PPKM) kan (kasusnya) turunnya kelihatan sedikit dan enggak kaya dulu di PSBB efeknya kelihatan banget," kata Pandu.