Menghayati Islam dalam Keseharian dengan Kesederhanaan
Sumber Foto: Kompasiana.com
Lifestyle

Menghayati Islam dalam Keseharian dengan Kesederhanaan

Islam yang Rileks dan Bagaimana Membangkitkan Iman dalam Hal-Hal Keseharian

Islam tidak selalu hadir dalam bentuk gagasan besar yang berat dan menegangkan. Justru, ia sering menjelma dalam hal-hal paling sederhana dan paling dekat dengan hidup manusia sehari-hari. Dalam banyak ayat dan hadis, Allah memperkenalkan diri-Nya bukan dengan bahasa metafisika yang rumit, tetapi melalui pengalaman paling mendasar: makan ketika lapar, tidur ketika letih, dan hidup dengan aman di bumi yang tenang.

Allah menyebut diri-Nya "alladz a'amahum min j'". Tuhan yang memberi makan saat manusia lapar. Ini penegasan penting: iman tidak dimulai dari ambisi besar, tetapi dari kesadaran akan kebutuhan paling dasar. Kekecewaan pada tetangga, negara, pasangan, atau lingkungan sosial mungkin menyakitkan, tetapi tidak mematikan. Yang mematikan justru ketika manusia tidak makan dan tidak minum. Karena itu, nikmat Allah sering disebut dalam bentuk yang sangat keseharian.

Sayangnya, manusia kerap mempersulit syukur. Syukur seolah baru layak dilakukan jika hidup sudah sempurna: pasangan ideal, lingkungan harmonis, ekonomi mapan, dan semua keinginan terpenuhi. Padahal Al-Qur'an menyebut tidur sebagai ayat Allah, makan sebagai nikmat Allah, dan bumi sebagai hamparan yang nyaman untuk diinjak. Semua itu cukup untuk bersyukur tanpa syarat berlebihan.

Rasulullah Saw., bahkan menegaskan bahwa Allah sangat ridha kepada hamba-Nya yang makan lalu memuji Allah, dan minum lalu memuji Allah. Kesalehan tidak selalu tampil dalam ritual berat; ia sering hadir dalam kesadaran sederhana yang konsisten. Bahkan relasi suami-istri, yang dianggap urusan biologis, dinilai sebagai sedekah jika dilakukan secara halal. Islam tidak memusuhi naluri manusia, tetapi menertibkannya dengan niat dan kesadaran.

Inilah yang oleh para kiai Nusantara disebut sebagai Islam keseharian: Islam yang ramah dengan hidup, tidak angkuh dengan simbol, dan tidak sibuk menghakimi. Islam yang menghargai kenyataan bahwa manusia hidup dalam keterbatasan, pilihan yang serba tidak sempurna, dan kondisi sosial yang tidak selalu ideal. Dalam kondisi seperti itu, Allah tetap membuka jalan ridha-Nya melalui kebaikan-kebaikan kecil yang pasti dan tidak menimbulkan mudarat bagi siapa pun.

Kesombongan spiritual justru muncul ketika manusia merasa mampu mengendalikan segalanya. Merencanakan masa depan secara mutlak, memastikan hasil, dan menuntut Allah mengikuti skenario manusia. Padahal manusia bukan subjek absolut, melainkan objek kehendak Allah. Orang berakal akan bertanya, "Apa yang Allah kehendaki terjadi hari ini?" bukan "Apa yang akan aku pastikan terjadi?"

Karena itu, Islam juga melatih kerendahan hati dalam memandang sesama. Setiap manusia memiliki sisi baik dan sisi salah. Al-Qur'an dan Sunnah mengajarkan untuk mengakui keduanya sekaligus. Inilah fondasi persaudaraan yang tulus: tidak mengidealkan diri, tidak meniadakan potensi baik orang lain, dan selalu membuka ruang harapan akan hidayah.

Islam yang rileks bukan Islam yang longgar tanpa prinsip, melainkan Islam yang yakin bahwa ridha Allah bisa diraih melalui jalan-jalan yang sederhana, manusiawi, dan penuh rahmat. Makan dengan syukur, tidur dengan tenang, hidup tanpa merugikan orang lain, serta menjaga hati dari kesombongan. Semua itu sudah merupakan laku keislaman yang mendalam.

Pada akhirnya, Islam tidak meminta manusia menjadi makhluk sempurna, tetapi menjadi hamba yang sadar: sadar bahwa hidup ini milik Allah, nikmat ini dari Allah, dan segala yang terjadi berada dalam kehendak-Nya. Dari kesadaran itulah lahir ketenangan, kerendahan hati, dan iman yang membumi.