Memahami Peran Sudjojono dalam Dinamika Seni Rupa Revolusi Indonesia
Sumber Foto: Hypeabis
Ragam Pandang

Memahami Peran Sudjojono dalam Dinamika Seni Rupa Revolusi Indonesia

Sudjojono, seorang seniman terkemuka, dikenal sebagai kritikus terhadap gaya lukisan mooi indie yang berkembang di Hindia Belanda pada abad ke-19. Ia berpendapat bahwa para pelukis pribumi seharusnya tidak hanya terpaku pada pemandangan alam, melainkan juga harus memperhatikan kondisi kehidupan masyarakat yang menderita akibat penjajahan kolonial. Misi Sudjojono adalah untuk membangun kesadaran kolektif di kalangan seniman dan masyarakat tentang masalah kebangsaan yang dihadapi rakyat saat itu.

Pria kelahiran Kisaran, Sumatra Utara, ini dijuluki sebagai Bapak Seni Rupa Modern Indonesia berkat gagasannya yang inovatif. Pada tahun 1937, Sudjojono bersama pelukis Agus Djaya dan seniman lainnya mendirikan Persatuan Ahli-ahli Gambar Indonesia (Persagi) di Batavia. Organisasi ini bertujuan untuk mereformasi seni rupa Indonesia dengan fokus pada realitas sosial yang dihadapi masyarakat.

Dalam pandangan Persagi, seni lukis tidaklah netral; ia mencerminkan cara pandang tertentu yang berupaya mengkritik lukisan mooi indie yang dianggap mewakili perspektif kolonial. Sudjojono tidak hanya berperan sebagai pelukis, tetapi juga sebagai tokoh penggerak yang terlibat langsung dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Ia memimpin para pelukis di Jakarta untuk terlibat dalam propaganda dengan membuat poster dan mural pada masa awal kemerdekaan.

Setelah pembubaran Persagi oleh tentara Jepang, Sudjojono tidak menyerah. Ia mendirikan kelompok Seniman Indonesia Muda (SIM) di Yogyakarta, yang terdiri dari seniman-seniman muda seperti Dullah dan Zaini. Kelompok ini bertugas untuk menciptakan poster, spanduk, dan lukisan yang mendokumentasikan perang. Sudjojono pun aktif dalam menciptakan karya seni yang merefleksikan peristiwa-peristiwa penting selama masa revolusi.

Salah satu karya terkenalnya adalah lukisan berjudul Mengungsi (1948), yang menggambarkan ketakutan sebuah keluarga yang berusaha menyelamatkan diri dari serangan tentara Belanda. Lukisan ini menggambarkan suasana mencekam saat Agresi Militer Belanda II di Yogyakarta. Karya lainnya, Kawan-kawan Revolusi (1947), menampilkan potret sejumlah tokoh pejuang, termasuk anak sulungnya, Tedja Bayu.

Sudjojono juga menciptakan lukisan Sekko (1949), yang menggambarkan sosok prajurit gerilyawan yang berani berjuang meskipun dalam keadaan sulit. Karya-karya tersebut bukan hanya mencerminkan peristiwa perang, tetapi juga menunjukkan dampak gejolak revolusi terhadap kehidupan rakyat. Banyak dari karya-karya ini baru dihasilkan pada tahun 1960-an, sebagai refleksi dari pengalaman dan ingatan Sudjojono terhadap peristiwa sejarah.

Kurator Rizki A. Zaelani menekankan bahwa karya Sudjojono mencerminkan perpaduan antara realisme dan ekspresionisme. Ia menggambarkan bagaimana seniman harus memiliki pandangan kritis terhadap kondisi sosial dan budaya. Sudjojono percaya bahwa seni adalah alat untuk mengekspresikan identitas dan kedaulatan diri, serta untuk menyuarakan pandangan yang lebih dalam tentang kemerdekaan.

Dari karya-karyanya, dapat dilihat bahwa Sudjojono tidak hanya sekadar menciptakan lukisan, tetapi juga berkontribusi dalam membentuk kesadaran akan identitas dan perjuangan bangsa Indonesia. Melalui seni, ia mengajak masyarakat untuk mengingat dan memahami sejarah perjuangan kemerdekaan dengan lebih mendalam.