Kisah Inspiratif Alvi dari Aceh: Difabel sebagai Solusi dalam Penanganan Banjir
Di tengah bencana banjir yang melanda Aceh baru-baru ini, Alvi Lutviah, seorang perempuan difabel netra, menunjukkan bahwa penyandang disabilitas tidak hanya sekadar penerima bantuan, tetapi juga dapat menjadi bagian dari solusi dalam penanganan bencana.
Alvi terlibat aktif sebagai co-fasilitator enumerator dalam program penguatan kapasitas difabel pasca-banjir yang digagas oleh CBM Global dan Yakkum Emergency Unit. Melalui pelatihan bertajuk “Sahabat Ragam Disabilitas”, Alvi dan timnya berupaya memberikan kontribusi nyata dalam situasi yang sangat mendesak ini.
Banjir yang melanda Aceh telah menyebabkan kerusakan besar, merendam rumah-rumah, menghanyutkan harta benda, dan memaksa banyak keluarga untuk memulai hidup dari awal. Namun, dalam situasi darurat ini, kelompok difabel sering kali terlupakan. Alvi, yang awalnya hanya peserta pelatihan, kemudian aktif berdiskusi dan berbagi gagasan. Pengalamannya di lapangan membuka wawasan lebih luas tentang kondisi difabel dalam situasi bencana.
“Banyak difabel yang tidak mendapatkan informasi evakuasi tepat waktu. Ada yang kehilangan rumah, harta benda, bahkan anggota keluarga. Hambatan komunikasi dan mobilitas memperparah situasi,” ujar Alvi.
Salah satu pengalaman yang paling berkesan bagi Alvi adalah pertemuannya dengan Hendra, seorang difabel tuli-wicara. Sejak kecil, Hendra tidak pernah mengenal bahasa isyarat, sehingga dalam situasi bencana, ia merasa semakin terisolasi. Alvi menyadari bahwa masalah yang dihadapi bukan hanya bencana alam, tetapi juga minimnya akses informasi dan pendidikan yang inklusif.
Namun, kehadiran tim di lapangan memberikan harapan bagi para penyandang disabilitas. Mereka yang sebelumnya merasa terabaikan mulai berani menyuarakan kebutuhan mereka. Hal ini menimbulkan pertanyaan penting mengenai inklusivitas sistem penanggulangan bencana di Indonesia. Mengapa kelompok difabel seringkali masih diposisikan sebagai objek, bukan sebagai subjek dalam perencanaan dan pelaksanaan kebijakan mitigasi bencana?
Banyak kebijakan mitigasi kebencanaan yang masih bersifat umum dan tidak mempertimbangkan kebutuhan spesifik difabel. Jalur evakuasi yang tidak aksesibel, informasi yang tidak tersedia dalam berbagai format, dan minimnya pelibatan difabel dalam perencanaan menjadi beberapa tantangan yang harus dihadapi.
Alvi menegaskan bahwa persoalan ini tidak hanya berkaitan dengan akses fisik, melainkan juga dengan cara pandang masyarakat terhadap difabel. Selama difabel hanya dianggap sebagai pihak yang harus dibantu, potensi mereka akan terus terpinggirkan. “Dalam kondisi krisis, keberagaman perspektif menjadi kekuatan. Difabel memiliki pemahaman mendalam tentang hambatan yang mereka hadapi,” tambahnya.
Untuk itu, diperlukan solusi yang lebih inklusif, antara lain dengan melibatkan difabel secara aktif dalam perencanaan mitigasi bencana, menyediakan informasi dalam berbagai format, dan melakukan pelatihan kebencanaan berbasis komunitas. Selain itu, pendataan difabel yang akurat dan pembangunan infrastruktur yang ramah difabel juga sangat penting.
Kisah Alvi dan Hendra lebih dari sekadar cerita tentang bencana; ini adalah refleksi bagaimana kita memperlakukan sesama manusia dalam situasi krisis. Saatnya kita beralih dari pertanyaan, “Apa yang bisa kita berikan kepada difabel?” menjadi “Apa yang bisa kita bangun bersama mereka?”
Ketangguhan suatu bangsa tidak hanya diukur dari seberapa cepat ia pulih dari bencana, tetapi dari seberapa adil ia merangkul semua warganya.




