Keseharian Pasangan Penjaga Warung 24 Jam di Jakarta
Aspek News - KOMPAS.com - Saat sebagian orang terlelap di tengah malam, warung kecil di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, itu tetap menyala. Jalan di depannya mulai lengang, tapi aktivitas di warung itu masih berjalan.
Ada tangan yang tetap sigap melayani pembeli, sementara yang lainnya mencoba beristirahat di sela waktu yang terbatas.
Ritme hidup seperti itu dijalani Husen Karim (51) dan istrinya, Ria (45). Keduanya membagi waktu secara bergiliran agar warung Madura yang mereka kelola bisa tetap buka 24 jam tanpa henti.
“Kalau suami jaga malam, saya biasanya ambil pagi sampai siang,” kata Ria saat ditemui di warungnya, Selasa (31/3/2026).
Pola ini bukan dijalani sesekali, melainkan menjadi keseharian yang terus berulang dari hari ke hari.
Dari Warung Biasa Jadi 24 Jam
Warung tersebut tidak langsung beroperasi sepanjang hari. Husen memulai usahanya pada 2012 dengan jam buka seperti warung biasa pada umumnya, yakni dari pagi hingga malam.
“Dulu sekitar jam 6 pagi sampai jam 10 malam,” ujar Husen.
Namun, ia mulai melihat kebiasaan pelanggan yang berbeda. Pembeli tetap datang di luar jam tersebut, terutama pada malam hingga dini hari.
“Ada yang cari makan atau rokok tengah malam. Bahkan jam 2 pagi masih ada,” katanya.
Seiring waktu, jam operasional diperpanjang hingga akhirnya sejak 2016 warung buka penuh selama 24 jam. Menurut Husen, keputusan itu bukan sekadar strategi, tetapi kebutuhan.
“Pembeli datang kapan saja,” ucap dia.
Waktu Istirahat yang Harus Berbagi
Lihat Foto
Menjaga warung tetap buka sepanjang hari membuat waktu istirahat harus dibagi. Saat satu menjaga, yang lain memanfaatkan waktu untuk tidur, sebelum kembali bergantian.
Namun dalam praktiknya, waktu istirahat itu tidak selalu utuh.
“Kadang lagi makan atau istirahat, ada pembeli, ya harus dilayani,” ujar Ria.




