Keseharian Jacomina Fay: Perempuan Indo di Abad 18
Sumber Foto: National Geographic Indonesia
Lifestyle

Keseharian Jacomina Fay: Perempuan Indo di Abad 18

De voormoeders/Historiek

Seorang perempuan Indo sedang menjamu tamu Eropanya, sambil dilayani dua budak perempuannya.

Nationalgeographic.co.id— Indo, seperti yang pernah diulas di banyak karya sastra maupun ilmiah, merujuk pada peranakan Eropa berdarah campuran dengan pribumi. Salah satu hal yang menarik dan jarang diulas ialah hidup kesehariannya.

Dalam tulisan Suze Zijlstra kepada Historiek yang berjudul Een dag uit het leven van een Indische ‘voormoeder’ terbitan 12 Mei 2025, menggambarkan kisah keseharian Jacomina Fay yang merupakan seorang perempuan Indo.

Secara fisik, rata-rata perempuan Indo bisa dikatakan berambut gelap dengan mata kecokelatan dengan kulit cenderung lebih terang dibanding pribumi. Begitu pula dengan Jacomina Fay.

Jacomina Fay dilahirkan dilahirkan di Makassar pada tahun 26 November 1783. Ia kemudian mendapatkan nama 'Rosenquist' setelah menikah dengan pria bernama Jacob Happon Rosenquist pada 1798 di Makassar, di usia 14 tahun.

Ia kemudian dikenal dengan nama Jacomina Rosenquist. Melahirkan beberapa keturunan. Salah satunya adalah anaknya yang bernama Albertus Levinus Rosenquist, juru tulis terkemuka di kantor Madoera.

Dimungkinkan, setelah VOC mengalami kebangkrutan, keluarga Jacomina Fay berpindah ke Jawa sekitar tahun 1800-an. Ia tinggal di Grissee (kini Gresik, Jawa Tengah) dan melahirkan Albertus pada bulan Februari 1824.

Meski perdagangan dan pemberlakuan perbudakan telah dihapuskan, nampaknya kehidupan Hindia Belanda belum dapat lepas dari kehidupan para budak. Termasuk para budak yang dipekerjakan di keluarga Jacomina Fay.

Para budak perempuan yang bekerja untuk keluarganya, kebanyakan dia bawa dari Makassar. Namun, bukan hanya dari sana, juga para budak laki dan perempuan yang dibawanya dari Preangan (Jawa Barat) dan Madoera.

Namun, Jacomina tidak benar-benar memperbudak, sebab orang yang bekerja padanya dibayar dengan upah. Meski upah yang dibayarkan sangat rendah.

Para pelayannya, baboe (pengasuh) atau djongos (pelayan laki) biasanya dipekerjakan untuk berjualan di pasar. Mereka mengangkut makanan dan bahan-bahan mentah untuk dijual di pasar atau dari rumah ke rumah.

Para pelayannya masih dianggap sebagai bagian dari rumah tangga. Jika Jacomina membutuhkan lebih banyak bantuan rumah tangga, dia dapat mempekerjakan orang-orang dari daerah sekitarnya dengan biaya kecil.

Circa/KITLV

Pasangan Indo-Eropa diambil pada 1900.

Sering kali, Jacomina bersantai di teras rumahnya dengan menghampar tikar dikelilingi para budaknya, sambil mengunyah sirih yang menghasilkan warna kemerahan di mulut.

Telah disediakan sebuah tempolong di sekitarnya, kemudian dimuntahkannya sirih itu pada tempolong berwarna perak yang segera dibersihkan kembali oleh para budak perempuannya.

Jacomina lebih menikmati kehidupan sebagaimana perempuan pribumi, meski beberapa hal yang identik Eropa masih ia gunakan. Seperti yang digambarkan Suze Zijlstra, bahwa Jacomina sering berpakaian dengan sarong dan kebaya putih.

"Dia mengenakan kancing manset berhiaskan permata dan ikat pinggang emas. Rambutnya disematkan ke belakang dengan jepit berhiaskan permata. Jacomina berbicara bahasa Belanda, tetapi, tidak lancar," tulisnya.

Suze menambahkan, sekali pun perempuan Eropa akan bertemu dan melihat caranya berpakaian, tentu pakaian yang dikenakannya sangat asing bagi perempuan Eropa pada umumnya.

Jacomina tak seperti perempuan Eropa. Ia sudah bangun dan memulai harinya lebih pagi. Bahkan, para pelayan yang bekerja padanya telah bangun lebih pagi. Mereka telah siap untuk berangkat ke pasar.

Nyonya Jacomina sendiri telah dilayani sepagi itu dengan sajian ringan bersama roti dan kopi. setelahnya, sarapan pagi disiapkan lebih menyenangkan. Umumnya terdiri dari ayam, daging cincang, ikan asap, nasi, dan telur.

Di antara makanan menjelang siang, disajikan pula makanan seperti roti gulung atau pisang goreng.

Makan siang disajikan sekitar pukul tiga atau empat sore. Sekitar pukul enam sore, sudah menjadi kebiasaan untuk menerima atau menjamu tamu. Lantas, jamuan teh dilakukan setelah kunjungan tamu berakhir dan mereka tidur pada jam sebelas.

Meski demikian, kehidupan perempuan Indo dan dinamikanya tetap tidak dapat bisa disamaratakan dengan kehidupan seorang Jacomina. Kehidupan yang beragam dengan penuh lika-likunya.

Tercatat, Jacomina Fay meninggal dunia dan dikebumikan di Grissee pada 17 Mei 1851 di usia 67 tahun.

---

Pengetahuan tak terbatas kini lebih dekat. Simak ragam ulasan jurnalistik seputar sejarah, budaya, sains, alam, dan lingkungan dari National Geographic Indonesia melalui pranala WhatsApp Channel dan Google News. Ketika arus informasi begitu cepat, jadilah bagian dari komunitas yang haus akan pengetahuan mendalam dan akurat.

Halaman:

1 2 3 Lihat Semua

Tag:

Perempuan Hindia Belanda Indo Baboe Peranakan Belanda

Mutakhir

Populer