Kecaman Terhadap Paham Radikalisme dan Dukungan Pengusutan Penusukan Menko Polhukam
Sumber Foto: Radar Mojokerto
Ragam Pandang

Kecaman Terhadap Paham Radikalisme dan Dukungan Pengusutan Penusukan Menko Polhukam

Aspek News - Aksi teror yang menimpa Menko Polhukam Wiranto saat kunjungan kerja di Pandeglang, Banten, pada 11 Oktober, menuai kecaman dari berbagai pihak, termasuk GP Ansor.

Awal Kejadian

Menko Polhukam Wiranto diserang dalam sebuah aksi penusukan saat melakukan kunjungan kerja di Pandeglang, Banten. Insiden ini menimbulkan reaksi keras dari masyarakat dan organisasi sosial-keagamaan.

Perkembangan

GP Ansor, sebagai organisasi yang mengawal keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), menyatakan bahwa segala bentuk kekerasan tidak dibenarkan dan berpotensi memecah belah keutuhan bangsa. Ketua PC GP Ansor Kota Mojokerto, Ahmad Saifulloh, menegaskan bahwa tidak ada dalil dalam Islam yang membenarkan tindakan kekerasan. Ia menekankan bahwa keamanan dan ketentraman masyarakat harus dijaga demi terciptanya perdamaian.

Kondisi Terakhir

GP Ansor mendukung kepolisian untuk segera mengusut tuntas pelaku penusukan dan teror tersebut. Mereka juga menyerukan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan mendukung upaya Polri dalam menjaga kondusifitas. Dalam rangka kaderisasi, GP Ansor mengadakan Pelatihan Kader Dasar (PKD) yang memberikan pemahaman tentang bahaya gerakan radikalisme, termasuk diskusi tentang buku Pancasila vs Khilafah yang ditulis oleh Mohammad Nuruzzaman.