Kalimantan Barat Beralih ke Ekonomi Hijau Melalui Transformasi Bisnis Kehutanan
Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat dan APHI menginisiasi Transformasi Bisnis Kehutanan Kalbar, beralih dari ketergantungan kayu ke pengembangan hasil hutan bukan kayu (HHBK) dan ekonomi hijau untuk kelestarian hutan serta peningkatan pendapatan daerah.
19:01:47
Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) bersama Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) secara aktif menggalakkan transformasi signifikan dalam sektor kehutanan. Inisiatif ini bertujuan untuk mengurangi ketergantungan pada komoditas kayu dan beralih fokus pada pengembangan hasil hutan bukan kayu (HHBK) serta praktik ekonomi hijau. Langkah strategis ini diharapkan mampu menjaga kelestarian hutan sekaligus memperkuat pendapatan asli daerah.
Perubahan paradigma ini muncul sebagai respons terhadap tantangan berat yang dihadapi bisnis kehutanan nasional, termasuk di Kalbar, seperti menurunnya produktivitas hutan alam dan meningkatnya tuntutan keberlanjutan lingkungan. Ketua Umum APHI, Soewarso, menegaskan bahwa transformasi ini krusial agar usaha kehutanan tetap berjalan tanpa mengorbankan kelestarian hutan. Diversifikasi usaha menjadi kunci untuk mengurangi tekanan eksploitasi terhadap hutan alam, sementara hutan tanaman industri tetap beroperasi dengan rantai pasar yang sudah mapan.
Gubernur Kalbar, Ria Norsan, menyambut baik inisiatif ini, menekankan pentingnya menyeimbangkan aspek ekonomi dan lingkungan dalam pembangunan sektor kehutanan. Beliau mendorong para pengusaha hutan untuk tidak hanya berorientasi pada produksi, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi daerah melalui pajak, retribusi, dan pemberdayaan masyarakat sekitar hutan. Kolaborasi antara pemerintah dan pelaku usaha diharapkan dapat menjadikan sektor kehutanan sebagai pilar pembangunan berkelanjutan di provinsi tersebut.
Mendorong Ekonomi Hijau Melalui HHBK
APHI secara aktif mendorong pengembangan hasil hutan bukan kayu (HHBK) sebagai bagian integral dari Transformasi Bisnis Kehutanan Kalbar. Komoditas non-kayu seperti jengkol, durian, sukun, hingga tanaman kratom, memiliki potensi ekonomi yang besar dan pasar tersendiri. Pengembangan HHBK ini dapat dikelola melalui kolaborasi multipihak yang melibatkan pelaku usaha, masyarakat sekitar hutan, dan pemerintah daerah.
Diversifikasi usaha ke HHBK sangat penting untuk mengurangi tekanan eksploitasi terhadap hutan alam yang terus menurun produktivitasnya. Dengan demikian, hutan tetap terjaga kelestariannya sementara usaha kehutanan tetap mampu menghasilkan keuntungan. Pendekatan ini selaras dengan prinsip ekonomi hijau yang mengedepankan keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.
Tantangan dan Penguatan Tata Kelola Hutan
Bisnis kehutanan nasional, termasuk di Kalimantan Barat, menghadapi tantangan serius akibat penurunan produktivitas hutan alam dan sorotan global terhadap praktik perusakan hutan tropis. Situasi ini menuntut perubahan fundamental dalam pengelolaan hutan. Selain transformasi usaha, APHI juga menyoroti urgensi penguatan tata kelola pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Kejelasan pelaksanaan aturan pembukaan lahan terbatas oleh masyarakat menjadi krusial agar tidak memicu kebakaran yang meluas. Pengelolaan yang lebih baik dan berkelanjutan akan membantu mitigasi risiko lingkungan serta memenuhi standar keberlanjutan yang diharapkan oleh komunitas internasional. Ini merupakan bagian penting dari upaya Transformasi Bisnis Kehutanan Kalbar.
Komitmen Pemerintah Provinsi Kalbar untuk Keberlanjutan
Gubernur Kalbar, Ria Norsan, menegaskan komitmen pemerintah provinsi dalam mendukung Transformasi Bisnis Kehutanan Kalbar menuju arah yang lebih berkelanjutan. Pembangunan sektor kehutanan di Kalbar harus mampu menyeimbangkan antara aspek ekonomi dan kelestarian lingkungan. Potensi kehutanan di Kalbar masih sangat besar jika dikelola secara berkelanjutan dan bertanggung jawab.
Norsan mendorong 66 anggota APHI di daerah itu untuk bersinergi dengan pemerintah dalam pembangunan infrastruktur, peningkatan kesejahteraan pekerja, serta penguatan ekonomi lokal di sekitar kawasan hutan. Isu pemanasan global dan sorotan internasional menuntut perubahan paradigma pengelolaan hutan. Model bisnis berbasis HHBK dan ekonomi hijau menjadi solusi efektif agar hutan tetap lestari, masyarakat sejahtera, dan pendapatan asli daerah meningkat secara signifikan.




