Integrasi AI dalam Pemerintahan Kota Tegal: Solusi Nyata atau Sekadar Tren?
KOTA TEGAL – Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Tegal menekankan pentingnya adaptasi teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) bagi pemerintahan, namun tetap dengan pertimbangan matang, agar implementasinya memberikan dampak nyata bagi masyarakat
Hal itu disampaikan Kepala Dinas Diskominfo Kota Tegal, Dorres Indrian Nugroho, ketika membuka Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Penerapan AI di Pemerintah: Solusi atau Gimic?”, Kamis (5/2/2026), di Ruang Rapat Lantai 2 Setda Kota Tegal.
Acara tersebut dirancang untuk membedah potensi, serta tantangan integrasi kecerdasan buatan dalam pelayanan publik.
Dalam sambutannya, dia menekankan pentingnya adaptasi teknologi namun tetap dengan pertimbangan matang, agar implementasinya memberikan dampak nyata bagi masyarakat, bukan sekadar mengikuti tren digital atau gimmick.
“Kita berada di titik di mana AI bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Namun, saya tidak ingin AI di Kota Tegal hanya menjadi gimmick digital agar kita terlihat canggih di atas kertas,” kata Dorres.
Dia mengatakan, dalam FGD tersebut semua pihak dapat bersama-sama “membedah” tentang AI, termasuk peluang penggunaannya untuk memangkas birokrasi dan mempercepat pelayananan.
“Fokus kita adalah transformasi yang substansial, bukan sekadar gaya-gayaan,” tegas kata dia.
Dorres juga berharap bahwa ke depan Kota Tegal bukan lagi sekadar menyandang gelar Smart City yang terkadang terjebak pada label atau penghargaan administratif saja, melainkan ingin Kota Tegal menjadi Real City, di mana sebuah kota nyata teknologi benar-benar dirasakan manfaatnya secara langsung oleh warga.
Diskusi ini menjadi sangat relevan mengingat lonjakan penggunaan AI di Indonesia. Berdasarkan data nasional tahun 2025, tercatat sekitar 42% masyarakat Indonesia sudah mulai menggunakan AI dalam kehidupan sehari-hari, baik untuk kebutuhan profesional maupun pribadi.
Di sektor bisnis, adopsi AI tumbuh pesat hingga 47% per tahun, di mana sekitar 28% bisnis di Indonesia telah mengintegrasikan solusi cerdas dalam operasional mereka.
Guna mendapatkan gambaran yang utuh, Diskominfo menghadirkan empat narasumber ahli yang membedah AI dari sisi teknis hingga implementasi sektoral, di antaranya Khairul Fahmi selaku Pranata Komputer Ahli Madya Bidang Tata Kelola e-Government Dinas Kominfo Kota Tegal yang memaparkan Teknologi AI dan Pengembangannya di Diskominfo Kota Tegal.
Ia menekankan bahwa AI adalah mesin yang membutuhkan bahan bakar berupa data yang bersih dan terintegrasi agar tidak menghasilkan analisis yang bias.
Hadir pula Iswahyudi selaku Kepala Bidang Aplikasi Pemerintah Digital Diskominfo Provinsi Jateng yang membagikan kisah sukses Pengembangan AI di Diskomdigi Provinsi Jateng.
Dia mencontohkan penggunaan chatbot cerdas dan analisis sentimen publik yang mampu merespons ribuan aduan warga dalam hitungan detik, sebuah efisiensi yang sulit dicapai secara manual.
Riwanto, SKM selaku Penyuluh Kesehatan Masyarakat Ahli Muda Dinkes Kota Tegal, menjelaskan Kebutuhan AI di Sektor Kesehatan, dan juga Yusabbihul Akbar selaku Kabid P3EP Bakeuda Kota Tegal, yang membahas Kebutuhan AI di Sektor Pengelolaan Pendapatan.
Ia memaparkan bagaimana algoritma cerdas dapat memetakan potensi pajak daerah dan memprediksi tren pendapatan secara real-time, sehingga kebocoran anggaran dapat diminimalisasi.
FGD ini diharapkan menghasilkan rekomendasi konkret bagi Pemerintah Kota Tegal. Tantangan seperti keterbatasan SDM digital, harus segera diatasi dengan pelatihan berkelanjutan.
Dengan adanya acara ini, Diskominfo Kota Tegal berkomitmen untuk terus mengawal implementasi AI agar tetap berada pada koridor etika dan kemanfaatan, memastikan bahwa teknologi ini adalah solusi nyata, bukan sekadar gimik adinistratif.(HS-08)
Post Views: 215




