Buku "KDRT: Kemesraan dalam Rumah Tangga" Soroti Makna Keseharian dan Komitmen Keluarga
Hidup menua bersama dengan anak dan pasangan hidup menjadi dambaan semua orang. Untuk mewujudkannya tentu tidak mudah. Ketika memutuskan untuk membangun rumah tangga, sejatinya dibutuhkan komitmen dalam relasi dengan pasangan dengan cara menjaga, merawat, dan memperkuatnya terus-menerus.
Jika relasi yang penuh komitmen tidak terjaga, berbagai hal buruk bisa terjadi, tak terkecuali kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Berdasarkan data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), sejak 1 Januari 2022 hingga 14 Februari 2023 tercatat 3.173 kasus kekerasan dalam rumah tangga.
Di tengah banyaknya kasus terkait KDRT di Indonesia, hadir publikasi yang menceritakan kehidupan rumah tangga. Publikasi berjudul KDRT: Kemesraan dalam Rumah Tangga (Penerbit Buku Kompas, 2023), ditulis oleh Budiman Hakim. Buku ini menceritakan bahwa setiap keluarga memiliki album cerita keluarga yang berisikan momen emosional dalam keluarga.
Setiap momen bersama keluarga jika dicermati ternyata merupakan kesempatan memperoleh pembelajaran bermakna. Tulisan demi tulisan dengan latar percakapan ataupun peristiwa sehari-hari dalam keluarga dituturkan Budiman Hakim dengan santai, tetapi mengena.
Setiap peristiwa layak diingat sebagai kenangan, wejangan, ataupun pembelajaran berharga. Budiman menunjukkan bahwa manusia yang hadir di panggung publik sangat dipengaruhi pengalaman dan pembentukan yang terjadi di dalam keluarga. Model keluarga di mana manusia berasal tentu sangat memengaruhi cara pandang ataupun nilai-nilainya di panggung publik. Lewat berbagai kisah keseharian dalam keluarganya, setidaknya beragam hal bisa dilihat lewat perspektif yang lebih bermakna dan menjadi pembelajaran.
Publikasi dibuka dengan judul ”Ayah: Sang Nasionalis Sejati”. Pada bab ini, bercerita tentang Ayah dari penulis yang dianggap nasionalis. Awalnya diceritakan tentang alasan sang penulis menghormati sang ayah. Rasa hormat atas prinsip hidup sang ayah karena selalu istikamah atas setiap pilihan dan menerima risikonya.
Menelisik latar belakang penulis, keluarganya pernah jatuh miskin. Kondisi terjadi saat gejolak pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI). Pada masa itu, jabatan ayah sebagai Wartawan Kepala Desk Dalam Negeri dipaksa pensiun. Kejadian itu menjadi titik awal penulis kagum dengan sang ayah. Sang ayah menganggap bahwa momen tersebut adalah sebuah konsekuensi dari situasi yang dipilihnya.
Sang ayah kemudian bekerja di surat kabar Nusantara dan Poskota. Tak hanya itu, ia juga menjadi penulis buku. Nasihat ayahnya yang selalu terpatr,i ”Ingat! Sebelum mati buatlah minimal satu buku.” Semenjak saat itu, penulis bertekad untuk menepati janjinya.
Jika sang ayah memberikan pelajaran tentang kehidupan, ibu memberikan wejangan pernikahan. Hal itu diutarakan saat penulis ingin melanjutkan hidup ke jenjang pernikahan. ”Kompromi dan saling percaya” begitulah sang mama membagikan resep pernikahan.
Kompromi yang dimaksud adalah kemampuan mengatasi perbedaan-perbedaan yang dapat berpotensi mengganggu sebuah hubungan. Sebut saja, ketika suami suka tidur dengan lampu dimatikan, sedangkan istri senangnya terang. Kemudian, suami suka pakai AC, tetapi istri kebalikannya. Saat dihadapkan dalam situasi tersebut, diperlukan kompromi dari keduanya.
Tak luput, sang ibu juga memberikan tips mencari pasangan hidup yang sesungguhnya. Sang ibu memberi tahu bahwa mencari pasangan harus cantik hatinya karena kecantikan fisik hanya sementara. Kecantikan hati akan selalu abadi, dan pernyataan itu dibenarkan penulis setelah berumah tangga.
Rasa saling percaya juga menjadi nasihat sang ibu yang tak dilupakan penulis. Penulis diajak untuk tidak mencurigai pasangan, sebut saja curiga dengan pasangan dapat berawal mengecek gawai pasangan. Tak luput juga, ibu memberikan nasihat bahwa pria selingkuh dengan perempuan lain yang menunjukan urusan sang pria dengan Tuhan. Semua wejangan dan kenangan selalu dapat diingat.
Kenangan terpahit adalah melihat sang ibu sakit. Memori tentang sang Ibu sakit diperlihatkan dari Facebook. Foto yang diunggah saat itu adalah sang ibu dirawat di rumah sakit dengan mulut terdapat dua selang dan lubang hidup terdapat selang sonde untuk aliran makanan, serta leher ibu dibuat lubang untuk menghubungkan paru-paru dengan ventilator.
Unggahan foto tersebut membuat penulis merasa miris. Semenjak saat itu, penulis memberi tahu keluarganya bahwa jangan menyimpan foto saat dirinya sakit atau tergolek tak berdaya. Baginya, kenangan tersebut tidak ada kebaikannya. Penulis ingin dikenang memori bersama keluarga dengan keadaaan kuat dan sehat.
Penulis ingin kenangan yang diingat terkait sang ibunda adalah kegiatan menyenangkan, seperti bermain game bersama, berenang, berkemah, dan tertawa riang bersama.
Dari kejadian tersebut, pria lulusan Fakultas Sastra Perancis ini juga memahami bahwa terdapat perias mayat untuk mereparasi jenazah. Tak hanya mereparasi jenazah, tetapi juga menunjukan martabat seseorang saat ke Sang Khalik.
Pengalaman bersama anak dan istri pun dituangkannya dengan mengalir. Salah satunya saat coba membujuk anak bungsunya untuk menampakkan muka jelek. Berbagai upaya dilakukannya supaya sang anak mau melakukan apa yang dimintanya. Hingga akhirnya, sesaat sebelum berangkat ke kantor, sang anak mau menuruti permintaan ayahnya untuk menampakkan muka jelek. Ternyata, hal ini berhasil membuat suasana hatinya berbahagia sebelum memulai hari.
Salah satu peristiwa yang menjadi pelajaran sekaligus dikenang yang juga diceritakan penulis adalah saat penulis berhasil lepas dari dampak saraf kejepit di tulang belakangnya. Puluhan tahun setalh dinyatakan saraf kejepit tulang belakang, penulis akan sangat tersiksa saat rasa sakit melanda. Suatu saat, penulis bertemu dengan salah seorang rekannya yang ternyata ahli akupunktur terlebih tulang belakang. Rekan penulis bernama Yuyun memintanya untuk datang ke tempat praktiknya guna diobati, sambil berkata, ‘”Sekali juga sembuh”. Dua tahun setelah pertemuannya tersebut, barulah penulis mencoba akupunktur yang ditangani Yuyun. Ajaib, rasa sakitnya hilang, bahkan saat ia mengangkat anaknya sampai di atas kepala. Hal ini menjadi pembelajaran baginya untuk tidak ada salahnya berusaha karena Tuhan bisa memakai siapa saja untuk membantu kesembuhannya.
Publikasi ini ditutup dengan judul ”Kakek-Kakek di Masjid” yang menceritakan penulis dengan seorang kakek saat shalat Jumat. Kakek tersebut secara fisik memiliki tubuh kurus cungkring, rambut dipenuhi uban, dan gigi hampir seluruhnya ompong. Awalnya, kakek-kakek tersebut curi pandang ke arah penulis hingga akhirnya mendatangi penulis. Penulis mempersilakan kakek tersebut duduk di sampingnya.
Kakek tersebut menyapa nama penulis terlebih dahulu. Ternyata kakek tersebut adalah teman satu sekolah penulis. Penulis yang memiliki karakter guyon menganggap kakek tersebut adalah guru saat masa sekolah. Padahal, saat mereka mengobrol, kakek tersebut adalah adik kelas penulis. Penulis pun kemudian tersadar bahwa ia terlalu sibuk menilai orang lain sampai lupa menilai diri sendiri. (Desi Permatasari/Litbang Kompas)
Data Buku
Penulis: Budiman Hakim
Penerbit: Penerbit Buku Kompas
Tahun Terbit: 2023
Jumlah halaman: xxii+212 halaman
ISBN: 978-623-160-095-0




