Usulan Rekonstruksi Candi Borobudur untuk Menggali Nilai Budaya dan Spiritual
Sumber Foto: Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan
Sudut Aspek

Usulan Rekonstruksi Candi Borobudur untuk Menggali Nilai Budaya dan Spiritual

Pengembangan Candi Borobudur sebagai Situs Keagamaan

Magelang (17/2) -- Candi Borobudur, yang diakui sebagai salah satu destinasi wisata super prioritas di Indonesia, juga memiliki makna mendalam sebagai situs keagamaan umat Buddha terbesar dan tertua di tanah air. Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy mengusulkan perlunya rekonstruksi ulang untuk menggali potensi budaya dan spiritual yang terkandung di dalamnya.

Nilai Spiritual dan Budaya Candi Borobudur

Dalam pernyataannya setelah rapat koordinasi pengembangan Candi Borobudur, Muhadjir menekankan bahwa situs ini tidak dapat dilihat hanya dari aspek fisik. Ia menyatakan, "Borobudur ini tidak hanya dilihat dari aspek fisik, tapi sebetulnya di balik Borobudur ini ada sudut-sudut budaya, situs-situs keagamaan yang harus kita gali dan kita rekonstruksi ulang." Menurutnya, Candi Borobudur dibangun dengan tatanan nilai-nilai tertentu yang berhubungan dengan spiritualitas dan budaya, terutama bagi umat Buddha.

Pentingnya Menghormati Nilai Awal

Muhadjir berharap bahwa rekonstruksi yang diusulkan tidak hanya fokus pada keindahan bangunan, tetapi juga pada pengembalian nilai-nilai spiritual yang ada pada awal pembangunannya. Ia menegaskan bahwa penting untuk mengembalikan ruh spiritual bagi umat Buddha, baik di Indonesia maupun di seluruh dunia.

Ruang untuk Kegiatan Keagamaan

Ke depan, Candi Borobudur diharapkan dapat membuka ruang yang seluas-luasnya untuk kegiatan keagamaan umat Buddha, termasuk perayaan Hari Raya Waisak. Menko PMK berencana untuk mengundang umat Buddha dari seluruh dunia untuk berpartisipasi dalam upacara keagamaan di situs tersebut, meskipun Candi Borobudur tidak disebutkan dalam kitab suci umat Buddha. "Borobudur termasuk salah satu tempat yang dihormati oleh umat Buddha seluruh dunia," ujarnya.

Candi Borobudur dan Potensi Ziarah

Bhikku Sri Pannavaro Mahathera menambahkan bahwa meskipun Candi Borobudur tidak dapat disejajarkan dengan tempat suci yang terdapat dalam Kitab Tripitaka, tempat ini disucikan oleh umat Buddha di seluruh dunia karena keunikannya. "Borobudur bukan terbesar secara fisik dari bangunan-bangunan stupa atau bangunan-bangunan Buddha di dunia, tapi terbesar keunikannya yang tidak ada duanya di dunia ini baik di ASEAN maupun dunia," ujarnya. Ia juga menegaskan bahwa Candi Borobudur memiliki potensi untuk menjadi tempat ziarah bagi umat Buddha yang jumlahnya cukup besar di seluruh dunia.