Transformasi Ritel Jakarta 2025: F&B Lokal dan Global Menjadi Daya Tarik Utama
Aspek News - Konsep outdoor is the new indoor menjadi salah satu penanda transformasi ritel saat ini. Di Jakarta, sektor ritel terus beradaptasi seiring perubahan perilaku konsumen.
Pusat perbelanjaan yang mengedepankan pengalaman — dengan ruang yang inovatif dan pilihan tenant yang kompetitif — cenderung menjadi pemenang dalam fase pemulihan. Gerai makanan dan minuman (F&B) juga teridentifikasi terus tumbuh tangguh, ditandai dengan ekspansi sejumlah merek ritel F&B seperti Chagee, Sushiro, dan Sancha.
Pada akhir 2025, performa ritel masih beragam, bergantung pada segmentasi masing-masing pusat perbelanjaan. Ritel premium, misalnya, relatif kuat dengan masuknya tenant baru dari sektor F&B, fashion, dan lifestyle.
Knight Frank menilai, terjadi tren bifurkasi antara performa ritel kelas menengah atas dan menengah bawah. Ritel kelas menengah atas (premium) menunjukkan performa lebih unggul, ditopang kualitas bangunan atau desain, tenant mix yang kuat, lokasi strategis, serta tingkat kunjungan yang relatif solid. Kondisi ini mendorong flight to quality dari ritel kelas menengah bawah, yang performanya masih tertekan.
“Meski demikian, ketangguhan dan adaptasi para peritel di sepanjang tahun 2025 berbuah manis. Hal ini ditandai dengan rerata okupansi ritel yang meningkat tipis, meski ritel kelas menengah ke bawah masih terus beradaptasi untuk meningkatkan tingkat huniannya,” kata Willson Kalip, Country Head Knight Frank Indonesia, Kamis (27/2/2026).
Secara umum, pada semester II 2025, total pasokan mal meningkat 1% secara tahunan menjadi 4.377.690 m², dengan penambahan dua mal baru di Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan. Rerata tingkat okupansi ruang ritel berada di kisaran 77,9%, naik tipis dibanding awal tahun sebelumnya.
Dari sisi komersial, rerata harga sewa meningkat sekitar 1,1% dari tahun lalu. Ke depan, setidaknya tiga ritel baru diperkirakan masuk hingga 2026 di Jakarta Selatan dan Jakarta Pusat. Adapun new tenant sepanjang 2025 didominasi sektor F&B, fashion, beauty, lifestyle, dan sportswear.
“Transformasi ritel Jakarta saat ini bergerak menuju era experience-led retail, dengan konsep yang menjadi pembeda utama, yang mampu menghadirkan open-air lifestyle, social space, dan kurasi tenant yang relevan terbukti lebih resilien dalam fase pemulihan pasar. Sementara itu, omnichannel readiness perlu terus dikembangkan, karena sejatinya bangunan fisik ritel adalah bagian dari ekosistem online retail,” ungkapnya. (*)
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.




