Tantangan Hilirisasi Timah Indonesia: Dari Kualitas Global ke Daya Serap Domestik
Sumber Foto: Kompasiana.com
Internasional

Tantangan Hilirisasi Timah Indonesia: Dari Kualitas Global ke Daya Serap Domestik

Aspek News - Indonesia memang dikenal sebagai salah satu produsen timah terbesar di dunia. Produk timah dari negeri ini bahkan memiliki reputasi yang sangat kuat di pasar internasional berkat tingkat kemurnian yang mencapai 99,9%. Ketua Umum Asosiasi Eksportir Timah Indonesia (AETI), Harwendro Adityo Dewanto menyebutkan bahwa kualitas timah Indonesia sebagai yang paling dicari di dunia. "Brand timah Indonesia itu nomor satu di dunia. Paling banyak dicari orang karena kita hampir paling murni," ujarnya dengan penuh keyakinan.

Namun, di balik keunggulan tersebut, ada tantangan besar yang masih membayangi, yakni rendahnya daya serap domestik. Data AETI menunjukkan konsumsi timah dalam negeri hanya sekitar 5% hingga 7% dari total produksi nasional. Artinya, sebagian besar timah Indonesia masih bergantung pada pasar ekspor. Kondisi ini membuat agenda hilirisasi mineral belum sepenuhnya berhasil membentuk rantai pasok domestik yang kokoh.

Hilirisasi ini sejatinya bukanlah sekadar untuk meningkatkan kapasitas produksi atau membangun smelter saja. Namun lebih dari itu, hilirisasi menuntut hadirnya ekosistem industri hilir yang mampu menyerap komoditas secara berkelanjutan. Harwendro menegaskan bahwa minimnya investasi pada industri turunan timah menjadi salah satu hambatan utama. Industri perantara seperti elektronik, kimia, solder, plating, hingga komponen manufaktur belum tumbuh secara signifikan di dalam negeri.

Tanpa basis industri hilir yang kuat, pengembangan produk turunan timah di Indonesia menjadi kurang kompetitif dibandingkan mengekspor bahan setengah jadi. Hal ini membuat nilai tambah lebih banyak dinikmati oleh pasar global ketimbang industri nasional.

Keunggulan kualitas timah Indonesia memang menjadi kebanggaan, tetapi sekaligus menyimpan risiko. Ketergantungan tinggi terhadap pasar global membuat industri timah nasional rentan terhadap fluktuasi harga internasional dan dinamika geopolitik. Ketika harga dunia turun atau terjadi ketegangan politik antarnegara, dampaknya langsung terasa pada pelaku usaha di dalam negeri.

Situasi ini menunjukkan bahwa hilirisasi bukan hanya soal produksi saja, namun juga soal strategi menjaga stabilitas ekonomi nasional. Tanpa pasar domestik yang kuat, Indonesia akan terus berada dalam posisi bergantung pada permintaan luar negeri.

Lebih lanjut AETI menegaskan komitmennya untuk terus mendorong agenda hilirisasi sebagaimana tertuang dalam Asta Cita Presiden. Namun, Harwendro menekankan pentingnya desain kebijakan yang lebih komprehensif. Hilirisasi tidak boleh berhenti pada tier kedua (produksi bahan antara), tetapi harus berlanjut hingga terciptanya industri barang jadi bernilai tambah tinggi (tier ketiga).

"Ini menjadi tanggung jawab pemerintah untuk menciptakan industri-industri turunan baru dari timah maupun nikel agar hasilnya maksimal bagi negara. Harapannya tidak setop di tier kedua saja, tapi sampai menjadi barang jadi yang bisa langsung dikonsumsi," jelasnya.

Dengan kata lain, hilirisasi timah membutuhkan strategi yang menyeluruh, dengan mempercepat tumbuhnya industri turunan, memperluas permintaan domestik, dan menciptakan rantai pasok yang terintegrasi. Tanpa langkah-langkah tersebut, nilai tambah akan tetap lari ke luar negeri.

Indonesia memiliki modal besar berupa kualitas timah yang diakui dunia. Namun, modal itu harus diimbangi dengan pembangunan ekosistem industri dalam negeri. Hilirisasi merupakan proses panjang yang menuntut kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan investor.