Sepak Bola Italia Terpuruk di Eropa: Tantangan dan Perubahan Diperlukan
Aspek News - Kejayaan yang Tergerus
Inter merekrut Ronaldo dan Vieri dengan biaya rekor dunia pada akhir 1990-an, ketika Serie A menjadi liga paling bergengsi di dunia.
AC Milan pun pernah mengalahkan Juventus untuk meraih Liga Champions pada 2003, kalah dari Liverpool di final dua tahun kemudian, dan kembali menjadi juara Eropa pada 2007.
Kendati ada keberhasilan di kompetisi Eropa lain, Atalanta juara Liga Europa 2024, Roma juara Conference League 2021, Inter era Jose Mourinho (2010) adalah tim Italia terakhir yang menjuarai Liga Champions.
Ironisnya, meski memimpin klasemen Serie A 10 poin atas rival Milan dan empat poin atas juara bertahan Napoli, Inter tetap tersingkir lebih awal dari Eropa.
"Ini catatan sejarah buruk," kata jurnalis Vincenzo Credendino.
"Inter adalah yang terbaik di Italia, tapi mungkin saatnya berpikir jangka panjang, 10–15 tahun ke depan. Sepak bola Italia kini tidak berada pada level liga-liga top Eropa," tambahnya.
Struktur dan Kecepatan Jadi Masalah
Kondisi klub-klub Italia juga berdampak pada timnas, yang harus menang di play-off Maret untuk lolos ke Piala Dunia 2026. Italia terakhir kali menjuarai pada 2006.
"Ini masa sulit bagi sepak bola Italia, dan hal ini terbukti," kata Julien Laurens, pakar sepak bola Eropa, di BBC Radio 5 Live.
"Inter Milan memberi tekanan, tapi tidak cukup. Mereka tim terbaik Italia beberapa tahun terakhir, dan Napoli pun gagal menembus babak gugur. Situasinya buruk untuk Italia saat ini," ulasnya.
Musim ini, Inter hanya finis 10 besar fase grup Liga Champions dengan lima kemenangan dari delapan laga awal, Juventus 13, dan Atalanta 15. Namun, di play-off, ketiganya gagal melawan tim yang secara papan klasemen lebih rendah, tetapi bermain lebih intens.
"Apa artinya bagi sepak bola Italia? Perlu perubahan," ujar Verri.
"Sepak bola Italia lambat. Itu masalah struktural. Semua manajer di Italia akan mengaku sama. Saya bicara dengan Claudio Ranieri baru-baru ini; di Inggris, intensitas latihan sama, tapi mereka mempertahankan intensitas itu sepanjang pertandingan. Kami terlalu lambat, dan di Eropa itu merugikan," ujarnya.
Talenta Terbaik Merantau
Meskipun Inter memiliki skuad lebih mahal dengan gaji jauh lebih tinggi daripada Bodo, yang menurunkan sembilan pemain Norwegia di San Siro, Verri menilai klub-klub Italia kehilangan pemain terbaik ke luar negeri.
Contohnya, top scorer Serie A musim lalu, Mateo Retegui, pindah ke Al-Qadsiah di Arab Saudi, Ademola Lookman ke Atletico Madrid, dan Tijjani Reijnders dari AC Milan ke Manchester City.
Sementara sebagian besar skuad timnas masih bermain di Italia, nama-nama seperti Gianluigi Donnarumma, Riccardo Calafiori, Sandro Tonali, dan Retegui kini berada di luar negeri.
Laurens menambahkan, klub-klub Serie A kini kesulitan menghasilkan pemain muda yang siap bersaing di level tinggi.
"Sporting CP, Club Brugge, dan Bodo menunjukkan kesamaan sukses mereka musim ini: scouting hebat dan akademi efektif. Akademi di Italia tidak cukup menghasilkan pemain untuk tim utama. Cara pengeluaran uang mereka juga berbeda dari yang biasa kita lihat di klub Italia," tuturnya.
Sepak bola Italia kini menghadapi tekanan struktural dan prestasi. Babak play-off yang akan dijalani Juventus dan Atalanta menjadi ujian terakhir untuk mempertahankan reputasi Serie A di kancah Eropa.
Sumber: BBC




