Seminar Nasional Reaktualisasi Pemikiran Halwany Michrob untuk Banten Lama
Aspek News - Seminar Nasional bertajuk "Reaktualisasi Pemikiran Halwany Michrob dalam Revitalisasi Banten Lama" digelar untuk membahas masa depan Kawasan Cagar Budaya Kesultanan Banten pasca-revitalisasi fisik.
Awal Kejadian
Acara ini diselenggarakan oleh Perpustakaan Halwany dengan dukungan dari program Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Banten, berlangsung di Ruang Audiovisual Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama pada Minggu, 14 Juni 2026. Seminar tersebut mempertemukan berbagai pemangku kepentingan, termasuk kementerian, pemerintah daerah, akademisi, serta komunitas lokal.
Perkembangan
Ketua Panitia Penyelenggara, Dhepi Naufal Halwany, menekankan bahwa revitalisasi Banten Lama harus melampaui aspek visual modernisasi. Ia menyatakan pentingnya menghidupkan kembali nilai-nilai sejarah, budaya, pengetahuan, dan identitas masyarakat. Gagasan almarhum Prof. Halwany Michrob tentang Banten Lama sebagai "kota yang tertidur" mendapat pengakuan dari Direktur Warisan Budaya Kementerian Kebudayaan RI, Agus Widiatmoko, yang menilai visi Halwany relevan dengan agenda nasional saat ini. Agus menambahkan bahwa Kementerian Kebudayaan tengah melakukan reaktivasi seluruh keraton di Indonesia, termasuk di Banten Lama.
Seminar ini menghadirkan lima narasumber yang membahas berbagai perspektif terkait revitalisasi. Di sesi Sejarah & Aspirasi, Ade Jaya Suryani dari UIN SMH Banten membahas disertasi ilmiah Halwany, sementara KH Embay Mulya Syarief menyoroti tanggung jawab moral terhadap sejarah. Di sesi Evaluasi & Kebijakan, Adieyatna Fajri dari NIOD Institute memberikan kritik terhadap proyek fisik sebelumnya, dan Yan Ardiansyah Achmad dari DPUPR Banten memaparkan rencana strategis untuk delineasi kawasan.
Kepala BPK Banten, Swedhi Hananta, menegaskan pentingnya kepatuhan terhadap UU Cagar Budaya dan pembentukan badan pengelola yang terpadu. Ia mengingatkan tantangan yang dihadapi, seperti pelapukan material kuno dan resistensi relokasi pedagang, serta perlunya tata kelola yang terstruktur untuk mengintegrasikan berbagai kepentingan di Banten Lama.
Kondisi Terakhir
Seminar ini diharapkan dapat melahirkan rekomendasi konkret untuk menyelamatkan marwah peradaban Islam Nusantara di tanah Banten dan tidak hanya menjadi ruang diskusi semata.




