Selebritas Hollywood Galang Dukungan untuk Palestina di Tengah Konflik
MUDANESIA - Konflik Palestina–Israel yang telah berlangsung berabad-abad kembali mencuat ke panggung global, kali ini lewat suara para selebritas Hollywood. Tragedi kemanusiaan yang menimpa perempuan, anak-anak, hingga lansia di Gaza membuat para bintang dunia tak lagi diam. Mereka menjadikan ajang-ajang bergengsi sebagai ruang untuk menyampaikan solidaritas.
Javier Bardem, aktor asal Spanyol, tampil mengenakan keffiyeh dalam gelaran Emmy Awards 2025 pada Senin (15/9/2025). Tindakannya menjadi simbol kepedulian terhadap rakyat Palestina yang tengah berjuang di tengah blokade dan serangan. Aksi Bardem langsung menyita perhatian publik, sekaligus mengundang diskusi global.
Tak hanya Bardem, aktris Hannah Einbinder dan Ruth Negga pun ikut mengangkat isu Gaza di panggung yang sama. Gelombang dukungan ini menguat, seolah menegaskan bahwa Palestina bukan lagi sekadar “isu kawasan,” melainkan tragedi kemanusiaan yang tak bisa diabaikan.
Dari Solidaritas ke Aksi Nyata
Banyak selebritas mengubah empati menjadi langkah konkret. Angelina Jolie secara terbuka mengecam kekerasan yang dialami warga Gaza, sementara Emma Watson pernah viral dengan unggahan “Solidarity is a verb” yang mengajak jutaan pengikutnya untuk peduli. Musisi The Weeknd bahkan menyumbangkan 2,5 juta dolar AS untuk menyediakan jutaan porsi makanan darurat bagi penduduk Palestina.
Empati serupa datang dari aktris Nicola Coughlan (Bridgerton) yang mengaku memiliki kedekatan emosional dengan wilayah Yerusalem, tempat keluarganya pernah tinggal. Ia berani menegaskan dukungannya meski sadar ada risiko kehilangan pekerjaan.
Gerakan Kolektif di Industri Film
Di luar individu, solidaritas juga terbentuk lewat komunitas. Film Workers for Palestine, organisasi yang beranggotakan lebih dari 8 ribu pekerja film, aktif menggalang aksi boikot terhadap karya perfilman Israel. Tokoh-tokoh besar seperti Mark Ruffalo, Riz Ahmed, hingga Tilda Swinton mendukung gerakan ini sebagai perlawanan terhadap narasi yang dianggap menutupi penderitaan rakyat Palestina.
Media Sosial Jadi Katalis




