Riot Games Pertimbangkan Voice Chat Publik di League of Legends, Komunitas Cemas Toksisitas Meningkat
Riot Games, pengembang di balik game MOBA populer League of Legends (LoL), dikabarkan tengah mempertimbangkan untuk menambahkan fitur voice chat publik. Informasi ini memicu kekhawatiran di kalangan komunitas pemain, terutama terkait potensi peningkatan toksisitas dalam permainan.
League of Legends akan memperkenalkan fitur voice chat ke dalam permainan.
Fitur komunikasi suara ini dirancang untuk digunakan antar anggota tim selama pertandingan.
Kekhawatiran utama komunitas adalah potensi peningkatan toksisitas dan pelecehan verbal.
Pengalaman serupa di game online lain sering menjadi dasar kekhawatiran para pemain.
Fitur ini dianggap sebagai salah satu yang paling kontroversial di kalangan komunitas LoL.
Kabar mengenai fitur baru ini pertama kali muncul setelah akun Twitter SkinSpotlights menemukan sejumlah file di Public Build Environment (PBE) LoL. File-file tersebut mengacu pada sistem pelaporan yang mencakup opsi “VOICE COMMS ABUSE”, serta indikasi adanya tombol untuk voice chat berbasis party dan tim. Penemuan ini mengisyaratkan bahwa voice chat publik, yang memungkinkan pemain berkomunikasi dengan orang asing secara acak, mungkin akan segera diimplementasikan.
Baca artikel informatif lainnya di Mureks melalui laman mureks.co.id.
Jordan Gerblick, seorang penulis staf di GamesRadar+ dan mantan pemain LoL yang mengaku sebagai “recovering jungler”, secara terbuka menyatakan kekhawatirannya. “Saya ingin mengatakan secara terbuka bahwa menurut saya itu ide yang sangat buruk,” ujar Gerblick. Ia mengaku telah berhenti bermain League of Legends bertahun-tahun lalu demi kesehatan mentalnya, mengingat lingkungan game MOBA, khususnya LoL, yang ia nilai sangat toksik.
Dampak Potensial pada Komunitas Pemain
Menurut Gerblick, peran jungler seringkali menjadi sasaran utama cercaan dan kritik dari rekan satu tim, terlepas dari performa mereka. Ia membayangkan bahwa penambahan voice chat publik akan memperburuk situasi ini, mengubah pengalaman bermain menjadi “45 menit umpatan yang semakin sering diteriakkan langsung ke telinga Anda oleh empat pria kulit putih paruh baya secara bersamaan.”
Meskipun voice chat dalam party sudah tersedia bagi pemain LoL, fitur voice chat publik akan memungkinkan interaksi langsung dengan pemain acak. Riot Games kemungkinan akan menyediakan opsi untuk mengaktifkan atau menonaktifkan fitur ini, namun kekhawatiran tetap ada bahwa hal tersebut hanya akan “mengipasi api” di lingkungan yang sudah sangat toksik.
Mureks mencermati adanya keraguan dari Gerblick mengenai kebutuhan atau permintaan untuk fitur semacam ini di League of Legends. Ia khawatir terhadap nasib sesama jungler yang mungkin akan terus menerima kritik pedas dari rekan satu tim yang kesulitan mempertahankan lane mereka.




