Resonansi Penampilan Bad Bunny: Solidaritas Global Selatan dalam Budaya Populer
Sumber Foto: magdalene.co
Internasional

Resonansi Penampilan Bad Bunny: Solidaritas Global Selatan dalam Budaya Populer

Penampilan Bad Bunny memantik resonansi lintas benua karena menyentuh pengalaman Global South: nostalgia, komunitas, migrasi, dan jejak kolonial yang belum selesai.

Penampilan Bad Bunny yang unapologetically Latin di panggung Super Bowl, dengan dentuman reggaeton, Latin trap, dan visual yang menyinggung sejarah kolonial Puerto Riko, terasa seperti sebuah pernyataan politik yang sengaja tidak disamarkan. Di tengah menguatnya sentimen anti-imigran di Amerika Serikat, tampil “terlalu Latin” di ruang yang biasanya steril dari konteks politik justru menjadi sesuatu yang terasa radikal.

Bukan hal aneh kalau penampilan itu memantik reaksi keras dari kelompok konservatif dan pro-MAGA. Tapi yang menarik, tepuk tangan dan rasa terwakili tidak hanya datang dari Amerika Latin. Banyak orang di Asia dan wilayah lain ikut merasakan resonansi yang sama. Seakan warna, ritme, dan simbol yang dibawa Bad Bunny membuka pintu menuju pengalaman yang familiar. Pengalaman hidup di negara-negara yang kerap disebut “Selatan” (Global South), dengan sejarah kolonial, ketimpangan ekonomi, dan daya tahan komunitas yang dibangun dari bawah.

Baca juga: Rasisme dan Isu Kelas Sosial: Alasan Publik Berat Menerima Kemenangan Harry Styles di Grammy Awards

Rasa itu sebenarnya sudah mengendap sejak album DeBÍ TiRAR MáS FOToS (DTmF) dirilis. Sampul album yang menampilkan dua kursi plastik putih di halaman, dikelilingi pohon pisang, mendadak menjadi simbol yang melampaui musik. Dua kursi itu bukan sekadar properti visual, melainkan potongan memori kolektif yang bisa muncul di banyak tempat, dari halaman rumah, warung kecil, teras tetangga, atau sudut gang. Sebuah “bahasa benda” yang dipahami lintas benua.

Akun Instagram 5050Collective yang banyak mengangkat desain dan estetika di luar standar eurosentris, pernah menampilkan kolase foto orang-orang dari Afrika, Asia, dan Amerika Latin dengan kursi plastik serupa. Kursi yang sama mudah ditemukan dari pinggir jalan Hanoi sampai Lagos. Saya juga mengenalnya sejak kecil, di kampung halaman orang tua saya di Bone dan Sinjai, Sulawesi Selatan. Rumah-rumah kayu memang banyak berubah menjadi rumah bata, tetapi kursi plastik itu tetap duduk manis di teras.

Dari kursi plastik, kita tiba pada kata yang sering muncul ketika membahas masyarakat “Timur”, yakni kolektivisme. Ada anggapan populer bahwa kolektivisme lekat dengan Asia, sementara individualisme milik Barat. Tapi pembagian ini sering terlalu rapi untuk kenyataan yang berantakan.

Penelitian bertajuk Individualism–Collectivism: Reconstructing Hofstede’s Dimension of Cultural Differences yang dimuat Journal of Personality and Social Psychology (2025) menunjukkan bahwa yang kita sebut kolektivisme juga dibentuk oleh banyak hal, dari kondisi ekonomi, keamanan sosial, akses layanan, sampai sejarah migrasi. Di banyak tempat, “komunitas yang rekat” bukan sekadar preferensi budaya, melainkan strategi bertahan hidup.

Mungkin itulah mengapa Bad Bunny terasa dekat. Bukan karena kita sama persis, tetapi karena ada pola pengalaman yang mirip. Produk budaya pun sering seperti “pinang dibelah dua.” Kadang saya berpikir sambal salsa adalah dabu-dabu versi Amerika Latin. Atau ensalada de frutas con chile di Meksiko yang mengingatkan pada rujak. Ada hal-hal seperti makanan pedas, iklim tropis, dan kebiasaan nongkrong di teras, yang menyeberangkan kita pada rasa kolektif yang sama.

Isu migrasi, misalnya, sangat lekat dengan kehidupan masyarakat Amerika Latin. Bekerja jauh dari kampung, mengirim uang pulang, dan pulang dengan tubuh yang lelah tetapi tetap disambut sebagai tumpuan keluarga, adalah kisah yang juga akrab di banyak keluarga Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Begitu pula gentrifikasi di Puerto Riko yang didorong berbagai insentif bagi investor dan membuat harga tanah melonjak, warga tersingkir, dan budaya lokal terdorong ke pinggiran. Di Indonesia, pola serupa bisa kita lihat di Bali, dengan biaya hidup dan properti melesat, membuat penduduk lokal makin sulit bertahan di rumahnya sendiri. Dalam cerita-cerita itu, “pembangunan” sering datang sebagai janji, tetapi menyisakan pertanyaaan, untuk siapa?

Baca juga: Fakta Grammy Awards 2026: Dari Golden Menang, Lawan ICE, Sampai Rekor Kendrick Lamar

Solidaritas yang lahir dari riwayat penindasan

Jika kita tarik garis lebih jauh, kemiripan pengalaman di antara negara-negara Selatan-selatan tidak bisa dilepaskan dari kolonialisme. Ada sejarah panjang pertukaran lintas wilayah lewat perdagangan, migrasi, dan gagasan yang kemudian dipaksa berbelok oleh proyek kolonial Eropa. Sejarawan Vijay Prashad menyebutnya sebagai polikulturalisme: gagasan bahwa budaya bukan benda beku, melainkan hasil pertemuan, percampuran, dan pergulatan yang terus bergerak.

Berbeda dengan multikulturalisme yang populer dalam versi selebrasi keragaman, polikulturalisme menolak berhenti pada perayaan. Ia menuntut kita untuk bertanya, siapa yang diuntungkan dari struktur sosial tertentu? Siapa yang dirugikan? Dan bagaimana rasisme, supremasi, atau penindasan kelas bekerja di dalam budaya sehari-hari?

Dalam konteks pertunjukan Bad Bunny, semangat anti-kolonial itu tampak ketika ia menyinggung perbudakan, kolonialisme, dan eksploitasi ekonomi, misalnya lewat simbol perkebunan tebu di Puerto Riko. Pesannya terdengar jelas, bahwa penjajahan bukan kisah lampau. Dampaknya masih hidup di tanah, upah, harga rumah, sampai identitas.

Di Indonesia, semangat anti-kolonial pernah dirayakan secara global melalui Konferensi Asia-Afrika (Bandung, 1955). Tapi hari ini, ketika neokolonialisme hadir dalam bentuk baru—ekstraksi sumber daya, perjanjian dagang yang timpang, hingga praktik investasi yang mengusir warga—kita juga perlu bahasa solidaritas yang lebih segar, lebih tajam, dan lebih jujur. Jujur juga berarti berani mengkritik penindasan yang terjadi di negeri sendiri. Ketika kekerasan dan pelanggaran hak asasi masih menimpa komunitas tertentu, dari Aceh sampai Papua, dan juga ketika kita menyaksikan ketidakadilan di Palestina.

Namun, solidaritas tidak bisa berhenti pada rasa “terwakili” oleh satu tokoh. Bahkan Bad Bunny pun tidak kebal kritik. Ia dikenal politis, misalnya ketika membatalkan tur Eropa untuk mengikuti aksi protes anti-korupsi dan pengunduran diri Gubernur Puerto Riko, Ricardo Rosselló pada 2019. Tetapi produk budaya pop selalu membawa kontradiksi. Sebuah laporan menyebut ia mengenakan pakaian dari ZARA, jenama fast fashion yang kerap dikritik karena rantai pasoknya melibatkan eksploitasi buruh tekstil (sering perempuan), upah rendah, hingga dampak limbah. Artinya, representasi bisa membuka pintu percakapan, tetapi tidak otomatis membuat ekosistemnya etis.

Hal yang sama berlaku untuk panggung besar seperti Super Bowl yang terikat sponsor korporasi. Kita hidup di zaman ketika kritik terhadap eksploitasi harus bersanding dengan kenyataan bahwa budaya populer sering bergantung pada rantai produksi global yang problematic, dari garmen sampai mineral kritis untuk perangkat teknologi.

Baca juga: 5 Fakta Penting Soal Penangkapan Nicolás Maduro

Di titik ini, istilah “ Global South ” pun layak dipertanyakan. Ia bisa membantu kita menamai pengalaman yang sering dipinggirkan oleh pusat kekuasaan global, tetapi ia juga lahir dari sejarah kategorisasi pascakolonial yang kadang masih menyisakan nuansa “ othering.” Kalau semata geografis, Australia juga ada di selatan. Jadi, “Selatan” bukan hanya soal letak, melainkan posisi dalam sistem ekonomi-politik global—siapa yang mengekstraksi, siapa yang diekstraksi.

Maka, mungkin pertanyaan setelah kita merasa “terhubung” lewat kursi plastik dan musik adalah, bagaimana mengorganisir diri? Bagaimana mengubah nostalgia menjadi solidaritas yang lebih konkret untuk mendukung gerakan buruh, menuntut rantai pasok yang adil, memperkuat jejaring komunitas, dan terus bersuara ketika rumah orang lain dirampas atas nama pembangunan?

Jangan sampai suatu hari kita hanya bisa berkata, “Debí tirar más fotos” atau “Saya seharusnya mengambil lebih banyak foto”, ketika rumah sudah tak lagi menjadi rumah.

Tags:

Bad Bunny Budaya Populer gentrifikasi Global South kolektivisme Kolonialisme kursi plastik neokolonialisme polikulturalisme Puerto Riko solidaritas Selatan-selatan