Permintaan Tenaga Profesional TI Tetap Tinggi di Era AI
Aspek News - Permintaan akan tenaga profesional di bidang teknologi terus meningkat.
Perkembangan pesat kecerdasan buatan (AI) mengubah cara orang belajar, bekerja, dan berkreasi. Alat-alat seperti ChatGPT, Gemini, dan Copilot dapat menulis kode pemrograman, menganalisis data, dan mendukung pengembangan perangkat lunak, sehingga banyak siswa dan orang tua bertanya-tanya: Akankah AI menyebabkan industri Teknologi Informasi (TI) secara bertahap kehilangan daya tariknya?
Pada kenyataannya, AI tidak mengurangi daya tarik sektor teknologi. Menurut angka pendaftaran tahun 2025, lebih dari 54.000 kandidat mendaftar Ilmu Komputer dan Teknologi Informasi sebagai pilihan pertama mereka, meningkat lebih dari 2.000 dibandingkan tahun sebelumnya. Bidang yang terkait dengan kecerdasan buatan juga mengalami peningkatan jumlah kandidat yang berminat.
Tren ini mencerminkan tingginya permintaan akan tenaga profesional teknologi di tengah transformasi digital yang kuat yang terjadi di semua sektor. Tidak hanya perusahaan teknologi, tetapi banyak industri seperti keuangan, perbankan, e-commerce, logistik, manufaktur, dan pendidikan membutuhkan sumber daya manusia yang mampu bekerja dengan data dan platform digital.
Menurut Dr. Vo Thanh Hai, Wakil Direktur Tetap Universitas Duy Tan, teknologi pada dasarnya adalah alat untuk meningkatkan produktivitas kerja. Oleh karena itu, banyak universitas saat ini mengintegrasikan keterampilan teknologi digital ke dalam program pelatihan mereka untuk membantu mahasiswa beradaptasi lebih baik dengan pasar kerja.
Ia berpendapat bahwa bidang-bidang baru seperti AI, big data, dan industri semikonduktor semuanya membutuhkan mahasiswa untuk memiliki fondasi yang kuat dalam ilmu pengetahuan alam, pemikiran logis, dan kemampuan belajar yang gigih. Inilah juga mengapa banyak universitas beralih secara signifikan ke pelatihan interdisipliner, menggabungkan pengetahuan khusus dengan keterampilan teknologi digital.
Musim penerimaan mahasiswa baru tahun 2026 terus menunjukkan tren ini. Universitas Industri Hanoi merekrut 8.300 mahasiswa untuk 72 jurusan dan program pelatihan, sekaligus membuka jurusan baru di bidang Kecerdasan Buatan, Mikrochip Semikonduktor, dan Teknologi Material. Universitas Teknik Elektro merekrut lebih dari 8.000 mahasiswa, menambahkan banyak jurusan yang terkait dengan transformasi digital seperti Mikroelektronika dan Nanoteknologi, Jaringan Komputer dan Komunikasi Data, dan Teknik Sistem Industri.
Jika teknologi informasi (TI) benar-benar menjadi usang karena AI, universitas akan kesulitan untuk secara bersamaan memperluas program pelatihan mereka di bidang teknologi tinggi seperti yang mereka lakukan saat ini. Hal ini menunjukkan bahwa permintaan akan sumber daya manusia di bidang AI, data, semikonduktor, dan infrastruktur digital akan tetap sangat tinggi di masa mendatang.
Pada kenyataannya, AI dapat menggantikan beberapa pekerjaan teknis sederhana, tetapi belum dapat menggantikan orang-orang dengan kemampuan kreatif, pemikiran sistem, dan kapasitas untuk memecahkan masalah praktis. Permintaan akan profesional TI tidak menurun; sebaliknya, persyaratan untuk pekerja semakin tinggi.
Jangan mengejar industri yang sedang "populer"; yang terpenting adalah kesesuaian.
Terpikat oleh daya tarik teknologi, banyak siswa memilih IT, karena percaya bahwa bidang ini menawarkan peluang kerja yang mudah dan penghasilan tinggi. Namun, para ahli memperingatkan bahwa memilih bidang hanya karena sedang tren membawa banyak risiko dalam lanskap teknologi yang berubah dengan cepat.
Profesor Chu Duc Trinh, Rektor Universitas Teknologi (Universitas Nasional Vietnam, Hanoi), percaya bahwa tidak ada bidang studi yang tetap "populer" secara konsisten di semua tahapan perkembangan. Kebutuhan tenaga kerja masyarakat terus berubah seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan ekonomi. Oleh karena itu, mahasiswa tidak boleh memilih jurusan hanya berdasarkan tren yang cepat berlalu, tetapi harus mempertimbangkan kemampuan, kekuatan, dan minat mereka sendiri.
Menurutnya, hal terpenting bagi mahasiswa teknologi bukanlah mengejar teknologi terbaru yang muncul setiap hari, tetapi membangun fondasi pengetahuan inti yang kokoh. Dengan fondasi yang baik dalam matematika, ilmu komputer, dan pemikiran logis, para pelajar akan mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi di masa depan.
Pandangan ini juga dianut oleh Dr. Vo Thanh Hai, yang percaya bahwa pemilihan bidang studi harus didasarkan pada kesesuaian antara kemampuan individu, minat, dan peluang karir. Suatu bidang studi mungkin menarik saat ini, tetapi kemungkinan besar bukan pilihan yang tepat jika siswa tidak benar-benar menyukainya dan tidak mampu menekuninya dalam jangka panjang.
Di era AI, nilai seorang ahli teknologi tidak lagi terletak pada berapa banyak baris kode yang dapat mereka tulis, tetapi pada kemampuan mereka untuk menciptakan solusi, mengembangkan produk, dan menerapkan teknologi untuk memecahkan masalah dunia nyata. Oleh karena itu, menurut Profesor Chu Duc Trinh, mahasiswa teknologi harus bercita-cita menjadi pencipta teknologi, bukan hanya pengguna teknologi.
AI mengubah cara kita belajar dan bekerja, tetapi juga membuka peluang karier baru yang belum pernah terjadi sebelumnya. Bagi mereka yang memiliki basis pengetahuan yang solid, kemampuan belajar berkelanjutan, dan pemikiran kreatif, TI akan tetap menjadi salah satu bidang yang paling menjanjikan selama bertahun-tahun mendatang. Pertanyaan penting bukanlah apakah AI akan menggantikan TI, tetapi bagaimana para pembelajar mempersiapkan diri untuk beradaptasi dan menciptakan nilai di era baru ini.




