Penyalahgunaan AI dalam Lamaran Kerja Kurangi Sentuhan Pribadi dan Akurasi
Sumber Foto: Vietnam.vn
Teknologi

Penyalahgunaan AI dalam Lamaran Kerja Kurangi Sentuhan Pribadi dan Akurasi

Aspek News - Dengan semakin meningkatnya penerapan kecerdasan buatan (AI), semakin umum bagi pelamar kerja untuk menggunakan alat ini guna meningkatkan resume mereka.

Namun, pada kenyataannya, jika AI digunakan secara berlebihan, resume dan surat lamaran berisiko menjadi kaku dan kurang sentuhan pribadi, sehingga menyulitkan baik kandidat maupun perekrut.

Menurut Solange Meunier, Direktur di Robert Half, sebuah perusahaan perekrutan Belgia, penggunaan AI untuk membantu menyusun lamaran pekerjaan menawarkan banyak manfaat, tetapi juga mengungkap sejumlah keterbatasan.

"Ini tentu bermanfaat, tetapi kami telah memperhatikan bahwa sejumlah besar catatan cenderung menjadi hampir identik," katanya.

Kesamaan ini menyulitkan perekrut untuk menilai secara akurat pengalaman praktis dan tingkat antusiasme kandidat. Ketika semua resume "distandarisasi" menurut templat umum, unsur personal, yang sangat penting dalam perekrutan, dengan mudah terabaikan.

Menurut para ahli, efektivitas AI sangat bergantung pada bagaimana kandidat menggunakannya. Hanya meminta alat tersebut untuk menyesuaikan CV dan surat lamaran agar sesuai dengan deskripsi pekerjaan (JD) membawa risiko tinggi menghasilkan lamaran yang identik.

Selain itu, AI dapat "memperindah" informasi. Meskipun kualifikasi dan pengalaman adalah fakta konkret, alat ini tetap dapat menyimpulkan keterampilan tambahan, atau bahkan "menciptakan" kualitas untuk membuat resume menonjol sesuai dengan persyaratan pekerjaan.

Untuk mengatasi masalah ini, Solange Meunier menyarankan agar pelamar memberikan data masukan yang lengkap dan menggunakan AI sebagai alat bantu, daripada sepenuhnya bergantung padanya.

"Para kandidat perlu berpikir kritis tentang saran yang dihasilkan AI dan menghindari terlalu memoles resume mereka," tegasnya.

Faktanya, ada beberapa kasus di mana pelamar melakukan kesalahan saat menggunakan AI, seperti lupa mengedit detail dasar seperti baris "[Isi nama perusahaan di sini]" dalam surat lamaran mereka. Ini menunjukkan bahwa AI tidak dapat sepenuhnya menggantikan peran manusia dalam proses lamaran.

Peringatan tentang penyalahgunaan AI tidak hanya berlaku untuk pelamar kerja tetapi juga untuk perekrut. Menurut Solange Meunier, bisnis tidak seharusnya menyerahkan sepenuhnya pembuatan lowongan pekerjaan atau penyaringan awal resume kepada AI.

Pada kenyataannya, banyak bisnis mencoba menangani perekrutan sendiri tetapi kemudian kewalahan oleh banyaknya lamaran yang serupa, sehingga memaksa mereka untuk mencari bantuan dari agen khusus.

Hal ini menunjukkan bahwa AI tidak mengurangi peran para profesional perekrutan, melainkan justru semakin menyoroti nilai mereka.

Menurut para ahli, profil yang dihasilkan AI seringkali bersifat kaku, secara mekanis mengulang kata kunci dan kurang mendalam dalam ekspresi. Meskipun beberapa kasus yang rumit sulit diidentifikasi, sentuhan pribadi tetap menjadi elemen yang tak tergantikan.

Yang lebih penting lagi, rekrutmen tidak hanya sebatas CV atau surat lamaran. Tren saat ini menunjukkan bahwa bisnis semakin fokus pada keterampilan praktis, kemampuan belajar, dan kesesuaian budaya kandidat.

Wawancara, tes, dan skenario simulasi memainkan peran penting dalam menilai kemampuan dan potensi pengembangan secara komprehensif.

Sebuah survei terbaru yang diterbitkan oleh Robert Half mengungkapkan bahwa sekitar 66% manajer perekrutan di Belgia kesulitan menarik calon kandidat potensial.

Menurut Solange Meunier, menghubungkan kebutuhan keterampilan bisnis dengan pasar tenaga kerja tetap menjadi masalah yang menantang. Dihadapkan pada kenyataan ini, banyak bisnis terpaksa menyesuaikan ekspektasi mereka.

Secara spesifik, 84% usaha kecil dan 82% usaha menengah mengatakan bahwa mereka melonggarkan beberapa persyaratan untuk lowongan pekerjaan agar tidak kehilangan kandidat yang berkualitas.

Selain itu, 65% manajer perekrutan menganggap retensi talenta sebagai salah satu tantangan terbesar di tahun 2026.

Angka-angka di atas menunjukkan bahwa, terlepas dari banyaknya manfaat AI, unsur manusia tetap menjadi inti dari perekrutan. Penggunaan teknologi yang bijaksana, dikombinasikan dengan penilaian mendalam, akan menjadi kunci untuk membantu bisnis beradaptasi secara efektif di pasar kerja yang semakin kompetitif.

(VNA/Vietnam+)

Sumber: https://www.vietnamplus.vn/lam-dung-ai-khien-ho-so-xin-viec-thieu-dau-an-ca-nhan-sai-lech-thong-tin-post1103427.vnp