Pentingnya Bahasa Asing sebagai Investasi Masa Depan Anak
Sumber Foto: RRI.co.id
Internasional

Pentingnya Bahasa Asing sebagai Investasi Masa Depan Anak

Aspek News - RRI.CO.ID, Surakarta - Kemampuan berbahasa asing dinilai menjadi investasi penting bagi masa depan anak di tengah era globalisasi. Bahasa tidak lagi sekadar alat komunikasi, tetapi juga menjadi jembatan untuk membuka akses pendidikan, karier, dan jejaring internasional.

Hal itu mengemuka dalam dialog Jagongan Pro 4 RRI Surakarta, Rabu 25 Februari 2026, yang menghadirkan Kepala SMP Bina Widya Surakarta Eko Budi Purwanto, Guru Bahasa Mandarin Andrew Setiawan, serta siswa kelas 8 Philips Kristiawan. Guru Bahasa Mandarin SMP Bina Widya Surakarta, Andrew Setiawan, menyebut penguasaan bahasa asing sebagai bekal penting untuk menghadapi persaingan global.

“Kita hidup di era keterbukaan. Bahasa asing membuka akses ilmu, peluang kerja, dan jejaring internasional. Saya belum pernah menemukan orang yang mahir bahasa asing tetapi tidak punya pekerjaan,” ujarnya.

Lanjutnya, sejak dahulu tokoh bangsa Indonesia telah menyadari pentingnya bahasa asing. Ia mencontohkan H. Agus Salim dan Buya Hamka yang menguasai berbagai bahasa untuk memperluas wawasan serta membangun bangsa.

Sementara itu, Kepala SMP Bina Widya Surakarta, Eko Budi Purwanto, menjelaskan sekolahnya menekankan pembelajaran Bahasa Inggris dan Mandarin karena keduanya memiliki peran strategis di tingkat global.

“Bahasa Inggris adalah bahasa internasional. Sedangkan Mandarin penting karena Tiongkok menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia, dan kerja sama Indonesia–Tiongkok terus berkembang,” ucapnya.

Penguasaan bahasa asing dapat menjadi nilai tambah dalam dunia kerja. Meski demikian, pembelajaran tetap diimbangi dengan penguatan karakter dan kedisiplinan siswa.

Di SMP Bina Widya Surakarta, terdapat program hari bahasa untuk membiasakan siswa menggunakan bahasa asing dalam percakapan sehari-hari. Senin dan Rabu ditetapkan sebagai hari Bahasa Mandarin, Selasa dan Kamis Bahasa Inggris, sementara Jumat bebas.

Sekolah juga menghadirkan guru penutur asli (native speaker) untuk Bahasa Mandarin. Menyediakan kelas khusus bagi siswa pemula yang belum pernah belajar bahasa tersebut.

Dari sisi siswa, Philips Kristiawan mengaku mulai belajar bahasa asing sejak usia lima tahun. Menurutnya, belajar bahasa asing tidak sulit selama dilakukan dengan latihan dan konsistensi.

“Belajar bahasa asing itu tidak sulit kalau kita mau belajar dan sering latihan,” katanya.

Philips menekankan pentingnya keberanian untuk berbicara dan memperhatikan pelafalan agar kemampuan bahasa semakin berkembang. Meski mendorong penguasaan bahasa asing, para narasumber sepakat bahwa bahasa Indonesia dan bahasa daerah tetap harus dijaga sebagai identitas bangsa.

Bahasa asing, menurut mereka, merupakan suplemen untuk memperluas wawasan, sementara bahasa ibu adalah akar budaya yang tidak boleh ditinggalkan.