Pelatih Naftalia Nurayalza: Kembangkan Karakter dan Tanggung Jawab di Sepak Bola Putri
RADARBANDUNG.id – Pelatih Persib Putri U15, Naftalia Nurayalza, mengaku cukup puas dengan hasil imbang yang diraih timnya saat menghadapi Goal Aksis dalam ajang Hydroplis Soccer League. Menurutnya, performa para pemain menunjukkan perkembangan yang positif, terutama dari segi tanggung jawab dan permainan tim.
“Hasil pertandingan kali ini saya cukup puas, karena anak-anak walaupun hasilnya imbang, mereka bermain bagus, luar biasa, dan bertanggung jawab dari menit nol sampai menit akhir,” ujar Naftalia.
Pelatih berlisensi C Diploma asal Bandung yang kini berusia 23 tahun itu menilai, memasuki setengah putaran kompetisi, perkembangan tim terlihat cukup signifikan. Ia menyebut pada awal musim para pemain masih berusaha membangun chemistry, namun seiring bertambahnya pertandingan, kekompakan tim semakin terbentuk.
“Perkembangan sampai hari ini cukup luar biasa. Semakin banyak pertandingan yang dilewati, chemistry semakin menyatu. Dari segi fisik dan teknik juga sudah lebih menguasai, lebih tenang, dan semakin mengerti arti sepak bola secara tim,” katanya.
Persib Putri U15 juga mencatatkan hasil positif dengan belum terkalahkan hingga separuh musim. Naftalia menegaskan, fokus utama tim bukan semata-mata kemenangan, melainkan pembinaan karakter dan tanggung jawab pemain.
“Treatment ke anak-anak lebih membangun chemistry dan rasa tanggung jawab yang tinggi. Usia pembinaan harus ditanamkan itu, bukan untuk menang saja. Kita juga menanamkan rasa kekeluargaan tim, serta fisik dan teknik yang seimbang,” jelasnya.
Ia menilai persaingan kompetisi juga semakin ketat, terutama dengan tim-tim papan atas yang terus berkembang.
“Hampir semua tim selalu berlatih bersama-sama, jadi chemistry juga semakin tinggi. Khususnya tiga teratas, seperti Mojang dan Goal Aksis, itu menjadi saingan terberat kami. Liga ini bagus sebagai wadah pembinaan anak-anak usia dini, khususnya putri,” ungkapnya.
Naftalia menceritakan perjalanan kariernya sebagai pelatih yang terbilang unik. Ia mengaku tidak berasal dari latar belakang sepak bola, melainkan basket. Namun, pandemi Covid-19 menjadi titik awal dirinya terjun ke dunia sepak bola.
“Awalnya saya dari Porprov, tapi basic saya sebenarnya bukan dari sepak bola, melainkan basket. Waktu kuliah saya iseng ambil lisensi, ternyata berlanjut. Saya dihubungi Akademi Persib dan pertama kali menjadi asisten di sana, lalu berlanjut sampai sekarang,” tuturnya.
Ia telah menjalani peran sebagai pelatih selama kurang lebih dua tahun. Sebagai pelatih muda, Naftalia mengakui menghadapi berbagai tantangan, mulai dari adaptasi dengan cabang olahraga baru hingga membangun wibawa di hadapan pemain yang usianya tidak terpaut jauh.
“Tantangan pertama karena saya basic bukan dari sepak bola. Kedua, saya dulu kurang percaya diri dalam komunikasi di depan banyak orang. Ketiga, usia pemain hampir seumuran, jadi awalnya mereka melihat saya seperti kakak, bukan pelatih,” katanya.
Meski demikian, seiring waktu, ia merasakan perubahan sikap dari pemain maupun orang tua.
“Mungkin di awal ada yang menyepelekan, tapi semakin ke sini mereka memandang saya sebagai pelatih dan ada batasan yang terjaga,” ujarnya.
Naftalia juga menyoroti perkembangan sepak bola putri di Indonesia yang menurutnya mulai menunjukkan kemajuan, terutama dengan adanya kompetisi usia dini. Namun, ia menilai keberlanjutan kompetisi masih menjadi pekerjaan rumah.
“Wadah sudah ada, tapi ke depannya liga yang jelas masih kurang. Setelah kompetisi selesai, anak-anak sering bingung mau ke mana. Selain itu, masih banyak bibit di daerah yang belum terpantau untuk jenjang lebih tinggi,” kata Naftalia.
Ia berharap ke depan sistem kompetisi dan pembinaan sepak bola putri di Indonesia dapat semakin terstruktur agar pemain muda memiliki jalur perkembangan yang jelas. (pra)




