Pameran Lukisan R. Kokoh Noegroho: Menggugah Kesadaran Kebangsaan Melalui Seni
Sejak 7 September 2022, Galeri Nasional Indonesia memajang lukisan berukuran 11,75 meter x 1,39 meter yang mencuri perhatian pengunjung. Karya ini adalah bagian dari pameran tunggal R. Kokoh Noegroho yang berjudul "Solilokui". Lukisan yang berjudul "Dunia di Bawah Kawanan Gagak" ini menggambarkan perjalanan kisah di bumi, dimulai dengan adegan perang salib yang ditandai oleh gambar dua serdadu dan dua kepala kuda yang beradu.
Di tengah lukisan, terdapat wajah Gavrilo Princip, seorang nasionalis Serbia yang dikenal karena perannya dalam pembunuhan Pangeran Franz Ferdinand dari Austria-Hungaria pada tahun 1914, yang menjadi salah satu pemicu Perang Dunia I. Di bawah lukisan tersebut, Kokoh menulis kalimat provokatif "I'M NATIONALISM!!". Selanjutnya, lukisan ini menampilkan pesawat tempur kuno yang melambangkan konflik dan ketegangan, serta tiga orang dengan pakaian hazmat dan masker yang merefleksikan kondisi pandemi Covid-19.
Karya-Karya Lain yang Menggugah
Tidak hanya "Dunia di Bawah Kawanan Gagak", Kokoh juga menampilkan lukisan berjudul "Bhineka Tanpa Eka" yang dibuat pada tahun 2020. Berukuran 340 x 580 sentimeter, lukisan ini menggambarkan sebelas sosok manusia dengan ekspresi wajah yang berbeda. Beberapa dari mereka bahkan tampak memunggungi satu sama lain, mencerminkan kegelisahan Kokoh tentang kondisi kebinekaan di Indonesia saat ini. "Kebinekaan bukan lagi nilai yang bisa dibanggakan oleh warga negara Indonesia," ungkap Kokoh.
Kokoh mengamati bahwa saat ini sentimen etnis, ras, dan agama sering kali mengedepankan sikap egois dan kekerasan, membuat hubungan antarindividu semakin renggang. Dua sosok yang menggambarkan generasi milenial yang lebih memilih berinteraksi dengan gawai ketimbang orang-orang di sekitar mereka menjadi simbol dari masalah tersebut.
Karya lain yang mencuri perhatian adalah "Republik Adikuasa", yang dibuat pada tahun 2019. Dalam lukisan ini, Kokoh menggambarkan seseorang yang tinggi sedang berbicara, dikelilingi oleh kepala-kepala melayang yang menunjukkan ekspresi dingin. Menurut Kokoh, lukisan ini mencerminkan bagaimana pemimpin Indonesia terjebak dalam tekanan politik. "Selama sistem pemilihan presiden dan anggota legislatif masih didorong oleh partai politik, pemimpin kita hanya akan menjadi boneka," kritiknya.
Peran Seni dalam Menggambarkan Realitas
Kokoh menyatakan bahwa seni, termasuk lukisan, berfungsi sebagai pengingat tentang kondisi masyarakat dan zaman tertentu. "Karya seni merupakan gambaran keadaan zaman sebagai pengingat untuk masa depan tentang realitas yang terjadi," katanya.
Kurator pameran, Djuli Djatiprambudi, menambahkan bahwa pameran ini adalah bentuk kepercayaan Kokoh pada kedalaman rasa dan intuisi. Rangkaian karya yang dipamerkan menegaskan bahwa Kokoh selalu peka terhadap perubahan zaman dan berusaha mengeksplorasi ungkapan visual yang mendalam.




