NOC Indonesia Protes Kebijakan Grading Sepakbola di Asian Games 2026
Sumber Foto: tvOneNews
Olahraga

NOC Indonesia Protes Kebijakan Grading Sepakbola di Asian Games 2026

‎Jakarta, tvOnenews.com - Ketua Umum Komite Olimpiade (NOC) Indonesia, Raja Sapta Oktohari, angkat bicara terkait kebijakan terbaru dari Olympic Council of Asia (OCA) mengenai cabang olahraga sepak bola di Asian Games. Ia menyoroti adanya proses grading tanpa melalui mekanisme kualifikasi yang dinilai tidak lazim dalam ajang multievent terbesar di Asia tersebut.

‎Seperti yang diketahui, Federasi Sepak Bola Asia (AFC) dan OCA tidak lagi membebaskan setiap negara untuk ambil bagian di sepak bola Asian Games. Di edisi-edisi sebelumnya, cabor sepak bola bisa diikuti oleh setiap negara yang ingin ambil bagian.

‎Namun, mulai Asian Games 2026 di Nagoya, Jepang, peserta cabor sepak bola hanya dikhususkan bagi negara-negara yang lolos Piala Asia U-23 2026.

‎Berkaca dari hal itu, maka Timnas Indonesia tak dapat tampil di Asian Games 2026 akibat tidak lolos ke ajang Piala Asia U-23 2026.

‎Menurut Raja Sapta Okto, langkah OCA tersebut telah disikapi oleh NOC Indonesia dan bahkan sudah dilaporkan secara informal kepada Menteri Pemuda dan Olahraga. Ia menegaskan bahwa komunikasi dengan pemerintah terus dilakukan demi memastikan kepentingan Indonesia tetap terjaga.

‎"Jadi, secara informal saya juga melaporkan kepada Menpora bahwa kami, NOC, sudah menyikapi apa yang dilakukan oleh OCA (Olympic Council of Asia). Bahwa kalau sepak bola ternyata dilakukan proses grading tanpa kualifikasi, ini kan tidak biasa. Biasanya di Asian Games itu semuanya ikut," ujar Okto, Jumat (20/2/2026).

‎‎"Nah, apakah ini diambil karena ketidakmampuan Nagoya sebagai tuan rumah, itu hal lain. Tetapi, sosialisasinya harus sampai kepada kita dan itu harus fair," tambahnya.‎‎Okto menilai, dalam sejarah penyelenggaraan Asian Games, sepak bola selalu diikuti oleh seluruh negara peserta tanpa adanya sistem grading seperti yang kini diwacanakan. Karena itu, ia mempertanyakan alasan di balik kebijakan tersebut dan meminta adanya transparansi kepada seluruh National Olympic Committee (NOC) di Asia.