Menggali Perspektif Kesadaran Melalui Argumen Nagel
Sumber Foto: Kompasiana.com
Sudut Aspek

Menggali Perspektif Kesadaran Melalui Argumen Nagel

Dalam dunia filsafat, pertanyaan tentang kesadaran manusia dan pengalaman subjektif telah menjadi topik diskusi yang mendalam. Salah satu kontribusi signifikan dalam bidang ini datang dari Thomas Nagel, yang pada tahun 1974 menerbitkan artikel berjudul "What is it like to be a bat?" dalam Jurnal Philosophical Review. Dalam karya tersebut, Nagel mengekplorasi mind-body problem dan menolak pendekatan reduksionis yang mencoba menjelaskan pengalaman manusia hanya melalui sudut pandang fungsionalitas otak.

Perspektif Pertama dan Ketiga

Ilustrasi yang digunakan Nagel, yaitu pengalaman kelelawar, berfungsi sebagai alat untuk menggambarkan perbedaan antara sudut pandang orang pertama dan pengamat orang ketiga. Misalnya, jika seseorang bernama Budi mengamati Wati, bagaimana Budi dapat memahami pengalaman subjektif Wati dari sudut pandangnya sebagai pengamat? Nagel berargumen bahwa tidak semua aspek dari pengalaman manusia dapat direduksi menjadi penjelasan yang murni objektif, terutama dalam konteks neurosains.

Tiga Aspek Penting

Dalam penjelasannya, Nagel mengidentifikasi tiga aspek penting. Pertama, ada aspek perspektif orang pertama yang hanya dapat diakses oleh individu tersebut. Kedua, terdapat ketidaktahuan orang ketiga mengenai ontologi pengalaman orang pertama. Ketiga, sudut pandang orang pertama menjadi satu-satunya pengalaman yang otentik.

Kepentingan dari tiga aspek ini terletak pada upaya reduksionisme yang berusaha untuk menjelaskan pengalaman manusia secara objektif. Sains, dalam upaya ini, berupaya untuk membangun penjelasan seobjektif mungkin. Namun, menurut Nagel, reduksionisme tidak mampu mengatasi ketiga aspek tersebut dalam menjelaskan pengalaman kesadaran, seperti yang diilustrasikan oleh pertanyaan "What is it like to be a bat?".

Perbedaan Antara Manusia dan Kelelawar

Perlu dicatat bahwa Nagel tidak bermaksud untuk benar-benar menggali sudut pandang kelelawar itu sendiri, melainkan menggunakan kelelawar sebagai analogi untuk menunjukkan bagaimana pengalaman subjektif dapat berbeda secara ekstrem. Meskipun keduanya adalah mamalia, indera kelelawar, yang berbasis sonar, sangat berbeda dari pengalaman manusia. Dengan demikian, upaya untuk memahami pengalaman kelelawar dari perspektif manusia menjadi terbatas.

Reduksionisme dan Tantangannya

Jika reduksionisme dapat menjelaskan seluruh fenomena subjek manusia, seharusnya ketiga aspek yang dijelaskan Nagel juga dapat direduksi. Namun, jika tidak, maka mind-body problem mengenai kesadaran manusia tidak dapat sepenuhnya dijelaskan hanya melalui penjelasan fungsionalitas otak. Dengan demikian, reduksionisme memiliki tantangan dalam validasi epistemik dan ontologis.

Strong AI dan Hard-Problem

Dalam argumen lain, gagasan John Searle tentang Strong AI menunjukkan bahwa pemahaman perspektif orang pertama melibatkan intensionalitas. Di sisi lain, pandangan Hard-Problem yang dikemukakan oleh David Chalmers menegaskan bahwa fenomena sensasi pengalaman, atau qualia, tidak dapat direduksi menjadi penjelasan reduksionis. Fenomena ini dianggap sebagai dualitas properti berdasarkan prinsip hukum psikofisik.