LIPI Berikan Sudut Pandang Ilmiah tentang Pemindahan Ibu Kota Negara
Jakarta (ANTARA) - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) berupaya meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai rencana pemindahan Ibu Kota Negara dari DKI Jakarta dengan mengedepankan sudut pandang ilmiah. Dalam diskusi yang berlangsung di Jakarta, Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Kebumian LIPI, Zainal Arifin, menyampaikan bahwa banyak pertanyaan muncul terkait alasan pemindahan, mengingat kenyamanan yang dirasakan saat ini di Jakarta. Ia menekankan bahwa sekitar 60 persen penduduk Indonesia berada di Pulau Jawa, yang menjadi salah satu alasan penting untuk mempertimbangkan pemindahan.
Zainal juga menjelaskan bahwa banyak aspek yang harus diperhatikan dalam menentukan lokasi ibu kota baru, baik di Kalimantan maupun daerah lainnya. Menurut catatan dari Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), lokasi tersebut harus memenuhi kriteria luas lahan, posisi strategis, serta aman dari bencana alam dan sosial.
Galuh Syahbana Indraprahasta, peneliti geografi sosial dan ekonomi dari Pusat Penelitian Kebijakan dan Manajemen Iptek dan Inovasi LIPI, menekankan pentingnya pemaparan ilmiah untuk mengedukasi masyarakat mengenai rencana ini. Ia menyoroti bahwa permasalahan di Jakarta semakin kompleks, dengan isu seperti kemacetan, banjir, dan penurunan kualitas lingkungan hidup yang semakin mendesak.
Lebih lanjut, Galuh mengungkapkan bahwa Jakarta dan sekitarnya terus menjadi pusat sosial ekonomi yang dominan di Indonesia, sehingga perlu ada pemindahan untuk mengatasi permasalahan yang ada.
Kepala Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI, Eko Yulianto, menambahkan bahwa salah satu faktor penting dalam memilih lokasi ibu kota baru adalah ancaman bencana. Ia mencatat bahwa Kalimantan, sebagai pulau besar di Indonesia, memiliki tingkat keamanan lebih tinggi dari ancaman gempa dan tsunami. Namun, Eko juga memperingatkan bahwa Kalimantan tidak sepenuhnya bebas dari risiko tersebut, serta perlu diperhatikan potensi banjir dan kebakaran lahan gambut yang dapat terjadi di daerah tersebut.
Joeni Setijo Rahajoe, Plt. Kepala Pusat Penelitian Biologi LIPI, mengingatkan perlunya studi tentang ekologi gambut disampaikan kepada masyarakat agar dapat mengambil langkah antisipasi. Ia menjelaskan bahwa hutan gambut adalah ekosistem yang rentan dan harus dilindungi untuk mencegah kebakaran hutan, terutama jika ibu kota baru akan dipindahkan ke Kalimantan.
Joeni juga menekankan pentingnya pengelolaan ekosistem gambut yang berkelanjutan untuk mengurangi emisi karbon, dengan cara merehabilitasi lahan terdegradasi dan melakukan restorasi lahan gambut di sekitar lokasi yang direncanakan.
Di sisi lain, Kepala Pusat Penelitian Kependudukan LIPI, Herry Yogaswara, menegaskan bahwa masalah konflik sosial juga perlu menjadi perhatian dalam rencana pemindahan ini. Dengan berbagai aspek tersebut, diharapkan masyarakat dapat memahami dan mendukung proses pemindahan Ibu Kota Negara yang sedang direncanakan.




