Liga Inggris Berikan Jeda untuk Pemain Muslim Berbuka Puasa di Ramadan
Sepak bola Inggris kembali menghadirkan wajah humanis di tengah kerasnya kompetisi. Premier League dan English Football League memastikan akan menghentikan pertandingan sejenak selama Ramadan, demi memberi kesempatan pemain Muslim berbuka puasa tepat waktu.
Media Inggris melaporkan, sebelum setiap pertandingan akan dipastikan apakah ada pemain yang sedang berpuasa. Jika ada, laga akan dihentikan sejenak saat waktu berbuka tiba.
Laporan BBC dikutip inilah.com, Sabtu (21/2/2026), menyebutkan, jeda singkat ini dilakukan khusus agar pemain bisa berbuka puasa, tanpa mengganggu jalannya pertandingan secara signifikan.
Kebijakan tersebut bukan hal baru. Jeda serupa pertama kali terjadi pada April 2021 dalam laga antara Leicester City dan Crystal Palace.
Saat itu, pertandingan dihentikan sementara untuk memberi kesempatan kepada Wesley Fofana dan Cheikhou Kouyate berbuka puasa. Keduanya mengonsumsi cairan dan gel energi sebelum pertandingan dilanjutkan.
Mekanisme Jeda Ramadan
Liga Inggris bersama The Football Association memastikan kebijakan tersebut terus diterapkan.
Tujuannya adalah memberi kesempatan pemain maupun ofisial Muslim berbuka puasa setelah matahari terbenam.
Dalam praktiknya, jeda hanya dilakukan beberapa saat saat momen memungkinkan, seperti tendangan bebas atau lemparan ke dalam, tanpa mengganggu ritme pertandingan. Pemain cukup mengonsumsi air atau energi secukupnya sebelum laga kembali dilanjutkan.
Sebelum pertandingan dimulai, kapten tim dan wasit akan berdiskusi untuk menentukan apakah jeda diperlukan. Jika disepakati, waktu perkiraan jeda akan ditentukan sebelum kick-off.
Namun, ada aturan ketat dalam pelaksanaannya.
Pertandingan tidak akan dihentikan saat bola masih dalam permainan. Jeda hanya dilakukan saat momen yang memungkinkan, seperti tendangan gawang, tendangan bebas, atau lemparan ke dalam.
Selain itu, jeda tidak boleh digunakan untuk instruksi taktik, coaching, atau water break. Tujuannya murni untuk berbuka puasa.
Kebijakan tersebut mendapat apresiasi luas karena dinilai mampu menjaga keseimbangan antara kebutuhan spiritual dan tuntutan kompetisi elite.
Konsisten Sejak 2021
Kebijakan tersebut pertama kali disepakati pada 2021 sebagai bentuk dukungan terhadap pemain Muslim di Liga Inggris.
Momen ikonik terjadi saat laga Leicester City vs Crystal Palace dihentikan sekitar menit ke-30, memberi kesempatan pemain berbuka.
Sejak saat itu, kebijakan tersebut terus digunakan dan dinilai mampu menjaga keseimbangan antara kebutuhan ibadah dan ritme pertandingan.
Liga sepak bola kasta tertinggi di Inggris ini secara konsisten memberikan ruang bagi pemain Muslim menjalankan ibadah puasa, tanpa harus mengorbankan profesionalitas di lapangan.
Banyak Pemain Muslim Warnai Liga Inggris
Dari Aston Villa, Boubacar Kamara dan Amadou Onana menjadi andalan di lini tengah. Sedangkan Everton mengandalkan Idrissa Gana Gueye dan Iliman Ndiaye.
Di klub lain, Chelsea memiliki Wesley Fofana, sementara Crystal Palace diperkuat Ismaila Sarr.
Keberadaan para pemain Muslim ini tidak hanya memperkaya kualitas kompetisi, tetapi juga mempertegas wajah inklusif Liga Inggris. Mereka membuktikan bahwa identitas keagamaan dapat berjalan selaras dengan performa profesional di panggung sepak bola dunia.
Serta sejumlah klub lain seperti Fulham dan Nottingham Forest yang juga memiliki pemain Muslim.
Liga Inggris dan English Football League memastikan kebijakan jeda Ramadan ini akan terus diterapkan sebagai bentuk penghormatan terhadap keberagaman dan kebebasan beribadah para pemain.
Junjung Tinggi Nilai Kemanusiaan dan Toleransi
Ramadan sendiri merupakan bulan yang berfokus pada peningkatan ketakwaan, disiplin diri, dan pertumbuhan spiritual. Umat Muslim berpuasa dari fajar hingga matahari terbenam, tidak hanya menahan makan dan minum, tetapi juga menjauhi perilaku negatif.
Kebijakan tersebut menjadi simbol kuat, olahraga tidak sekadar soal menang dan kalah, tetapi juga menjunjung nilai kemanusiaan, toleransi, dan penghormatan terhadap keyakinan.
Di tengah sorotan global terhadap inklusivitas, langkah sepak bola Inggris ini menjadi contoh nyata bahwa perbedaan dapat dirangkul, bukan diabaikan.
Apalagi, semakin banyak pemain Muslim yang berkiprah di liga-liga top Inggris. Kehadiran mereka bukan hanya memperkaya kualitas permainan, tetapi juga membawa nilai-nilai disiplin, spiritualitas, dan keteguhan yang sejalan dengan semangat Ramadan.
Dengan kebijakan ini, Premier League dan English Football League tidak hanya menjaga kualitas kompetisi, tetapi juga mengirim pesan kuat ke dunia, bahwa sepak bola bisa menjadi ruang yang adil, inklusif, dan penuh penghormatan terhadap keberagaman.




