Laporan EY: Indonesia Fokus pada Fundamental dalam Adaptasi Pasar IPO 2025
Pada paruh pertama tahun 2025, pasar Penawaran Umum Perdana (IPO) di Indonesia menunjukkan tren yang sejalan dengan sentimen investor global yang cenderung berhati-hati. Meskipun terdapat antusiasme yang tinggi di awal tahun, pelaku pasar menjadi lebih selektif, sehingga banyak perusahaan yang menunda rencana untuk mencatatkan saham mereka.
Namun, beberapa IPO yang dilaksanakan pada akhir kuartal kedua, termasuk penawaran yang mengalami kelebihan permintaan di sektor infrastruktur, mata uang kripto, dan logistik, menunjukkan bahwa minat investor tetap kuat terhadap perusahaan-perusahaan yang memiliki fundamental yang solid dan strategi jangka panjang yang jelas di tengah ketidakpastian global saat ini.
Joe Lai, Pemimpin Layanan Konsultasi Akuntansi Keuangan EY Indonesia, menjelaskan, "Meskipun jumlah IPO mengalami penurunan pada paruh pertama tahun 2025 dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, terdapat peningkatan yang signifikan dalam total pendapatan, yang naik sebesar US$175,9 juta atau 70%. Paradoks ini menyoroti pergeseran fokus dari kuantitas menjadi kualitas di pasar IPO."
Lai menambahkan bahwa untuk memastikan kesuksesan di pasar IPO, Indonesia perlu mempersiapkan diri dengan matang, menerapkan tata kelola yang transparan, dan menyajikan kisah ekuitas yang menarik. Dengan penentuan posisi dan eksekusi yang tepat, perusahaan-perusahaan Indonesia, terutama yang berada di sektor yang berkembang, dapat memanfaatkan kembali kepercayaan investor. Sisa tahun 2025 menjadi waktu yang tepat bagi emiten yang telah mempersiapkan diri untuk memasuki pasar yang lebih selektif dan membuka peluang pertumbuhan berkelanjutan melalui pencatatan saham publik.
Kondisi Pasar Global
Sementara itu, pasar IPO global pada paruh pertama tahun 2025 menunjukkan ketahanan yang cukup baik, dengan 539 listing yang berhasil mengumpulkan modal sebesar US$61,4 miliar, mencatat kenaikan pendapatan sebesar 17% dibandingkan tahun sebelumnya. China kembali mendominasi pasar, menyumbang sepertiga dari seluruh pendapatan global, sementara pangsa pasar Eropa mengalami penurunan menjadi 10%.
Aktivitas IPO lintas negara mencatat rekor tertinggi pada paruh pertama tahun 2025, menyumbang 14% dari total kesepakatan global. Pola aliran geografis menunjukkan bahwa China dan Singapura muncul sebagai sumber dominan, sementara Amerika Serikat menjadi tujuan pilihan utama. Berikut adalah data IPO di beberapa negara:
- Amerika Serikat memimpin dengan 109 IPO;
- China menunjukkan pemulihan signifikan setelah mengalami penurunan pasar selama bertahun-tahun;
- Hong Kong berhasil merebut kembali posisi tertinggi dalam bursa IPO global dengan pendapatan meningkat tujuh kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya;
- Asia Tenggara mencatat total 48 IPO yang menghasilkan dana sebesar US$1,4 miliar, turun dari 66 transaksi di periode sebelumnya;
- Malaysia menjadi pasar paling aktif di Asia Tenggara dengan 27 IPO yang menghasilkan dana sebesar US$896 juta;
- Indonesia berada di urutan kedua dengan 14 transaksi yang menghasilkan dana sebesar US$428 juta;
- Thailand mencatat 5 transaksi dengan dana sebesar US$27 juta;
- Filipina dan Singapura masing-masing mencatatkan 1 IPO dengan dana sebesar US$12 juta dan US$5 juta.
Chan Yew Kiang, Pemimpin IPO ASEAN di EY, menyoroti bahwa pasar IPO di Asia Tenggara menghadapi tantangan signifikan pada paruh pertama tahun 2025, dengan penurunan tajam dalam aktivitas meskipun pendapatan tetap stabil. Indonesia mengalami dampak terbesar dari kelemahan ini, sementara Malaysia muncul sebagai pemimpin di kawasan. Ia juga mencatat bahwa kinerja pasca-IPO tidak terlalu kuat, dengan banyak listing baru diperdagangkan di bawah harga penawaran IPO mereka.
Di Eropa, sebagian besar pasar utama mengalami jeda setelah gejolak pasar pada awal April, meskipun Swedia berhasil menyumbang IPO besar. Momentum yang kuat masih terlihat di Timur Tengah, sementara India juga mempertahankan tingkat penggalangan dana yang tinggi meskipun terjadi penurunan jumlah kesepakatan.




