Komunitas Soroti Ketidaksiapan Penutupan TPA Suwung di Bali
DENPASAR, BALIPOST.com – TPA Suwung dijadwalkan akan tutup per 1 Maret 2026. Namun, pendiri komunitas lingkungan Malu Dong, Komang Sudiarta, menilai TPA Suwung untuk sementara waktu belum bisa ditutup sebelum persoalan sampah di tingkat sumber benar-benar tuntas.
Menurutnya, penutupan TPA Suwung hanya bisa dilakukan jika masyarakat dan desa-desa sudah mampu menyelesaikan persoalan sampah sejak dari hulu, mulai dari pengurangan, pemilahan, hingga pengolahan residu.
“Saya melihat dari komunitas bahwa TPA Suwung belum bisa ditutup. Dasarnya kalau masyarakat di sumbernya sudah bisa menyelesaikan sampahnya sampai tuntas. Sampai saat ini kan belum bisa, belum terbangun, belum bisa memilah, belum bisa mengurangi,” tegas Sudiarta saat ditemui disela-sela aksi bersih-bersih sampah di Pantai Mertasari, Sanur, Sabtu (21/2).
Pria yang akrab disapa Mang Bemo ini mencontohkan kondisi di sejumlah wilayah yang masih kebingungan menangani sampah. TPST dan TPS3R disebutnya belum berjalan optimal, bahkan pengelolaan residu masih belum jelas arah penanganannya.
Baca juga: Masih 3 Digit, Hari Ini Kasus COVID-19 Bali Bertambah di Atas 150 Orang
Jika tempat pembuangan ditutup tanpa kesiapan sistem, ia khawatir sampah akan menumpuk di mana-mana dan memicu praktik pembakaran liar. “Kalau TPA tutup tanpa kesiapan, itu akan jadi persoalan besar. Sampah bisa ada di mana-mana, pembakaran akan terjadi,” ujarnya.
Sudiarta menekankan bahwa persoalan sampah bukan semata tanggung jawab masyarakat, tetapi juga pemerintah. Salah satu tanggung jawab utama pemerintah, menurutnya, adalah edukasi dan sosialisasi yang konsisten. “Bangun dulu manusianya. Sebelum proses memilah dan mengurangi, manusianya harus terbangun. Kalau manusianya belum siap, masih nyaman dengan pola lama, ya sulit,” tandasnya.
Ia menilai, membangun kesadaran tidak cukup hanya lewat edukasi formal, tetapi juga melalui pembiasaan. Kegiatan rutin seperti aksi bersih-bersih dinilai efektif membentuk kepedulian. “Kalau anak-anak rutin diajak bersih-bersih, lama-lama mereka akan peduli. Mereka mulai marah kalau lihat orang buang sampah sembarangan. Itu tanda kesadaran mulai tumbuh,” ujarnya.
Baca juga: Jelang Musim Hujan, Waspadai Peningkatan DBD
Terkait rencana pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL) atau waste to energy (WtE), Sudiarta mengaku masih belum mendapat informasi jelas. Ia mempertanyakan jenis sampah apa yang akan digunakan. “Kalau di luar negeri, biasanya yang dijadikan listrik itu sampah residu. Nah, masyarakat kita sudah siap belum memilah? Ini harus jelas. Apakah semua sampah bisa dipakai, atau khusus residu?” tanyanya.
Menurutnya, tanpa sistem pemilahan yang baik, program pengolahan sampah menjadi energi listrik akan sulit berjalan efektif. Pengelolaan harus terintegrasi dari hulu ke hilir, masyarakat mampu memilah, tersedia tempat pemrosesan, serta sistem pengangkutan yang profesional.
Selama 17 tahun terakhir, Sudiarta bersama Komunitas Malu Dong aktif melakukan aksi bersih-bersih di pantai, gunung, dan desa, sekaligus memberikan edukasi kepada pelajar tentang pentingnya menjaga lingkungan.
Baca juga: Modus Upaya Penyelundupan Puluhan Tengkorak ke Belanda
Salah satu aksi digelar di Pantai Mertasari, Sabtu (21/2), dalam rangkaian Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional. Kegiatan tersebut melibatkan anak-anak sekolah dasar (SD) Negeri 11 Sanur dan mendapat dukungan dari Bank Negara Indonesia.
Dikatakan, dalam setiap kegiatan, komunitasnya tak hanya mengumpulkan sampah, tetapi juga berupaya mengolah sampah residu hasil kegiatan mereka secara mandiri.
“Saran saya, karena ini persoalan kita bersama, harus diselesaikan serius dan konsisten. Masyarakat dibangun dan diedukasi. Pemerintah siapkan tempat pengolahan dan pengangkutan yang profesional. Kalau hulu-hilir nyambung, pasti selesai. Yang sekarang ini kan belum siap semua, akhirnya sampah ada di mana-mana,” pungkasnya. (Ketut Winata/balipost)
BAGIKAN
Facebook Twitter
tweet
BERITA TERKAIT DARI PENULIS
Bali
Hadirkan Vibrasi Positif dari Bali, Dharma Santi Nyepi Nasional Digelar 17 April 2026
Bali
Usai Aksi Protes Ratusan Truk, PPLH Bali–Nusra Sebut TPA Suwung Dibuka Terbatas
Bali
Aksi Ratusan Truk Buahkan Hasil, Forkom SSB Diizinkan Buang Sampah Organik ke TPA Suwung
Bali
Protes Kebijakan Pembatasan TPA Suwung, Ini Tuntutan Aksi Forkom SSB
Bali
Status Lahan Pengganti BTID di Karangasem, BPKH Pastikan Masuk Kawasan Hutan
Bali
Protes Pembatasan di TPA Suwung, Ratusan Truk Sampah Geruduk Kantor PPLH Bali-Nusra
Bali
5 Berita Koran Bali Post Terbit Hari Ini, Kamis 16 April 2026
Bali
5 Berita Terpopuler: Dari Warga Denpasar Pilih Bawa Sampah ke Kampung hingga Lahan Pengganti Mangrove BTID
Bali
Cek Prakiraan Cuaca Bali Pada 16 April 2026




