Komunitas Jejak Dorong Kesadaran Bahaya Mikroplastik di Jawa Timur
Sumber Foto: Tempo.co
Sosial

Komunitas Jejak Dorong Kesadaran Bahaya Mikroplastik di Jawa Timur

KESADARAN tentang bahaya mikroplastik mulai digaungkan oleh akademisi maupun aktivis lingkungan di Indonesia. Salah satu kelompok aktivis lingkungan yang getol mengkampanyekan isu tersebut adalah Jaringan Generasi Z Jawa Timur Tolak Plastik Sekali Pakai (Jejak). Mereka membawa isu bahaya mikroplastik dan upaya mengurangi sampah plastik melalui edukasi, advokasi, dan aksi.

Komunitas Jejak berawal dari inisiatif salah satu relawan Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (Ecoton), Alaika Rahmatullah. Laki-laki yang akrab disapa Alex ini mengatakan bahwa sudah banyak komunitas Gen Z yang fokus pada lingkungan.

”Mereka memang punya gerakan sendiri-sendiri tapi tujuannya sama, yakni untuk mendorong kebijakan pengurangan sampah plastik,” kata Alek kepada Tempo, Rabu, 18 Februari 2026.

Alex mulai mengumpulkan tujuh komunitas peduli lingkungan yang beranggotakan Generasi Z di Jawa Timur sejak Juli 2025. Mereka terdiri dari Forum Kali Brantas, River Warrior, Grow Green, Aksi Biru, Envigreen Society, Replast GenZ, dan Ecoton. Ketujuh komunitas itu berasal dari berbagai kota/kabupaten, seperti Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Jember, dan Kediri.

Setelah berkumpul, mereka mengawali dengan aktivitas pemetaan kondisi tata kelola sampah di daerah masing-masing. “Pemetaan ini jadi penentu arah gerakan kami,” kata Alex.

Usai melakukan pemetaan, mereka mendapatkan fakta bahwa kebijakan tata kelola sampah di daerah masih berorientasi pada kebijakan lama, yakni kumpul dan buang. Kebijakan ini dinilai masih belum menyelesaikan permasalahan sampah dari hulu.

Menurut Alex, penyelesaian sampah harusnya berawal dari hulu, seperti pemilahan sampah rumah tangga dan insinerator atau alat pembakaran limbah padat dengan suhu tinggi.

Selain itu, hanya sedikit kota/kabupaten yang memiliki peraturan daerah untuk mengurangi sampah plastik, seperti Surabaya dalam bentuk Peraturan Wali Kota. “Padahal, Bali bisa bikin Peraturan Gubernur yang bisa diikuti oleh kabupaten di bawahnya,” tutur alumnus Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki) Malang itu.

Berbagai permasalahan tata kelola sampah ini berujung menjadikan Jawa Timur sebagai provinsi yang kontaminasi mikroplastiknya sangat tinggi, yakni 636 partikel per liter. Berdasarkan data tersebut, Jejak akhirnya merancang sebuah program untuk sama-sama bergerak dalam satu tahun.

Mereka mengawali dengan meneliti hujan mikroplastik di Malang pada November 2025. Kegiatan itu dipilih karena ada temuan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) soal hujan mikroplastik di Jakarta. ”Kami penasaran juga dengan kondisi hujan di kota metropolitan seperti Malang dan Surabaya. Ternyata terbukti positif,” jelas Alex.

Jejak pun meneliti air hujan yang mengandung mikroplastik di 10 kota/kabupaten Jawa Timur, antara lain Malang, Surabaya, Gresik, Lamongan, Bondowoso, Banyuwangi, Mojokerto, Kediri, Tulungagung, dan Jember.

Mereka melakukan penelitian sembari melakukan edukasi kepada masyarakat, misalnya melibatkan sekolah SD hingga SMA untuk mengambil sampel air hujan, mengadakan seminar, hingga pameran.

“Jadi kami keliling ke sepuluh kota itu. Kami mengedukasi masyarakat dengan mengurangi penggunaan plastik. Kami pun langsung paparkan konsekuensinya jika pemakaian plastik tidak bijak, seperti hujan mikroplastik ini,” ucapnya.

Tak hanya edukasi, mereka juga melakukan beberapa aksi di depan Gedung Negara Grahadi untuk tolak plastik sekali pakai. Selanjutnya, Jejak berusaha melakukan audiensi dengan pembuat kebijakan, seperti kepala daerah dan DPRD, untuk mendorong aturan soal plastik sekali pakai. ”Kami sudah beraudiensi dengan Pemkab Gresik, Pemkot Malang, dan baru-baru ini DPRD Jatim,” tandas Alex.

Selain lewat edukasi dan aksi, Jejak juga aktif mengkampanyekan isu-isu lingkungan lewat media sosial seperti Instagram dan TikTok karena media sosial dinilai efektif untuk memengaruhi sesama generasi Z.

Alex mengakui banyak sambutan dan dukungan positif dari edukasi lewat media sosial itu. Bahkan, sebagian postingannya dilihat oleh jutaan orang. Namun, tak jarang mereka mendapat komentar negatif maupun serangan buzzer. Bahkan, Alex sempat terkena ancaman saat mengunggah edukasi lewat TikTok.

”Ceritanya saya mengunggah pembakaran sampah plastik di Surabaya, lalu ada akun anonim yang membantah lewat pesan di TikTok. Bahkan dia tiba-tiba tanya posisi saya di mana?” tutur Alex.

Tak beberapa lama setelah mengunggah edukasi itu, akun TikTok milik Alex juga terkena banned dari aplikator karena dianggap mengunggah kalimat ujaran kebencian. Alex pun sempat melakukan banding sebanyak tiga kali lewat aplikasi itu, namun belum berhasil.

Sejumlah akun media sosial milik komunitas Jejak juga beberapa kali mendapat ancaman ketika mengunggah sebuah edukasi yang berawal dari aktivitas yang merugikan lingkungan. Bahkan, tak jarang akun media sosial mereka dilaporkan karena dinilai merugikan orang lain.

Kendati demikian, mereka mengaku tidak pernah putus asa karena merasa memiliki visi-misi yang sama untuk membuat lingkungan lebih baik. “Dari semua duka itu, lebih banyak sukanya karena kami dipertemukan lewat minat yang sama,” ucap Alex.

Ke depan, Jejak ingin lebih banyak menjaring komunitas pemuda di Jawa Timur dan Indonesia untuk sama-sama mengedukasi masyarakat tentang kepedulian lingkungan. Sebab, mereka tak ingin ancaman krisis iklim terjadi akibat penggunaan plastik yang tidak bijak.