Kepemimpinan Tri Rismaharini: Antara Prestasi dan Kontroversi
Sumber Foto: Yoursay.id
Sudut Aspek

Kepemimpinan Tri Rismaharini: Antara Prestasi dan Kontroversi

Pengenalan

Tri Rismaharini, yang lebih dikenal sebagai Risma, menjabat sebagai Wali Kota Surabaya dalam dua periode, yakni 2010-2015 dan 2016-2021. Sebelumnya, Risma adalah Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang pernah menduduki posisi Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan serta Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko).

Transformasi Surabaya

Di bawah kepemimpinannya, Risma berhasil mentransformasi Surabaya menjadi kota yang bersih, nyaman, dan ramah anak. Pencapaian ini terwujud berkat pengelolaan sampah yang baik dan pembangunan taman serta fasilitas publik yang mendukung kesejahteraan masyarakat.

Hingga Juli 2019, Risma telah menerima sekitar 259 penghargaan, baik individu maupun institusi, dari berbagai kalangan, baik di dalam maupun luar negeri. Pujian datang dari berbagai pihak, termasuk Presiden Turki, Recep Tayyip Erdoğan, yang menyebut Risma sebagai sosok perempuan yang inspiratif dalam forum internasional.

Kritik terhadap Kepemimpinan

Meskipun banyak prestasi, kepemimpinan Risma juga tidak luput dari kritik, terutama terkait dengan emosinya yang sering kali meledak di depan publik. Beberapa insiden yang menjadi sorotan antara lain:

  • Memarahi panitia acara Wall's Ice Cream Day pada Mei 2014.
  • Memarahi Tim IT saat sidak e-KTP pada September 2016.
  • Memarahi PNS Pemkot Surabaya yang tertawa saat apel pagi pada Oktober 2017.
  • Insiden terkait mobil PCR dalam penanganan Covid-19 pada Mei 2020.

Pada insiden terakhir, Risma menunjukkan kemarahan setelah bantuan mobil PCR dari BNPB batal beroperasi di Kota Surabaya dan beralih ke Kabupaten Tulungagung. Kejadian ini memicu saling klaim antara Pemkot Surabaya dan Pemprov Jawa Timur mengenai siapa yang lebih dulu meminta bantuan, yang dianggap banyak pihak sebagai bagian dari rivalitas politik.

Kemampuan Berkomunikasi

Beberapa analis menilai bahwa kemarahan Risma tidak selalu efektif dalam menyelesaikan masalah. Emosi yang berlebihan sering kali malah mengundang masalah baru. Menurut Yukl (2013), kepemimpinan adalah tentang mempengaruhi orang lain untuk mencapai tujuan bersama. Dalam konteks ini, Risma sering mengandalkan kekuasaan formal untuk mempengaruhi pegawainya.

Dalam wawancara dengan Rosi Silalahi pada Februari 2020, Risma mengakui bahwa kemarahannya merupakan respons terhadap pegawai yang sulit diatur, dengan tujuan agar masalah dapat diselesaikan dengan cepat. Namun, pendekatan ini tidak selalu sejalan dengan prinsip kepemimpinan yang etis dan bijaksana.

Etika dalam Kepemimpinan

Dalam konteks etika kepemimpinan, Gini dalam Yukl (2013) menjelaskan bahwa penting bagi pemimpin untuk menggunakan kekuasaannya dengan baik. Etika kepemimpinan mencakup nilai-nilai seperti integritas, altruisme, dan keadilan. Risma perlu mempertimbangkan perilakunya karena sebagai pemimpin, ia menjadi teladan bagi masyarakat.

Meskipun kemarahan dapat dianggap sebagai bentuk komunikasi yang terbuka, pemimpin harus berhati-hati agar tidak merendahkan orang lain dan tetap memfasilitasi pengembangan pegawai.

Kepemimpinan Melayani

Di balik karakter emosionalnya, Risma menggambarkan gaya kepemimpinan yang melayani, yang dikenal sebagai servant leadership. Ini terlihat dari komitmennya untuk memperhatikan kebutuhan masyarakat dan mendengarkan aspirasi mereka secara langsung.

Risma sering turun langsung ke lapangan untuk memastikan layanan publik berjalan dengan baik, seperti saat pembersihan saluran air saat banjir atau mengatur lalu lintas saat macet. Tindakan ini menunjukkan komitmennya terhadap komunikasi dan koordinasi antar dinas demi kepentingan masyarakat.

Meskipun ada yang menganggap tindakan tersebut sebagai pencitraan, hal ini menunjukkan bahwa seorang pemimpin tidak dapat memuaskan semua pihak. Sebagai penutup, kepemimpinan Risma adalah gambaran kompleks antara prestasi dan tantangan yang dihadapi dalam upaya melayani masyarakat.