Inspire Indonesia: Sepak Bola Sebagai Sarana Kesetaraan Gender dan Pencegahan Kekerasan
Aspek News - *Peringatan pemicu: Pelecehan dan kekerasan seksual pada anak.
Remaja dan anak-anak dari tim futsal rumah susun Marunda berlari di lapangan Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran Jakarta, Cilincing, Jakarta Utara, (7/1) pagi. Sepatu basah dan kaos putih yang dipenuhi bercak lumpur, tak membuat semangat mereka kendor.
Sebagian peserta tampak menggiring bola. Sebagian yang lain mengadang pembawa bola sambil menjaga keseimbangan agar tak oleng. Tak jauh dari situ, kelompok lain berlatih mengoper bola dengan pola tertentu.
Mereka kompak mengikuti coaching clinic yang diselenggarakan Inspire Indonesia. Berdasarkan pantauan Magdalene, satu lapangan dibagi menjadi empat pos latihan. Aktivitas berhenti ketika peluit panjang dibunyikan pelatih.
Anak-anak lantas berkumpul membentuk lingkaran. Materi latihan bergeser dari teknik sepak bola ke diskusi seputar kekerasan seksual.
Chief Program Officer Inspire Indonesia, Hein Hoekstra bilang, sesi tersebut dibagi ke dalam empat pos: S, T, O, dan P.
S adalah statistik. Di pos ini, anak-anak belajar tentang angka kekerasan terhadap perempuan di Indonesia. Pos T atau truth berisi penjelasan tentang realitas kekerasan dan pelecehan seksual. Misalnya, pelecehan seksual tidak terjadi karena baju korban, tetapi pelaku yang gagal menahan diri.
“O itu orang lain, jadi mereka diajarkan tentang empati. Empati kepada korban supaya tidak mege- judge mereka. Setelah semuanya, di pos P atau pencegahan, mereka akan dijelaskan cara mencegah pelecehan seksual,” ucap Hein kepada Magdalene.
Kekerasan dan Pelecehan di masa Remaja
Seusai setiap anak mendapatkan pelatihan di empat pos, mereka berkumpul di tribun untuk membagikan pelajaran yang didapat dan pengalaman. Tiga peserta bercerita kepada Magdalene, mereka pernah mendapatkan atau menyaksikan pelecehan dan kekerasan di lingkungannya.
“Asha” (bukan nama sebenarnya), 17 bercerita, di sekolahnya, murid perempuan sering menyentuh dada satu sama lain untuk bercanda. Ia juga pernah mendapat perlakuan tersebut dan merasa tak nyaman. Setelah mengikuti pelatihan, dia bilang akan melawan jika mendapatkan perlakukan seperti itu lagi.
“Kalau itu terjadi lagi padaku pasti aku akan marah banget sih. Aku melihat aku akan tegur, karena kan enggak semua orang tahu dan nyaman sama bercandaan semacam itu,” ungkapnya.
Masih di lingkungan sekolah, “Narto” (bukan nama sebenarnya), 17 pun menyaksikan pelecehan seksual yang dilakukan, baik oleh siswa maupun guru. Siswa laki-laki kerap kali melakukan cat calling. Di sisi lain, ia bahkan pernah melaporkan guru yang melakukan kekerasan seksual kepada bimbingan konseling.
“Biar gurunya dapat efek jera dan enggak ngelakuin kayak gitu lagi. Abis itu, teman perempuan saya yang dilecehkan saya ajak ngobrol, dia cerita ke saya, kayak gitu,” tutur Narto.
Kekerasan dan pelecehan pun tak hanya terjadi di sekolah. Kejadian ini menimpa “Nina” (bukan nama sebenarnya), 16 di rumah sendiri. Kakak laki-laki gemar memukuli dirinya tanpa alasan. Di sisi lain, sang ayah gemar membatasi ruang geraknya. Ia sering dimarahi ketika pulang latihan futsal malam hari.
Baca juga: Perempuan Dilarang Suka Sepak Bola dan Musik Keras
“Saya dilempar air dari botol, diomel-omelin, dibentak. Terus saya juga lihat, ini di sekolahan, saya juga kena, jadi ada guru olahraga yang ngelecehin anak muridnya, ada 10 orang lebih, dibilangnya mau dibeliin skincare gitu-gitu, ” ucap Nina.
Pelatih tim futsal rumah susun Marunda, Keren Hellery mengatakan lingkungan yang penuh dengan kekerasan memang jasi alasan ia sepakar bekerja sama dengan Inspire Indonesia. Tugasnya secara khusus menyelenggarakan coaching clinic ini. Maka, di tengah kerasnya lingkungan, Keren berharap anak-anak, baik laki-laki maupun perempuan, mau bekerja sama menciptakan ruang aman.
“Kekerasan di Jakarta lumayan tinggi, apalagi di Jakarta Utara terkenal dengan kekerasannya dan premanisme dan lain sebagainya,” jelasnya. “Seperti hari ini mereka kerja sama untuk bermain bola, harapannya di luar lapangan mereka juga mau bekerja-sama untuk mewujudkan kesetaraan gender di lingkungan mereka,” lanjut Keren.
Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) mencatat, terdapat 35.533 laporan kekerasan terhadap perempuan, sepanjang 2024. Ini meningkat 2,4 persen dibanding tahun sebelumnya. Jawa Barat, Jawa Timur, dan Daerah Khusus Jakarta menjadi wilayah dengan kasus tertinggi.
Langkah Awal
Kerentanan perempuan sebagai korban, mendorong Inspire Indonesia mengadakan coaching clinic dengan tema menghentikan kekerasan dan pelecehan. Hein, sebagai pelatih mendapat banyak cerita pelecehan yang menimpa anggotanya. Misalnya, Ia mendengar salah satu pemain, mengalami pelecehan seksual di angkot saat pulang dari latihan.
Ini menyadarkan Inspire, yang anggotanya kebanyakan laki-laki, untuk membuat program bernama Pledge United. Program ini bertujuan untuk mengedukasi laki-laki tentang kekerasan dan pelecehan seksual. “Membuat mereka jadi agen perubahan di lingkungan masing-masing, hingga akhirnya perempuan bisa hidup di lingkungan yang lebih nyaman dan aman,” kata Hein.
Menyadari tingginya kasus kekerasan berbasis gender (KBG), Inspire Indonesia kemudian mengembangkan pendekatan yang lebih sistematis melalui program Breaking Barriers, Building Future yang didanai Kedutaan Besar Inggris. Program ini menggabungkan kurikulum kekerasan berbasis gender (GBV) dengan klinik sepak bola, dan telah dijalankan di enam kota, dari Bandung, Jakarta, Lombok, Lampung, Manado, hingga Medan. Menyasar remaja usia 13–17 tahun, kurikulumnya mencakup peningkatan kesadaran, pemahaman tentang bentuk-bentuk KBG, hingga dorongan menjadi agen perubahan, termasuk sesi dialog lintas gender serta komitmen “Pledge2Respect”.
Acara ini, kata Hein, bisa menjadi langkah awal untuk mengedukasi. Dia menjelaskan, kesetaraan gender bukan hal yang bisa dicapai secara instan, melainkan butuh membentuk kebiasaan baru di lingkungan. Namun, ia tetap percaya materi-materi yang diberikan bisa menggerakan sebagian peserta menjadi agen perubahan.
“Tapi siapa tahu, ada satu atau dua laki-laki yang berubah melalui coaching clinic ini, yang menjadi benar-benar agen perubahan. Karena mereka menyaksikan itu dan berpikir tidak bisa melakukan apapun,” ucap Hein.
“Hari ini mereka belajar bahwa mereka tidak bisa berdiam diri, bahwa mereka bisa menegur teman-teman yang melakukan pelecehan atau kekerasan seksual, bahwa mereka bisa membawa perubahan,” tambahnya.




