I.League Edukasi Mahasiswa UIN Surabaya tentang Peluang Karir di Industri Sepak Bola
TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - I.League, operator kompetisi Super League mendorong mahasiswa untuk melihat sepak bola bukan hanya sekadar hiburan, tetapi juga sebagai industri besar yang membuka banyak peluang kerja.
Hal ini disampaikan Hanif Marjuni, Manager Corporate Share Value (CSV) I.League, dalam acara BRI Goes to Campus di Auditorium Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya, Rabu (18/2/2026).
Program BRI Goes to Campus ini menyasar kampus-kampus yang berada di kota peserta Liga 1.
Sebelumnya, kegiatan serupa telah berlangsung di Universitas Negeri Padang, UGM, dan Universitas Negeri Malang.
Setelah di Surabaya, agenda selanjutnya akan berlangsung di Bali dan Jakarta.
Hanif menjelaskan, tujuan utama kegiatan ini memberi pemahaman pada mahasiswa bahwa sepak bola telah berkembang menjadi industri yang bernilai besar.
"Dibalik angka industri itu ada banyak peluang kerja yang bisa mereka tekuni untuk karier di masa mendatang,” kata Hanif Marjuni.
Ia menyebut, berdasarkan riset BRI Riset Institute pada musim 2025, nilai industri Liga 1 mencapai Rp10,4 triliun dalam satu musim. Angka itu belum termasuk kompetisi lainnya yang ada di Indonesia.
“Banyak yang kaget ketika tahu angkanya sebesar itu. Padahal itu baru Liga 1, belum keseluruhan industri sepak bola nasional,” tambahnya.
Menerima fakta mengejutkan bagi mereka. Mahasiswa yang hadir sangat antusias.
Antusiasme mahasiswa terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan, termasuk soal peluang karier sebagai analis data di sepak bola.
Hanif menilai, selama ini masih banyak mahasiswa yang belum mengetahui luasnya profesi di industri sepak bola.
Padahal Ia menegaskan, mahasiswa merupakan bagian dari stakeholder sepak bola.
Mereka bukan hanya suporter atau penonton setia, tetapi juga memiliki potensi untuk terlibat langsung sebagai profesional di dalamnya.
“Selama ini mungkin belum banyak yang tahu bahwa sepak bola adalah industri global yang membutuhkan banyak tenaga profesional,” terang Hanif Marjuni.




