Harga RAM DDR5 Melonjak Akibat Krisis Chip dan Permintaan AI
Biaya merakit komputer kini melonjak tajam setelah harga unit memori (RAM) DDR5 berkapasitas 64 GB menembus angka USD1.000 atau setara Rp16 juta. Berdasarkan data PCPartPicker, lonjakan harga ini telah melampaui banderol laptop baru kelas entry-level seperti MacBook Air.
Kenaikan harga yang drastis ini tercatat sangat cepat. Sebagai perbandingan, pada Agustus 2025, paket RAM yang sama masih bisa diboyong dengan harga di bawah Rp4 juta. Namun, dalam kurun waktu enam bulan saja, terjadi lonjakan harga hingga 300 persen. Sebagian besar kenaikan tersebut, yakni sekitar 50 persen, justru terjadi secara vertikal hanya dalam satu bulan terakhir.
Fenomena yang disebut sebagai 'cipflasi' ini berakar dari ketidakseimbangan antara suplai dan permintaan global. Laporan dari Vietnam's Finance menyebutkan bahwa saat ini sektor Kecerdasan Buatan (AI) menyerap sekitar 53 persen dari total kapasitas produksi DRAM dunia setiap bulannya.
Kondisi ini memaksa produsen memori besar seperti Samsung, SK Hynix, dan Micron untuk memprioritaskan memori khusus server AI yang memiliki margin keuntungan lebih tinggi. Imbasnya, jalur produksi memori untuk segmen konsumen dialihkan atau dikurangi secara signifikan.
Di pasar domestik, tren serupa juga ditemukan. Pantauan di kawasan ITC Kuningan, Jakarta, menunjukkan ketidakstabilan harga yang ekstrem. Salah satu pedagang mengungkapkan bahwa dalam satu minggu, harga bisa berubah hingga 3-4 kali. "Sebulan naik Rp400 ribu, Rp600 ribu, akhirnya jadi 100 persen bisa Rp1 jutaan," ujarnya. Saat ini, varian DDR5 32GB bahkan sudah menyentuh kisaran Rp7-8 juta.
Dampak Meluas dan Proyeksi Pasar
Tingginya harga dan kelangkaan barang memicu dampak sosial baru. Modul RAM kini menjadi target aksi kriminalitas di berbagai tempat, mulai dari toko ritel, gudang penyimpanan, hingga sistem pengembalian barang. Selain itu, biaya produksi perangkat elektronik dari perusahaan besar seperti Qualcomm dan Nintendo turut tertekan oleh situasi ini.
Meskipun ada laporan dari ZOL.com yang menunjukkan sedikit penurunan permintaan pada varian 32GB dan 64GB, harga diprediksi tidak akan kembali ke level normal dalam waktu dekat. CEO Framework Computer memproyeksikan bahwa ketidakstabilan pasokan chip memori ini masih akan berlanjut hingga akhir 2027 atau 2028, mengingat kapasitas produksi yang belum mampu mengejar masifnya permintaan pasar korporat dan AI.




