Fakta Deforestasi: Sawit Bukan Penyebab Utama
Sumber Foto: Kantor Berita Sawit
Internasional

Fakta Deforestasi: Sawit Bukan Penyebab Utama

Aspek News - Jakarta, SAWIT INDONESIA – Isu bahwa kelapa sawit adalah penyebab utama deforestasi global telah lama menjadi narasi dominan dalam kampanye internasional. Namun, jika kita membaca data resmi lembaga dunia seperti FAO, European Commission, hingga Global Forest Watch, tudingan tersebut tidak sepenuhnya akurat. Faktanya, sawit bukan penyebab utama deforestasi global.

Deforestasi Global Sudah Terjadi Jauh Sebelum Sawit Berkembang

Laporan FAO – Global Forest Resources Assessment (FRA) menunjukkan bahwa puncak kehilangan hutan global terjadi jauh sebelum ekspansi sawit modern¹.

Pada periode 1990–2000, dunia kehilangan sekitar 17,6 juta hektare hutan per tahun¹. Bahkan secara historis, deforestasi besar-besaran telah terjadi di Amerika Utara dan Eropa sejak abad ke-17 untuk pembangunan pertanian dan industri².

Baca juga: Mendag Ungkap Aturan Ekspor CPO Lewat Danantara Segera Rampung

Artinya, deforestasi global adalah fenomena panjang lintas benua — bukan fenomena yang dimulai oleh sawit Asia Tenggara.

Pertanian Umum dan Peternakan Adalah Penyebab Terbesar

FAO menegaskan bahwa hampir 90% deforestasi global disebabkan oleh ekspansi pertanian³.

Namun, penting dicatat: yang paling dominan adalah peternakan sapi (cattle ranching) dan tanaman pangan skala besar seperti kedelai³ ⁴.

Berdasarkan kajian Komisi Eropa (1990–2008)⁴:

Peternakan sapi: ±24%

Sereal: ±8%

Kedelai: ±6%

Kelapa sawit: hanya ±2–5%

Baca juga: CPO Menguat Mengikuti Lonjakan Tajam Harga Minyak Mentah

Artinya, kontribusi sawit secara global jauh lebih kecil dibanding peternakan dan kedelai.

Jika sawit disebut penyebab utama deforestasi global, maka secara logika dan data, sektor peternakan justru jauh lebih besar dampaknya.

Paling Efisien Menggunakan Lahan

Sering diabaikan bahwa sawit adalah tanaman penghasil minyak nabati paling produktif di dunia.

Menurut data Oilr World in Data⁵:

Sawit menghasilkan ±3–4 ton minyak per hektare

Kedelai hanya sekitar 0,4 ton per hektare

Bunga matahari ±0,7 ton per hektare

Baca juga: Apkasindo Sumut: Harga Sawit Anjlok, Kementan Seharusnya Mitigasi Dampaknya Kepada Petani

Artinya, jika dunia mengganti sawit dengan minyak nabati lain, maka kebutuhan lahannya bisa meningkat hingga 5–8 kali lipat⁵.

Dengan kata lain, mengganti sawit justru berpotensi meningkatkan tekanan terhadap hutan global.

Deforestasi Sawit Menurun

Pemantauan Global Forest Watch menunjukkan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, kehilangan hutan primer tropis lebih banyak dipicu oleh kebakaran dan faktor iklim ekstrem, bukan semata ekspansi komoditas⁶.

Di Indonesia sendiri, angka deforestasi tahunan menunjukkan tren menurun dalam beberapa tahun terakhir menurut laporan resmi pemerintah dan data satelit independen⁷.

1 2 3