Erick Thohir Tegaskan Tidak Terlibat dalam Pengaduan FIFA soal Malaysia
MENTERI Pemuda dan Olahraga Erick Thohir membantah tuduhan bahwa dirinya menjadi orang yang melaporkan ke FIFA soal kasus pemain naturalisasi tim nasional Malaysia. "Itu tidak benar," kata Erick, kepada wartawan di gedung Kemenpora, Senayan, Jakarta, Jumat, 20 Februari 2026.
Media itu mengklaim, berdasarkan sumber anonim dari Amerika Latin yang dekat dengan FIFA, Erick memerintahkan orang suruhan mengumpulkan dokumen dan mengajukan aduan secara tidak langsung melalui Vietnam.
"Dia (Erick Thohir) suruh dan hantar orang buat aduan sambil cari dan hantar dokumen kepada orang dalam FIFA secara indirect," tulis MyNewsHub. "Vietnam buat complain, tetapi dokumen adalah dari orang upahan Erick Thohir."
Disebutkan bahwa motif di balik laporan itu lantaran Indonesia khawatir dengan kebangkitan timnas Malaysia dan pengaruh tokoh seperti Tunku Ismail (TMJ) di sepak bola Malaysia. Tuduhan ini disebut sebagai "baling batu sembunyi tangan" atau melempar batu sembunyi tangan.
Erick, yang juga Ketua Umum Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI), mengatakan tidak akan ikut campur kemajuan sepak bola negara lain. Indonesia, kata dia, membutuhkan persaingan yang sehat dengan negara-negara di Asia Tenggara dan negara di Asia. "Jadi saya mohon maaf, kelasnya enggak di situ," katanya.
Erick menjelaskan, justru ia terus mendorong supaya persaingan antara negara di Asia Tenggara dan Asia terus meningkat. Sehingga Indonesia juga ikut menaikkan level sepak bola di Tanah Air. "Kalau sepak bola kita tidak meningkat, ya tentu kita akan terus kalah dari Eropa atau Amerika Latin," tutur dia.
Ia juga berharap negara-negara Asia dapat berperan lebih besar di masa depan. "Kita lihat nanti apakah negara-negara Asia sendiri di pertandingan ke depan sendiri sudah membangun peran yang lebih besar,"
Kasus ini berawal dari skandal pemalsuan dokumen naturalisasi tujuh pemain asing yang bermain untuk Harimau Malaya—julukan timnas Malaysia. Hasil penyelidikan FIFA menyatakan Federasi Sepak Bola Malaysia atau FAM menggunakan dokumen palsu, seperti sertifikat kelahiran kakek atau nenek yang diubah untuk membuktikan garis keturunan para pemain tersebut.




