Dugaan Genosida RSF Terhadap Komunitas Non-Arab di Darfur
Berdasarkan Laporan Tim Investigasi Independen di Bawah PBB
Share on Facebook Share on Twitter Whatsapp Telegram Line
EL-FASHER, LIRANEWS.COM | Tim pencari fakta independen di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengungkap dugaan genosida yang dilakukan pasukan paramiliter Rapid Support Forces (RSF) terhadap komunitas non-Arab di Darfur, Sudan.
Tim investigasi Independen itu membuat laporan khusus yang dirilis Kamis, 19 Februari 2026. Mereka menyatakan serangan massal di kota El-Fasher memiliki karakteristik genosida.
Tim ahli menyatakan RSF, yang tengah berperang melawan militer Sudan, melakukan pembunuhan massal dan berbagai kekejaman setelah pengepungan selama sekitar 18 bulan.
Related Posts
RSU Annisa dan Federasi Lomenik PT Indonesia Wacoal Bangun Sinkronisasi Layanan Kesehatan Anggota
Kontroversi Kuota Komodo, Sultan: Pembatasan Wisatawan Belum Saatnya
Hasil Survei Temuan LSI Terkesan Kontradiksi
RSF merupakan kelompok paramiliter yang berasal dari milisi Janjaweed, yang sebelumnya juga dituduh terlibat dalam kekerasan massal di Darfur pada awal 2000-an.
Adapun serangan yang mereka lakukan kali ini secara khusus menargetkan komunitas non-Arab, terutama etnis Zaghawa dan Fur.
Dikutip dari France 24, Jumat, 20 Februari 2026, data PBB menunjukkan penaklukan El-Fasher oleh RSF pada akhir Oktober 2024 menyebabkan ribuan warga sipil tewas. Dari sekitar 260.000 penduduk kota, hanya sekitar 40 persen yang dilaporkan berhasil melarikan diri.
Kantor Hak Asasi Manusia PBB mencatat lebih dari 6.000 orang tewas dalam tiga hari, antara 25 hingga 27 Oktober 2024. Sebelum memasuki pusat kota, RSF juga dilaporkan menyerang kamp pengungsi Abu Shouk dan menewaskan sedikitnya 300 orang dalam dua hari.
Berdasarkan Konvensi Genosida 1948, terdapat lima kriteria untuk menetapkan suatu tindakan sebagai genosida.
Tim pencari fakta menyimpulkan RSF memenuhi sedikitnya tiga kriteria, termasuk pembunuhan anggota kelompok etnis tertentu, menyebabkan penderitaan fisik dan mental serius, serta menciptakan kondisi yang dapat menghancurkan kelompok tersebut secara fisik.
Ketua tim investigasi, Mohamed Chande Othman, mengatakan operasi RSF menunjukkan pola terencana, bukan sekadar dampak acak konflik bersenjata.
Laporan tersebut juga mendokumentasikan pernyataan yang menunjukkan adanya penargetan terhadap kelompok etnis non-Arab.
Menteri Luar Negeri Inggris Yvette Cooper menyebut temuan itu sebagai sesuatu yang sangat mengkhawatirkan dan menyatakan akan membawanya ke Dewan Keamanan PBB.
Yvette juga mendesak perhatian internasional yang lebih besar terhadap krisis kemanusiaan di Sudan.
Konflik Sudan yang pecah sejak April 2023 antara militer dan RSF telah menewaskan lebih dari 40.000 orang, menurut PBB. Organisasi kemanusiaan memperkirakan jumlah korban sebenarnya bisa lebih tinggi.
Tags: Darfur genosida Komunitas Non-Arab Paramiliter RSF Sudan
Related Posts
NASIONAL
RSU Annisa dan Federasi Lomenik PT Indonesia Wacoal Bangun Sinkronisasi Layanan Kesehatan Anggota
Editor Liranews
Senin, 13 April 2026
BOGOR, LIRANEWS.COM | RSU Annisa menggelar pertemuan strategis dengan pengurus Serikat Pekerja Federasi Lomenik PT Indonesia Wacoal di Bogor, Jawa...
Read moreDetails
NASIONAL
Kontroversi Kuota Komodo, Sultan: Pembatasan Wisatawan Belum Saatnya
M. Husnie
Senin, 13 April 2026
JAKARTA, LIRANEWS.COM | Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Sultan Baktiar Najamudin turut menyoroti Penerapan pembatasan kunjungan ke Taman Nasional Komodo...
Read moreDetails
OPINI
Hasil Survei Temuan LSI Terkesan Kontradiksi
Ronald Siahaan
Senin, 13 April 2026
Oleh: Jamiluddin Ritonga | Pengamat Komunikasi Politik Universitas Esa Unggul dan mantan Dekan Fikom IISIP Jakarta Ada dua temuan Lembaga...
Read moreDetails
Leave Comment




