Drama Sepak Bola: Refleksi Kehidupan dalam Setiap Pertandingan
Sumber Foto: SuaraBaru.id
Olahraga

Drama Sepak Bola: Refleksi Kehidupan dalam Setiap Pertandingan

Oleh: Amir Machmud NS

// … bukankah sepak bola/ adalah kehidupan/ tak sekadar bagian dari hidup/ bahkan dia adalah kehidupan itu sendiri//

(Sajak “Drama Sepak Bola”, 2026)

KETIKA bola yang ditanduk Anatoly Trubin mengoyak jala gawang Thibaut Courtois, Stadion Da Luz di Lisbon pun bagai menyala, gegap gempita menyambut keunggulan 4-2 Benfica atas tamunya, Real Madrid dalam partai menentukan Liga Champions.

Sungguh di luar perkiraan. Inilah drama tak terlupakan 29 Januari lalu. Kiper asal Ukraina itu mengikuti instruksi pelatih Jose Mourinho untuk naik membantu serangan pada detik-detik akhir pertarungan. Dengan memanfaatkan badan yang menjulang, 1,99 meter, lompatannya menyambut tendangan bebas Fredrik Aursnes memberi hasil maksimal.

Benfica lolos ke play off, sekaligus memaksa Madrid melewati proses yang sama, tidak bisa melaju langsung. Sepak bola dunia menilai momen di Estadio Da Luz itu sebagai buah kejelian taktik Mourinho, lalu memuji timing Trubin dalam drama luar biasa di pengujung laga.

Sebelumnya, pada 21 Januari, drama berbeda “dipentaskan” oleh Kylian Mbappe dan kawan-kawan di Stadion King Abdullah Sport City, Jeddah. Dengan gestur membangkang, dia melarang rekan-rekannya untuk mengikuti perintah pelatih Xabi Alonso memberi penghormatan kepada Barcelona yang baru saja memenangi El Clasico final Piala Super Spanyol. Mbappe memprovokasi teman-temannya masuk ke ruang ganti.

Ada hubungannya atau tidak, tak lama kemudian Alonso diberhentikan oleh manajemen Madrid ketika kontraknya masih tersisa dua tahun. Terjadi dishamoni di ruang ganti antara Alonso dengan sejumlah pemain.

Drama berikutnya terpanggungkan di Stadion Pangeran Moulay Abdellah, Rabat. Senegal membutuhkan sikap dan bujukan bintangnya, Sadio Mane untuk membatalkan pemogokan dalam final sarat emosi melawan tuan rumah Maroko. Para pemain Singa Teranga marah, merasa diperlakukan tidak adil oleh wasit yang memberi penalti karena sebuah kemelut di depan gawang mereka. Pelatih Pape Thiaw menginstruksikan pemainnya untuk meninggalkan lapangan. Sekitar 15 menit pertandingan terhenti.

Drama pun terjadi. Pama pemain Senegal kembali ke lapangan, tetap bermain berkat persuasi Sadio Mane. Penalti “Panenka” Brahim Diaz gagal, dan final pun harus diakhiri dengan perpanjangan waktu. Senegal akhirnya menang 1-0.

Masih banyak drama lain. Yang patut pula dicatat adalah penolakan pemain Arsenal, Gabriel Magalhaes menerima uluran jabat tangan Harry Maguire seusai laga Liga Primer yang dimenangi Manchester United 3-2 di Stadion Emirates. Entah apa pemicunya, rekaman video yang viral memperlihatkan gestur emosional Gabriel, dan wajah Maguire yang kebingungan. Adegan tersebut belakangan memicu reaksi netizen yang mengecam Gabriel.

Kemasan Mediatika

Aneka drama dalam sepak bola muncul dan viral tak lepas dari sentuhan sajian media. Terjadi pembentukan realitas pada momen apa pun yang berdaya tarik, dengan narasi, gambar, fokus, dan kecenderungan arah pemberitaan dari sudut pandang medianya. Dalam hal demikian, media mainstream dan media sosial punya andil dan peran yang tak berbeda.

Tanpa campur tangan framing media, boleh jadi kejadian apa pun yang muncul dari lapangan bola atau sudut-sudut stadion akan berlalu sebagai hal yang rutin dan tidak penting. Daya tarik akan tergantung pada cara pengemasan dan sudut pandangnya. Maka lahirlah “realitas-realitas” drama dari berbagai sisi pertandingan sepak bola.

Kita bisa memberi bobot perhatian kepada momen gol Trubin ke gawang Real Madrid sebagai sesuatu yang “tidak biasa” dan istimewa, karena dia adalah seorang kiper. Ada beberapa kiper dengan reputasi sebagai pencetak gol, namun Trubin muncul mendunia pada saat krisis: ketika tim sekelas Madrid masih mempertaruhkan nasib dalam perburuan kelolosan di Liga Champions. Maka apa yang dilakukan punya makna eksepsional: gol di pengujung pertandingan dengan proses yang penuh kalkulasi, mungkin pula spekulasi.

Peristiwa Kylian Mbappe yang membangkang perintah pelatih dalam penyerahan trofi untuk pemenang Piala Super Spanyol menorehkan drama manusia dalam konflik ego yang terekspresi sebagai pilihan sikap. Di dalamnya termaktub luapan kekecewaan, kemarahan, dan kebencian karena pemenang final tersebut adalah sang lawan klasik, Barcelona. Drama di Jeddah itu juga melukiskan dinamika perselisihan manusia dari sisi hati dan rasa yang seharusnya berada dalam satu sistem manajemen. Semua bermuara pada satu kata: ketidakcocokan.

Semua yang tersaji sebagai bagian yang menyelip dalam kegembitaan sepak bola adalah realitas bahwa olahraga ini benar-benar seperti kehidupan dan pertaruhannya. Ada perjuangan, kenyataan, impian, keterpurukan, kebanggaan, kebahagiaan, kepedihan, sorak sorai, dan kesenyapan.

Rasa dan hati manusia terungkap dalam lipatan bab demi bab tentang sepak bola, dan bukankah itu adalah dinamika kehidupan? Insiden Senegal di final Piala Afrika, momen ketidakrespekan antara Gabriel Magalhaes dan Harry Maguire juga ada di wilayah itu. Mungkin pula momen-momen dramatik lainnya, yang makin menegaskan betapa sepak bola adalah refleksi dari kehidupan manusia itu sendiri.

Media membutuhkan sepak bola sebagai bagian dari keniscayaan menampilkan “faktor pembeda”. Sepak bola, sebaliknya, membutuhkan media sebagai kanvas yang akan menjadi medium penilaian tentang merah-hijau kehidupan, hitam-putih persoalan.

Sepanjang bola masih bergulir, dan stadion-stadion bertabur semarak sorak-sorai pemuja olahraga ini, drama manusia dan kehidupan pun akan terus bergerak. Bukankah ini adalah dinamika? Bukankah ini adalah juga magnetnya?

— Amir Machmud NS, wartawan Suarabaru.Id —

TOPIK

arsenal

Gabriel Magalhaes

Harry Maguire

Jabat Tangan

Manchester United

penolakan

stadion

suarabaru.id

Bagikan

Artikel sebelumnya Fakultas Ekonomi USM Gelar Acara Pelepasan Calon Wisudawan dan Wisudawati

Artikel selanjutnya Wabup Klaten Meninggal Dunia, Ketua Gerindra Jateng Mengenangnya sebagai Pemimpin Muda Berintegritas

Artikel terkait DARI PENULIS

12 Perusahaan Langgar Ketentuan Pengunaan TKA, Kemnaker Jatuhkan Denda Rp 4,482 Miliar

SIG Kirim 36.000 Bata Interlock untuk Bangun Hunian Tetap Korban Bencana di Padang

Menag RI Datangi KPK Jelaskan Kunjungan Kerja ke Sulsel