Diskusi Penerapan Pilar ESG di INFEST 2024: Dua Perspektif Berbeda
Sumber Foto: Institut Teknologi Bandung
Sudut Aspek

Diskusi Penerapan Pilar ESG di INFEST 2024: Dua Perspektif Berbeda

INFEST 2024 Angkat Tema ESG

Dalam ajang INFEST 2024, salah satu sesi menarik yang dibahas adalah mengenai penerapan pilar Environmental, Social, and Governance (ESG) dalam dunia bisnis. Sesi yang bertajuk “Tech and ESG Companies: Unveiling Tomorrow’s Market Leader” ini menghadirkan dua narasumber dengan perspektif yang berbeda, yaitu Poppy Irmasari, Department Head of ESG Management PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, dan Eri Kusnadi, Direktur Batavia Prosperindo Aset Manajemen.

Pilar ESG Menurut Poppy Irmasari

Poppy Irmasari menjelaskan tentang tiga pilar ESG yang menjadi landasan penting bagi perusahaan-perusahaan saat ini. Pertama, pilar Environmental yang mencerminkan upaya perusahaan dalam menjaga dan menerapkan aspek lingkungan. Kedua, pilar Social yang menekankan pentingnya perusahaan dalam menjaga hak-hak karyawan dan konsumen. Terakhir, pilar Governance yang menunjukkan perlunya perusahaan untuk mematuhi dan memonitor berbagai peraturan yang mengatur ESG.

Menurut Poppy, saat ini terdapat tren yang semakin berkembang dalam penerapan ESG di Indonesia. Banyak perusahaan yang mulai berfokus pada transisi menuju net zero emission dan mempercepat penggunaan energi terbarukan. Ia juga menyoroti peran pemerintah yang mengeluarkan berbagai peraturan untuk mendorong penerapan ESG di seluruh sektor.

Beliau mengungkapkan perjalanan pengembangan ESG di BNI yang sudah dimulai sejak tahun 2017. “Saya lebih suka menyebutnya sebuah journey karena bagi kami ESG ini membentuk berbagai kultur baru,” ungkapnya.

Pandangan Eri Kusnadi tentang Investasi dan ESG

Sementara itu, Eri Kusnadi memberikan perspektif dari sisi investasi. Ia menekankan pentingnya memilih instrumen investasi yang baik, di mana perusahaan yang telah menerapkan ESG dapat menjadi pilihan yang lebih menarik. Penerapan ESG, menurutnya, mencerminkan bagaimana tata kelola perusahaan tersebut.

Eri juga menekankan bahwa ESG berkaitan erat dengan pembangunan berkelanjutan. Ia menyebutkan bahwa jika kondisi yang dirasakan saat ini sangat berbeda dibandingkan 30 tahun lalu, maka pembangunannya tidak berkelanjutan. Menurutnya, perusahaan memiliki tanggung jawab besar dalam hal ini, karena mereka adalah pengguna sumber daya yang signifikan dan penyebab polusi terbesar.

Keterlibatan Semua Perusahaan dalam Penerapan ESG

Dalam penerapan pilar-pilar ESG, Eri menegaskan bahwa semua perusahaan, tidak hanya yang berhubungan langsung dengan lingkungan, perlu terlibat. Sebagai contoh, bank dapat menyediakan layanan mobile banking untuk mengurangi penggunaan kertas, yang merupakan langkah konkret dalam mendukung pilar Environmental.

Diskusi Panel dan Kesimpulan

Sesi ini ditutup dengan diskusi panel di mana kedua narasumber sepakat bahwa meskipun penerapan ESG memerlukan investasi awal yang cukup besar, manfaat jangka panjangnya akan menghasilkan kredibilitas yang lebih tinggi bagi perusahaan. Mereka juga menekankan bahwa ESG bukan sekadar tren, tetapi sebuah kebutuhan yang akan menjadi standar di masa mendatang untuk meminimalkan risiko.

“Sebagai investor, kita memiliki kekuatan untuk mendorong perusahaan menerapkan ESG semaksimal mungkin. Baik perusahaan maupun investor harus terlibat dalam penerapan ESG ini,” tutup Eri.