Cincin Pertunangan Taylor Swift dan Tren Berlian Besar di Kalangan Selebritas
Sumber Foto: Kompas.id
Hiburan

Cincin Pertunangan Taylor Swift dan Tren Berlian Besar di Kalangan Selebritas

Sejak tahun 1940-an, cincin berlian menjadi tren untuk cincin pernikahan.

Oleh Elsa Emiria Leba

01 Sep 2025 17:00 WIB · Internasional

Pada 26 Agustus 2025, penyanyi Amerika Serikat, Taylor Swift, mengumumkan pertunangannya dengan atlet Travis Kelce. Cincinnya sontak menarik perhatian. Mengapa para pesohor terobsesi dengan cincin berberlian yang besar?

Cincin Swift adalah berlian dengan gaya cushion-cut atau persegi panjang dengan sudut membulat. Batu itu bertakhta di atas cincin emas kuning. Dengan tampilan antik minimalis, cincin itu diperkirakan memiliki berat antara 7 sampai 10 karat.

Kabarnya, cincin dengan harga 250.000-500.000 dollar AS itu dirancang oleh Kelce bersama ahli perhiasan Kindred Lubeck di New York. Lubeck terkenal sebagai pembuat perhiasan ukiran tangan dengan batu permata alami.

”Travis Kelce bukan orang yang datang begitu saja ke toko dan berkata, ’Saya mau berlian terbesar’. Sebab, berlian itu salah satu batu terlangka yang bisa Anda dapatkan,” kata Garret Weldon, Presiden Asosiasi Pedagang Barang Antik Irlandia kepada CNN edisi Kamis (28/8/2025).

Weldon menjelaskan, batu cincin Swift kemungkinan berasal dari abad ke-18 atau awal abad ke-19. Pada masa itu, mekanisasi proses penambangan masih sangat minim. Orang mesti menunggu agar alam mengikis batu itu ke permukaan tanah, seperti tanah longsor atau cara alami lainnya.

”Hal itu membuat batu tersebut langka, tidak biasa, dan istimewa,” kata Weldon.

Sejarawan perhiasan di New York, Marion Fasel, menjelaskan, keindahan berlian Swift bisa terlihat dari pantulan cahaya dan susunan faset (bidang permukaan berlian yang dipotong). Meskipun berlian cincin itu besar, cahayanya lembut sehingga terkesan romantis.

”Cincin pertunangan adalah simbol pribadi terakhir antara pasangan dan ikatan pernikahan. Tidak seperti perhiasan untuk karpet merah, di mana setiap detailnya terikat pada merek, cincin Taylor Swift terasa personal—nyata,” ucap Fasel menurut The New York Times.

Semakin besar

Swift menambah deretan selebritas papan atas dengan tren cincin pertunangan berukuran besar. Cincinnya sepuluh kali lipat lebih berat dari cincin pertunangan Charli XCX. Namun, ukurannya masih dalam batas toleransi.

”Ukurannya sangat nyaman dipakai. Tidak lebih lebar dari jarinya, tidak menyentuh buku jari,” kata Weldon.

Cincin pertunangan berlian mulai menjadi tren di AS pada 1940-an. Perusahaan berlian De Beers terkenal dengan slogannya pada 1947; diamonds are forever.

Saat ini, melamar dengan cincin berlian sudah menjadi tradisi dari institusi pernikahan di Negara Paman Sam. Menurut perencana pernikahan The Knot, rata-rata cincin pertunangan berukuran sekitar 1 sampai 1,7 karat di AS.

Belakangan, ukuran cincin para pesohor semakin menjadi-jadi agar istimewa. Publik sampai tergelitik untuk mengkritik. Agustus lalu, cincin Georgina Rodriguez dari bintang sepak bola Cristiano Ronaldo membuat heboh karena diperkirakan memiliki berat 25-35 karat. Saking besarnya, cincin itu sampai menutupi separuh buku jari Georgina.

Cincin pertunangan Lauren Sanchez seberat 30 karat dengan miliarder Jeff Bezos ikut menarik perhatian pada 2023. Jika dilihat jauh ke belakang, aktris Elizabeth Taylor juga pernah punya cincin berlian 33,19 karat pada 1968.

”Batu-batu besar selalu melambangkan status, romansa, dan kemewahan. Sebelumnya, hanya para raja yang mampu membeli permata yang sangat besar,” tutur Charlie Boyd, editor perhiasan di Harper’s Bazaar Arabia.

Namun, Boyd melanjutkan, lanskap ekonomi di era modern telah berubah. Jumlah taipan, ahli teknologi, dan selebritas di Silicon Valley yang mampu membeli benda berharga itu terus bertambah.

Ekspektasi berlebihan

Bagi Boyd, berlian-berlian raksasa menjadi tren juga gara-gara media sosial, termasuk Instagram. Maraknya ”foto cincin” menciptakan ekspektasi yang menyimpang tentang ukuran permata.

”Ritual lamaran di masyarakat kita telah berubah drastis karena media sosial. Sangat jarang sekarang pasangan yang bertunangan tidak mengunggah foto cincin di berbagai platform,” kata Boyd.

Boyd menyebut tren batu besar dengan istilah flash-first aesthetic alias estetika yang mencolok. Cincin didesain dengan pita logam yang tipis dan minimalis. Desain ini akan membuat cahaya lebih banyak masuk ke batu sehingga batu terkesan besar.

Di samping itu, kemajuan teknologi telah membuat pengukiran berlian besar lebih mudah ketimbang seabad lalu. Para ahli perhiasan tidak lagi hanya memotong berlian kasar dengan tangan.

”Sekarang, jika seorang ahli perhiasan atau ahli berlian (diamantaire) mendapatkan berlian kasar yang besar, mereka bisa menilai batu itu secara digital. Anda dapat memotong batu tersebut untuk menghasilkan ukuran terbesar,” tutur Boyd.

Weldon menilai, tren cincin berlian besar tidak mengutamakan seni atau kemewahan. ”Hanya ada sedikit cara untuk memajang batu yang sangat besar dengan aman dan elegan dalam konteks cincin,” tuturnya.

Cincin dengan batu besar juga kerap membuat tidak nyaman atau mengundang bahaya. Akibatnya, orang lebih sering menyimpannya di rumah daripada memakainya setiap hari.

Namun, ada pula orang yang bisa beradaptasi. Boyd menyebut fenomena tersebut sebagai sindrom penyusutan berlian. ”Semakin kita memakai cincin itu, semakin kita terbiasa. Tiba-tiba, cincin itu tidak terasa besar lagi,” kata Boyd.

Taylor Swift Cincin berlian travis kelce Batu berlian berlian pertunangan pernikahan berlian besar Gaya hidup

Kerabat Kerja

Penulis:

Elsa Emiria Leba

|

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H

|

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra