Aspek Lingkungan dan Keterlibatan Pemangku Kepentingan dalam Wacana PLTN di Bangka Belitung
PANGKALPINANG – Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Bangka Belitung harus dilihat dari berbagai aspek, bukan hanya dari sudut pandang teknologi dan kebutuhan energi. Hal ini disampaikan oleh Dr. Ahmad Nahwani, ST., MT, dalam sebuah Diskusi Publik yang bertajuk "Memahami Rencana PLTN di Bangka Belitung: Diskusi Data dan Fakta" yang berlangsung di Aston Emidary Bangka Hotel dan Conference Center pada Sabtu, 7 Februari 2026.
Pergeseran Regulasi Menuju Strategi Energi Nasional
Dalam diskusinya, Ahmad Nahwani menjelaskan bahwa saat ini, energi nuklir mulai mendapatkan perhatian yang lebih dalam perencanaan jangka panjang Indonesia. Ia menyoroti adanya perubahan signifikan dalam regulasi yang berkaitan dengan penggunaan energi nuklir.
"Secara regulasi, Indonesia sudah memasuki fase yang lebih terbuka terhadap nuklir. Namun, regulasi saja tidak cukup; kesiapan nasional secara menyeluruh juga sangat penting," ungkap Ahmad di hadapan peserta diskusi.
Tiga Tantangan Utama Kesiapan Nasional
Ahmad Nahwani merinci bahwa terdapat 19 aspek kesiapan nasional menurut standar internasional yang harus dipenuhi sebelum pembangunan PLTN dilakukan. Dia mengidentifikasi tiga aspek krusial yang Indonesia masih perlu persiapkan.
"Keterlibatan pemangku kepentingan adalah tantangan yang paling dinamis dan sensitif, karena berkaitan langsung dengan opini publik, persepsi risiko, serta tingkat penerimaan masyarakat terhadap proyek ini," jelasnya.
Pentingnya Transparansi dan Dialog dengan Masyarakat
Ahmad Nahwani, yang merupakan putra daerah asal Belinyu, Kabupaten Bangka, menekankan bahwa Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) tidak seharusnya menjadi dokumen formalitas semata. Analisis tersebut harus mencerminkan kondisi ekosistem dan kehidupan masyarakat setempat dengan lebih akurat.
"Indonesia memerlukan strategi komunikasi publik yang lebih masif, transparan, dan berkelanjutan. Transparansi adalah kunci; masyarakat harus diajak berpartisipasi sejak awal, bukan hanya diberikan informasi satu arah. Dialog, bukan monolog, adalah pendekatan yang harus diambil," tegasnya.




